Menlu AS Sebut Diplomasi Korut Berlanjut Sampai “Bom Pertama Jatuh”

SWARNANEWSMenteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson menegaskan, Presiden Donald Trump ingin menyelesaikan konfrontasi dengan Korea Utara melalui jalur diplomasi.

“Upaya diplomatik itu akan berlanjut sampai ‘bom pertama jatuh’,” kata dia dalam wawancara dengan CNN.

Kombinasi sanksi dan diplomasi, kata Tillerson, telah membuat adanya persatuan internasional -yang sebelumnya tidak pernah ada, dalam menghadapi program nuklir Korea Utara.

Bulan lalu, Trump mengatakan kepada Tillerson agar tidak membuang-buang waktu melakukan perundingan dengan rezim Kim Jong-un.

Dalam Minggu (15/10/2017) ini, Tillerson kembali menolak memberi komentar tentang apakah dia pernah menyebut Presiden Trump sebagai ‘pandir’.

“Saya tidak mau berurusan dengan urusan kecil seperti itu,” jawabnya.

Dia mengaku tidak akan “menghargai” pertanyaan semacam itu dengan “jawaban”.

Mengapa Korut mengembangkan senjata nuklir?

Dalam beberapa bulan belakangan, Korea Utara menentang tekanan internasional dengan melaksanakan enam uji coba nuklir, dan meluncurkan dua rudal yang melewati ruang angkasa Jepang.

Para pengamat berpendapat, negara komunis yang tertutup itu sedang mengembangkan rudal yang mampu membawa hulu ledak nuklir, dan bisa mencapai daratan AS, walau sedang mendapat sanksi PBB.

Akhir bulan lalu, Tillerson mengungkapkan bahwa AS sedang menjalin kontak langsung dengan Korea Utara dan mengupayakan kemungkinan perundingan.

Setelah AS dan Korut saling melancarkan retorika permusuhan selama beberapa waktu, berita tentang kontak langsung tersebut mengejutkan banyak pihak.

Namun keesokan harinya, Presiden Trump menulis pesan di Twitter, “simpan energimu Rex, kita harus menempuh yang harus dilakukan.”

Tillerson kemudian menggelar konferensi pers pada 4 Oktober lalu untuk menyatakan bahwa dia tidak pernah berniat mengundurkan diri dari kabinet pemerintahan Trump.

Namun, dia pun tidak membantah bahwa dia pernah menyebut Trump sebagai ‘pandir’ dalam sebuah rapat di Pentagon pada Bulan Juli.

Presiden Trump menanggapinya dengan menantang menteri luar negerinya untuk mengukur tingkat IQ-nya.

Belakangan, seorang juru bicara Gedung Putih belakangan mengatakan bahwa komentar itu merupakan candaan.

 

 

Red      : Sarono SP

Source : BBC Indonesia

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait