PPDB SMP Sistem Zonasi, Orangtua Banyak yang Bingung

SWARNANEWS.CO.ID, Palembang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP memang mengalami perubahan pada tahun pelajaran 2018/2019 ini. Jika selama ini sistem PPDB tingkat SMP melalui tes tertulis maka tahun ini sistem tersebut tidak berlaku. Kabid SMP Disdik Kota Palembang, Herman Wijaya mengatakan PPDB yang berlaku di tahun ini yakni berdasarkan zonasi.

“Jadi siswa yang rumahnya dekat dari sekolah maka diutamakan untuk diterima di sekolah tersebut,” ujarnya, Selasa (29/5).

Kata Herman, siswa yang lokasi rumahnya dekat dengan sekolah maka diprioritaskan untuk diterima oleh sekolah dengan melampirkan berbagai persyaratan.

Di antaranya yakni membawa foto print atau hasil cetak google maps sebagai bukti bahwa lokasi rumah dengan sekolah memang dekat.

“Salah satunya melampirkan foto print google maps. Karena dari google maps kan bisa diketahui berapa jaraknya apalagi zaman sekarang sudah canggih,” ujarnya.

Tak hanya itu, kartu keluarga juga dilampirkan untuk sebagai bukti kuat alamat rumah siswa yang bersangkutan.

“Kartu keluarga juga sebagai syarat pentingnya sebagai bukti yang tertulis alamat bagi calon siswa,” beber dia.

Selain berdasarkan letak rumah, umur juga mempengaruhi dalam PPDB ini.

“Setelah lihat lokasi rumah kedua yakni umur. Jika ada yang umur 15 tahun diprioritaskan juga untuk diterima dan setelahnya barulah melihat nilai,” ungkap Herman.

Untuk siswa berprestasi yakni kuota setiap sekolah hanya 5 persen dan sisanya yakni sistem zonasi.

“Untuk lintas rayon bisa jika siswa tersebut memiliki prestasi tingkat kota, provinsi dan memiliki bakat dibidang akademik lainnya seperti atlet,” bebernya.

Herman mengatakan untuk PPDB sendiri dimulai 4 hingga 9 Juni mendatang dan pengumuman akan dilakukan pada 28 Juni.

“Untuk kegiatan belajar mengajar yang aktif sendiri mulai 16 Juli dan sebelumnya peserta didik baru ini mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah terlebih dahulu,” ungkapnya.

Untuk jumlah kuota, kata Herman dibatasi yakni setiap rombel hanya menerima 32 siswa saja.

“Berapa banyak rombelnya sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut,” pungkas dia. (rie)

Ortu Bingung Jarak Rumah ke Sekolah SRI Susilawati, ibu rumah tangga mengaku bingung dengan sistem PPDB yang berlaku tahun ini. Sri mengatakan ia masih mencari informasi tentang berapa jarak dari rumahnya dengan sekolah untuk sang anak yang dituju.

“Jujur kalau mau pakai google maps saya tidak mengerti. Hape android saja kami tak punya apalagi mau mengerti google maps,” ujarnya, Selasa (29/5).

Ia mengaku belum tahu kalau syarat masuk PPDB salah satunya untuk mengkopi google maps.

“Setahu saya cuma KK tapi kalau mau pakai google maps kami tidak mengerti,” kata dia.

Dikatakan Sri, ia masih mencari informasi terkait PPDB sistem zonasi ini. Karena menurutnya, sistem zonasi ini walaupun menguntungkan yang dekat tapi masih saja sedikit ribet.

“Kalau jarak berapa pasti kami belum tahu infonya. Yang kami tahu tapi belum pasti sih minimal jaraknya satu kilometer,” ungkapnya.

Namun, ia merasa ragu kalau dengan sistem zonasi ini karena nilai sang anak termasuk cukup tinggi.

“Kalau dulu pakai tes kan enak, kalau sekarang zonasi jarak rumah kami lebih dari satu kilometer,” tegas dia.

Sri hanya berharap anaknya bisa masuk dengan sistem zonasi ini. “Kalau berharap dari jarak radius satu kilometer saya agak ragu tapi kalau ada penilaian dengan nilai saya sedikit optimis,” ungkapnya.

Ia meminta sistem zonasi ini benar-benar dapat diterapkan dengan baik. Apalagi kalau rayon SD hanya ada satu SMP pastinya peluang sangat kecil.

“Kalau dari SD anak saya cuma satu rayon ke SMP negeri. Nah belum lagi SMP itu pasti banyak dari SD lainnya,” tegasnya.

editor : Sarono ps

sumber : tribunsumsel.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *