Air PDAM Tak Mengalir, Warga Lubuklinggau Terpaksa Ambil Air Sungai Mesat

SWARNANEWS.CO.ID, Lubuklinggau Warga Rt, 05 sampai Rt, 10 Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II mengalami keris air bersih.

Pasalnya layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bukit Sulap yang selama ini menjadi tumpuan mereka tak mengalir sejak enam bulan terakhir.

Akibatnya aktivitas warga seperti mandi, mencuci dan memasak terganggu. ‎Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga di empat Rt tersebut terpaksa mengambil air dari tepian sungai Mesat. Yang jaraknya lebih kurang 500 meter.

Menurut Lensiana (49), warga yang tinggal di Rt, 05 mengatakan mereka memanfaatkan mata air tepian sungai Mesat sejak aliran PDAM tak mengalir diwilayah mereka enam bulan terakhir.

“Kalau ngambil mata air ini sudah lama, sejak aliran PDAM mati total, kalau tidak salah sudah enam bulan terakhir,” ungkapnya pada wartawan, Senin (5/2).

Lensiana bercerita mereka mengambil air menggunakan derigen berukuran 5 liter dan 10 liter serta beberapa botol Aqua dengan cara digendong menggunakan keranjang rotan setiap hari.

“Dalam sehari kalau saya mengambil air sebanyak dua kali. Lebih kurang 50 liter, Itu cukup untuk dua hari, terutama untuk minum, masak dan mandi pagi anak-anak kesekolah,” ujar Lensiana.

Sementara untuk mencuci dan mandi sehari-sehari Lensiana dan warga lainnya memanfaatkan aliran sungai mesat. Ia pun mengaku kadang lelah setiap hari bolak-balik hanya untuk mengambil air dan mandi di sungai Mesat.

Namun tidak ada jalan lain. Selain itulah yang bisa mereka lakukan. Pasalnya ia dan warga lainnya sudah pernah mengusulkan dengan ketua Rt tempat tinggal mereka, namun selalu tidak ada jawaban pasti.

Bahkan mereka pernah membuat sumur, namun hingga kedalaman 15 meter air belum juga keluar. “Saya tinggal disini sudah delapan tahun, pernah buat sumur disamping rumah tapi tidak keluar air. Ujung-ujungnya ditutup kembali dijadikan kamar,” katanya.

Untuk itu, mereka berharap
kepada pemerintah kota Lubuklinggau untuk dibuatkan sumur bor. Supaya mereka tidak krisis air terus. “Kalau disini istilahnya air lebih berharga dari nyawa manusia, saking sulitnya air,” ungkapnya.

editor : Sarono ps

sumber : tribunsumsel.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *