Pasar 16 Semerawut dan Kotor

SWARNANEWS.CO.ID PALEMBANG – Jelang Asian Games 2018 yang tinggal 9 bulan lagi, Pasar 16 Ilir rupanya belum berbenah. Kondisi pasar tersebut kotor, sumpek dan dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL). Mereka memenuhi bagian depan, samping hingga belakang pasar.
Tak hanya itu, hampir di setiap lantainya terdapat lapak pedagang yang dibuat di depan kios dalam pasar. Akibatnya, porsi jalan bagi pengunjung hanya menyisakan ruang sekitar 0,5 meter.
Namun, lapak pedagang di dalam pasar hanya berada di lantai dasar, 1 dan 2. Semakin naik tingkat, jumlah lapak dagangan semakin sepi. Bahkan, di lantai 5 bangunan pasar hanya diisi oleh pedagang pakaian bekas. Sementara untuk lantai 3 dan 4, diisi oleh pedagang tas, sepatu dan aksesori.
Menurut sejumlah pedagang, gambaran kondisi Pasar 16 tersebut sudah terjadi bertahun-tahun. Bahkan, untuk di lantai 4 dan 5 kondisi atap kerap bocor sehingga mengganggu aktivitas pedagang. “Paling galak kami tutupi terpal bae. Antisipasi kalau hujan,” ujar salah seorang pedagang pakaian bekas yang enggan menyebutkan namanya saat dibincangi, kemarin.
Ia mengaku, meski kondisi pasar buruk dan tak terurus, namun dirinya tetap mau berjualan. Sebab, dirinya tidak ada lapak dagangan lain selain di Pasar 16 Ilir. Lapak dagangannya itu pun didapat setelah menebus dengan sejumlah uang dari pedagang sebelumnya. “Saya dapat lapak ini sulit. Makanya, saya tetap berjualan disini. Walaupun jarang ada pembeli sampai ke lantai lima, tapi lumayanlah untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Salah seorang pedagang aksesori yang berjualan di lantai 3 menambahkan, setiap hari dirinya dipungut uang sebesar Rp7 ribu. Uang itu merupakan retribusi pasar yang dipungut pengelola. “Setiap hari jualan dipungut Rp7 ribu. Katanya untuk retribusi, uang keamanan dan kebersihan. Tapi yang kami keluhkan, masih banyak sampah yang berserakan,” ucapnya.
Tak hanya pedagang yang memiliki kos di dalam pasar, pedagang basah yang berjualan di depan bangunan Pasar 16 Ilir dan pinggir jalan pun dimintai retribusi. “Kami kan bayar setiap hari dek nak jualan di sini. Tiap hari kami dimintai jugo duit Rp7 ribu. Kadang kalo lagi sepi atau hari hujan, galak kami kasih Rp5 ribu,” ungkap Wati, salah seorang pedagang sayuran yang menggelar lapak di pinggir Jl Lorong Basah.
Penarikan retribusi pasar yang dikelola PD Pasar Palembang Jaya diprediksi tak mencapai target. Dari target Rp1,5 miliar untuk 19 pasar tradisional, serapan retribusi sekitar 50 persen. Hal ini diakui Asnawi P Ratu, Direktur Utama (Dirut) PD Pasar Palembang Jaya, kemarin.
Menurut Asnawi, ada kendala sehingga retribusi tak tercapai target. Seperti kelebihan pegawai sekitar 40 persen sehingga pengeluaran gaji juga cukup besar. “Yang paling berpengaruh yakni BOT Pasar 16 Ilir dan Pasar Kuto yang dikelola PT Ganda Tahta Prima (GTP),” ujarnya, kemarin.
Dia menerangkan, retribusi yang dapat diambil dari Pasar 16 Ilir harusnya berkisar Rp300-Rp400 juta per bulan. Namun sejak BOT, setoran retribusi yang masuk Rp95 juta per bulan. Sedangkan Pasar Kuto, penarikan retribusi keseluruhan Rp100 juta per bulan, tapi yang disetorkan hanya Rp25 juta. “Berkurangnya penarikan retribusi dari kedua pasar ini cukup berpengaruh. Apalagi Pasar 16 Ilir yang paling besar memberikan retribusi,” katanya. Karena itu, PD Pasar akan mengambil alih kembali pengelolaan kedua pasar ini. Sayangnya, PT GTP meminta dana kompensasi sebesar Rp10 miliar.
Menurut dia, PD Pasar Palembang Jaya tidak mendapatkan subsidi dari anggaran APBD, menyebabkan kesulitan untuk membayar kompensasi. ‘Tapi, tahun depan Pasar 16 Ilir harus kami kelola,” tegasnya. Dari 19 pasar tradisional yang dikelola PD Pasar, penarikan retribusi sebesar Rp5 ribu per pedagang. Untuk PKL, lanjut Asnawi, PD Pasar tidak menarik retribusi. “Jadi itu pungutan liar,” tegasnya.
Selain itu, PD Pasar juga berencana melakukan revitalisasi terhadap Pasar Lemabang dan Kebun Semai. “Kita menargetkan seluruh pasar di Palembang direvitalisasi pada 2019. Kita ingin menjadikan pasar di Palembang bersih dan nyaman bagi masyarakat serta pedagang,” jelasnya.
Saat ini, ada 9.880 pedagang di pasar milik pemerintah dan swasta yang aktif berkoordinasi dengan PD Pasar. “Tahun ini kita sudah menyelesaikan Pasar Soak Bato di Kelurahan 26 Ilir, Pasar 10 Ulu, dan Pasar Talang Kelapa, untuk Pasar Kamboja dalam tahap renovasi sudah mencapai 45 persen,” terangnya.
Sementara itu, Wali Kota Palembang Harnojoyo berharap, revitalisasi pasar dan pembenahan pasar dapat dilakukan PD Pasar Palembang Jaya. Sebab perdagangan merupakan kunci kemajuan Kota Palembang. “Kita ini bukan kota penghasil hasil bumi. Jadi pendapatan kita dari sektor perdagangan dan jasa, pasar adalah salah satu kunci meningkatkan sektor perdagangan, jika pasarnya baik, maka kesejahteraan pedagang juga akan baik,” tandasnya.

Sumber : sumeks.co.id

Editor : Reni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *