Bertahan Hidup Ditengah Kemiskinan di Rumah yang Hanya Beratap Trepal

10 Februari 2018 2:06 am,

SWARNANEWS.CO.ID, Lubuklinggau | Hidup dalam jeratan kemiskinan membuat Heri (40), bersama istrinya Yeni (40), dan anak tirinya Leni (20), harus tinggal disebuah gubuk reot.

Mereka tinggal satu atap di sebuah gubuk dengan ukuran 1,5 X 2 meter di Jalan Cereme Dalam, Rt, 07 Kelurahan Cereme Taba, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, kota Lubuklinggau.

Gubuk reot yang mereka tempati saat ini hanya beratapkan terpal dan berdindingkan bambu. Tidak ada sekat pembatas dalam gubuk itu layaknya sebuah tempat tinggal pada umumnya. Yang ada hanya sebuah ruangan tanpa sekat pembatas. Tempat mereka bertiga berlindung dari panasnya teriknya matahari dan hujan.
Heri mengaku sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh serabutan bersama istrinya. Namun apabila tak ada pekerjaan sama sekali mereka bekerja sebagai pencari sayur-sayuran disawah tak jauh dari tempat tinggal mereka.

“Kebanyakan disawah nyari kangkung, dan genjer lalu dijual keliling. Hasilnya kadang dapat Rp 20 ribu, kadang juga Rp 30 ribu cukuplah untuk makan sehari,” kata Heri pada awak media, Jumat (9/2/2018).

BACA JUGA  Lemari Es Sharp Paling Laku di Palembang

Namun apabila tak ada yang bisa di jual dan tak ada uang untuk membeli beras. Heri dan keluarganya terpaksa hanya memakan singkong rebus yang mereka tanam disamping gubuknya.

“Kalau sayur lagi tidak ada. Jadilah makan singkong untuk ganjal perut, dari pada maksa nak makan yang lain. Terus berbuat yang idak-idak lebih baik itu,” ucapnya.

Ketika ditanya alasan Heri mengapa sampai tinggal di gubuk reot itu.

Heri mengatakan tak ada pilihan lain. Ia bercerita gubuk yang ia tempati saat ini baru mereka tinggali enam bulan terakhir.

Sebelumnya, ia mengaku pernah merantau sampai ke daerah Riau dan bekerja sebagai buruh sawit. Namun karena tak ada kejelasan nasib akhirnya mereka sekeluarga memutuskan kembali lagi ke kota kelahirannya Lubuklinggau.

Sepulang dari Riau Ia dan keluarganya pernah tinggal di di wilayah Talang Bandung. Namun baru tiga bulan mereka tinggal di tempat itu, tempat tersebut digusur.

BACA JUGA  PDAM Berencana Melakukan Penyesuaian Tarif untuk Pasang Sambungan Langganan Baru

“Disini cuma numpang tinggal. Kebetulan kemarin sehabis pindah disuruh mak tinggal disini bangun gubuk, juga numpang tanah orang lain. Dari pada ngontrak tidak punya uang sama sekali,” ujarnya.

Ditengah kemiskinan itu juga, rupanya Heri dan keluarganya tidak mempunyai dokumen kependudukan yang jelas.

Ketika ditanya identitas diri Heri mengaku tidak mempunyai Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Kartu Keluarga (KK) kalau mereka adalah warga kota Lubuklinggau.

Heri beralasan tidak mempunyai KK maupun KTP karena mereka selalu hidup berpindah-pindah.

“Kemarin ada KK sama KTP, tapi karena pindah-pindah akhirnya, dokumen kependudukan itu hilang, lupa nyimpan,” katanya.

Bukan itu saja, nampaknya kemiskinan itu membuat tubuh Heri terserang penyakit gatal-gatal.

Bahkan terlihat kaki dan tangannya terlihat membengkak karena tidak di obati.

“Makmano nak berobat lagi makan bae susah, ini gatal-gatal karena gigit nyamuk. Digaruk terus akhirnya makin parah,” ucapnya.

 

editor : Sarono ps

sumber : tribunsumsel.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait