Debu Batubara Menutup ‘Asa’ Warga Selat Punai

Sudah Menahun, Ancam Aktifitas dan Kesehatan Warga

Siapa yang tidak tahu dengan efek debu batubara. Selain sifatnya sangat beracun merusak paru-paru, juga fungsi panca indra lain seperti iritasi mata dan kulit. Kondisi inilah terjadi dengan warga Selat Punai sejak 6 tahun terakhir, merupakan wilayah terpencil pinggiran Sungai Musi bersebelahan dengan Kecamatan Pulo Kerto Gandus Palembang. Hampir semua harapan ‘asa’ kehidupan mereka hilang lantaran hal ini, baik sisi kesehatan hingga pencaharian sebagai nelayan terganggu.

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Penelusuran tim Swarnanews ke lokasi Selat Punai (19/10) seakan memberi sinar terang bagi warga setempat berjumlah lebih kurang 70 Kepala Keluarga (KK) atau lebih kurang 100 orang penghuni, lantaran sudah lama memendam kekesalan dengan aktifitas loading batubara yang menerbangkan debu debu tak terkira jumlahnya oleh salah satu perusahaan stock file batubara tak jauh dari letaknya dari Selat Punai.

Sebut saja Qori (60) mengaku sangat senang dengan kunjungan Swarnanews di desanya yang terletak di pinggiran sungai dan harus menyeberang dengan perahu ketek untuk bisa sampai ke desa Selat Punai ini, tempat Qori bersama penduduk lain tinggal sejak puluhan tahun lalu.

Kegembiraan Qori dan warga lain tak hanya diungkapkan dengan sambutan hangat, tapi juga luapan cerita menarik keluar begitu saja dari ruang-ruang celah kedua bibirnya yang sudah mulai keriput sebagai tanda usianya mulai menua.

Tanpa basa basi pria yang berprofesi sebagai nelayan sekaligus petani ini mengungkapkan, kondisi Selat Punai berubah total sejak 6 tahun terakhir, sejak beroperasinya perusahaan baru kata Qori bernama Rantai Mulia Kencana (RMK), tepat terletak di seberang sungai berhadapan langsung dengan wilayah Selat Punai hanya berjarak tidak lebih dari 1 kilometer.

Debu Batubara beterbangan dibawa angin.

Keberdaan PT. RMK sebagai perusahaan bergerak di bidang stock file-loading angkutan batubara diangkut ke kapal kapal tongkang ponton bermuatan sekitar 7.500 ton untuk sekali angkut ini, melakukan aktifitasnya hampir 24 jam tanpa henti ini, membuat dirinya dan warga Selat Punai sedih sekaligus kecewa. Sebab efek dari aktifitas loading batubara sudah digiling dan diangkat untuk diangkut di kapal kapal tongkang besar menyebabkan debu pun ikut terbang hingga seperti kepulan asap hitam.

Debu ini menurut cerita warga Selat Punai, terbang tinggi dibawa angin menyeberang sungai hingga sampai ke Desa Selat Punai, menerpa ratusan warga baik anak anak maupun orang dewasa, binatang, pohon dan rumah rumah yang ada di Selat Punai merupakan lokasi paling dekat dengan aktifitas perusahaan ini.

Peristiwa seperti ini hampir terjadi setiap hari, bahkan setiap waktu mengancam mereka para warga Selat Punai. Apalagi saat musim kemarau tiba, kondisi akan semakin parah. Cuaca panas bercampur debu hitam yang dibawa angin hampir menutupi semua benda tumbuh ataupun benda mati yang ada di Selat Punai ini.

Intensitas debu sedikit berkurang saat musim hujan tiba, dimana rumput dan semua benda di wilayah ini nampak segar kembali. Kendati musim penghujan, bila terik matahari kembali datang, kegusaran warga terusik lagi karena debu batubara pasti akan dibawa lagi masuk oleh angin, meski tak seberapa lama dibanding saat musim kemarau tiba. Begitu terus kondisi ini berlangsung sejak 2012 hingga 2018 ini belum ditemukan solusi kongkrit.

Warga lain sekaligus tokoh masyarakat setempat enggan disebut namanya berinisal RK (45) menyebut, warga sudah pernah mendatangi lokasi perusahaan RMK ini sebanyak 6 ketek. Meminta perusahaan tersebut menangani masalah debu mengganggu warga Selat Punai. Dimana pihak perusahaan berjanji akan mengatasinya. Namun alhasil faktanya tidak ada juga, dan debu makin bertambah. Lewat surat khusus dari warga Selat Punai ditujukan ke perusahaan juga pernah dilakukan, namun belum juga ada solusi dari pihak perusahaan dan masih sebatas janji saja untuk mencari solusi.

Bocah-bocak anak warga Selat Punai asyik bermain tanpa menghiraukan debu yang beterbangan.

“Kita sudah terus berupaya baik dan minta pengertian baik baik. Tapi perusahaan masih tidak ada tindakan apa apa. Jangankan mereka mau datang ke Selat Punai melihat kondisi kita, memberikan bantuan kepedulian saja tidak ada dalam bentuk obat. Kalau lebaran saja mereka kasih bingkisan seadanya. Terakhir, lebih kurang 3 minggu lalu, baru kasih sedikit masker untuk anak anak sekolah. Itupun sedikit sekali tidak mencukupi untuk anak anak sekolah di sini,”bebernya.

Anak anak banyak sakit mata saat debu tiba, nafas sesak dan terpaksa mereka diliburkan dan dikunci masuk rumah masing masing. Bahkan ancaman untuk menutup sekolah sebagai bentuk aksi damai pernah akan dilakukan pihak sekolah SDN 152 Selat Punai lantaran beratnya debu. Berharap jika aktifitas sekolah diliburkan akan ada pihak mendengarkan kondisi mereka di Selat Punai ini.

Diakuinya, sejak awal mula berdiri tidak ada pemberitahuan dari pihak manapun tentang rencana pendirian perusahaan stock file batubara ini. Padahal biasanya harus ada izin warga sekitar sebagai izin lingkungan berbahaya atau tidak bagi masyarakat sekitar. Tapi ini tidak ada sama sekali, tiba tiba saja sudah berdiri dan beraktifitas. Bahkan semakin hari semakin besar aktifitas dan pelabuhan loadingnya seperti tampak semakin melebar menambah lokasi lagi di sebelahnya.

Ungkapan senada juga disampaikan warga enggan juga disebut jelas namanya, berinisial LS (38), mengeluh anaknya menderita batuk yang tidak hilang hilang sejak 2 tahun terakhir. “Pokoknyo batuk bunyi terus siang malam tak berhenti. Sudah minum obat batuk juga tidak hilang. Sementara ini, kami biarin dulu. Batuknya kering, cuma sangat mengganggu mendengarkan tebatuk batuk siang malam,”jelasnya.

“Untuk dibawa ke dokter di Palembang pun jauh, dan butuh biaya. Sementara pendapatan ayahnya hanya petani sawah tadah hujan menggarap ladang deket Selat Punai setahun sekali. Ditambah nelayan mencari ikan, ini pun sudah susah dapat ikan lantaran aktifitas banyaknya kapal tongkang poton besar besar lalu lalang siang malam di Sungai Musi di kawasan Selat Punai,”bebernya.

Ia berharap ada pihak mendengarkan keluhan warga. “Dulu pernah keluhan kami masuk di berita TV, tapi tidak ada tindaklanjut yang kami rasakan,”imbuhnya.

Tak jauh dari tempat tinggal LS, Swarnanews terus mencoba cari tahu dengan warga sekitar. Seperti Junaidi menceritakan, pertama ada perusahaan ini hanya memiliki dua konviyor. Kini sudah bertambah dua lagi. Artinya aktifitas pelabuhan bongkar muat stock file batubara ini semakin besar dan banyak.

“Setiap hari ada sekitar 4 atau 5 kapal tongkang poton besar. Lebih kurang setiap 4 jam sekali masuk keluar. Hingga para nelayan yang menjaring ikan pun terganggu,”imbuhnya.

Dulu sebelum ada kapal kapal besar, sehari bisa 5 sampai 10 kg nelayan mendapatkan ikan. Sekarang hanya tinggal beberapa kilo saja 2 sampai 4 kg sudah bersyukur mengumpulkan ikan seperti iwak betino dijual dengan harga Rp. 20 ribu per kg, iwak juaro seharga Rp. 20 ribu dan patin sungai bisa dijual dengan harga agak mahal hingga Rp. 60 ribu per kg.

Ungkapan senada juga dilontarkan warga yang takut disebut namanya berinisial Sy (45). Menyebutkan banyak hal kondisi RMK , di awal pendirian tidak sedikitpun mengajak warga sekitar berembug atau izin mendirikan pelabuhan. Sebagai warga sekitar, pihaknya berhak tahu sehingga bisa menolak atau menerima aktifitas perusahaan baru di sekitarnya, mengganggu atau tidak.

Sejauh pengamatan Sy dan warga Selat Punai. Ada perusahaan bongkar muat batubara yang lainya juga bernama Fortune dan Parta yang ada di jajaran Sungai Musi letaknya jauh dari Selat Punai yang kelihatan bangunanan pelabuhannya dari Selat Punai. Tapi aktifitas loadingnya tidak mengganggu warga dan aman aman saja. Sedangkan RMK ini letaknya sangat dekat dan aktifitasnya sangat mengganggu sebab mengeluarkan asap hitam dibawa angin ke tempat terdekat Selat Punai membuat sesak nafas, mata pedih sudah 6 tahun ini.

Bisa Miliaran Rupiah Berputar di Sini

Hal paling miris lagi bagi warga Selat Punai, usulan mereka untuk menutup aktifitas loading perusahaan tersebut dengan penutup seperti Parasut agar debu tidak beterbangan kepada pihak perusahaan, tapi ini juga tetap diabaikan.

Sebab menurut pengajuan Rk, warga Selat Punai yang pernah melihat lihat lebih dekat aktifitas perusahaan ini, juga pantauan Swarnanews di lokasi, ada sekitar 30 an hektar lahan dipakai untuk stok file batubara yang diangkut ratusan truk Batubara dari luar lokasi ke kawasan stok file batubara diangkat ke atas kapal kapal tongkang poton melalui konviyer manual tersebut.

Belum diketahui darimana saja asal batubar yang diangkut dengan ratusan truk dalam sehari semalam ini. Setidaknya satu truknya bisa mengangkut batubara ini hingga 12 ton. Dikalikan hampir ratusan truk sehari semalam. Jika harga sewa jasa kapal saat ini mencapai rata rata Rp. 50 ribu per ton ditambah biaya biaya serba serbi lain. Bisa mencapai puluhan miliar rupiah per bulan uang berputar di sini.

Bisa dibayangkan satu kali angkut dari tumpukan di darat diangkat dengan konviyer diteruskan ke kapal ponton, satu kali angkut muatan kapal bisa mencapai 7.500 ton batubara dikalikan 4 sampai 5 buah tongkang ponton per hari.

Jumlah miliran rupiah itu kata Rk, seharusnya sudah lebih dari mampu untuk sekedar membeli Parasut khusus bisa menutupi aktifitas loading agar debu tidak mengganggu kesehatan warga. Atau dengan teknologi canggih lain agar batubara yang sudah dipecah lembut bisa langsung masuk ke kapal poton tanpa harus menyemburkan debunya ke udara.

“Kan banyak stok file batubara lain seperti di Kertapati milik PT BA itu, mereka dekat pemukiman warga tapi kan debunya tidak menyembur keluar, karena mereka menggunakan alat lumayan canggih, sedangkan di RMK ini alatnya sepertinya manual semua kita amati setiap waktu nampak jelas posisinya dari Selat Punai,”imbuhnya.

Bahkan ia dan warga berharap, jika tidak ada solusi kongkrit minta kepada pemerintah untuk segera menutup saja aktifitas pelabuhan stok file dan loading batubara tersebut.

“Kita ini punya Gubernur, Walikota. Apalagi gubernur dan walikota baru. Okelah pejabat lamo idak peduli, kito minta gubernur dan walikota baru ini bertindak tegas. Alangke lemaknyo, perusahaan untung besar, masyarakat yang kena ruginya,”beber Rk.

Disinggung soal pengaduan warga ke walikota dan gubernur, mereka mengaku belum pernah berkirim surat ataupun demo. Menurutnya mereka masih menunggu i’tikat baik dari PT. RMK. “Tapi kita sudah memuncak sekarang ini, kita berharap Swarnanews dan media lain bisa menjembatani kami ke walikota dan gubernur,”pintanya.

Hal lain sempat disinggung tim Swarnanews, sejauh mana warga Selat Punai dilibatkan sisi kebutuhan tenaga kerja di perusahaan tersebut. Menurut penuturan Rk, memang ada beberapa warga muda dilibatkan sebagai satpam perusahaan. Mereka para pekerja mengaku tertekan, meski gaji lumayan besar hingga Rp. 5 jutaan namun batin tertekan lantaran keluarganya terancaman kesehatanya. Bahkan para satpam malah berencana keluar dari perusahaan jika tidak ada perubahan untuk menyelamatkan kesehatan warga Selat Punai.

Bahkan saat dikonfirmasi salah satu satpam berinisial IK, lantaran enggan disebut nama mengaku tidak bisa berbuat dan berkomentar banyak dan sedih dengan kondisi ini, ia berharap perusahaan RMK bisa berubah. “Gaji saya besar, cuma fasilitas seperti BPJS saja belum ada,”ungkapnya singkat sembari melangkah pergi.

Saat Swarnanews coba mencari beberapa pekerja satpam lainya yang kabarnya juga bekerja di perusahaan tersebut, mereka sedang tidak ada di tempat dan belum bisa dikonfirmasi.

Begitu juga saat Swarnanews coba mengkonfirmasi pihak manager RMK namun belum berhasil dikonfirmasi karena tidak berada di tempat.

Selain Selat Punai, ada desa Talang Putat juga berada di area agak jauh dari RMK. Namun tidak begitu terkena dampak lantaran cukup jauh dari aktifitas loading batubara ini.

Debu Batubara Paling Berbahaya

Sebagai wilayah penghasil batubara Sumatera Selatan juga memiliki problem yang tak kalah serius untuk ditangani yaitu dampak pertambangan dan aktifitas batubara yang mengancam kesehatan warga.

Praktisi kesehatan masyarakat Moch Chandra Bara, S. Ked mengungkapkan Debu batubara dapat menyebabkan gangguan pada fungsi pernafasan, debu batubara merupakan fibrogenic yaitu debu yang sangat beracun yang dapat merusak paru dan fungsi paru.

Dijelaskan Chandra debu batubara yang dihisap akan mengendap di paru sehingga paru menjadi hitam. Penyakit yang diakibatkan oleh debu batubara seperti pneumokoniosis yaitu penyakit pengendapan debu tidak dapat disembuhkan karena debu yang mengendap tidak dapat dibuang oleh tubuh.

Dalam hal ini seharusnya tidak dibiarkan masyarakat menghirup debu batubara, apalagi sampai bertempat tinggal di dekat area penambangan batubara yang sangat beresiko. ujarnya.(*)

Teks : Tim
Editor : Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar