Media Masa Dituntut Netral Dalam Pemilu

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG Sekarang Indonesia sudah memasuki era demokrasi digital, di mana demokrasi diambil untuk melakukan verifikasi melalui media digital.Namun di saat yang sama semua orang akan sadar dalam demokrasi digital ini ada residu yang besar sekali.

Residu itu adalah munculnya Hoax, kabar bohong palsu yang dominan dalam ruang rublik sekarang ini yakni ujar kebencian,” tegas Bambang Harimurti selaku mantan Wakil Ketua Dewan Pers usai dibincangi Swarnanews pada acara Editor Forum Media Bermartabat untuk pemilu berkualitas “Kaukus dan media” yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, di Hotel Aston Palembang, Rabu (31/10).

“Masyarakat sekarang mengalami kebingungan mau didengarkan yang mana agar bisa dicerna. Dalam konteks inilah media jurnalistik apapun itu apakah online, radio, majalah, televisi maupun portal berita harus menjadi yang lebih baik dalam media sosial,” terangnya.

Bambang pun menuturkan, bagaimana caranya seorang jurnalis menyampaikan informasi-informasi yang berkualitas dengan mentaati kode etik dan memfilter berita yang layak untuk diberitakan.

“Dalam konteks itulah kami menggunakan istilah media bermartabat. Dalam arti, martabat media ditentukan oleh keberhasilan media itu untuk menyampaikan sesuatu yang muncul lebih baik di media sosial. Informasi yang berkualitas, berita yang layak dan itulah barometer dari media bermartabat,” terangnya.

Menurutnya, jika ada wartawan menjadi seorang simpatisan atau tim sukses maka jujurlah pada pembaca dan masyarakat. Akui saja bahwa anda tim sukses atau kandidat dan silahkan mengambil cuti untuk sementara dari profesi seorang jurnalis.

“Kita tidak mengkerangkeng politik setiap wartawan, jadi silahkan anda berpolitik tapi tegaskan posisi anda jangan sampai ada kaki ganda,” paparnya.

Hal senada, Kabid Pengelola Informasi publik Diskominfo Sumsel Amrullah yang hadir di pembukaan Editor’s Forum Media Bermartabat menyampaikan bahwa saat ini media sosial mengalami perkembangan yang sangat pesat. Karena masyarakat membutuhkan informasi yang cepat akurat dan terpercaya.

“Media massa dan media sosial tidak bisa dipisahkan. Karya jurnalis bagai dua mata pisau, satu sisi edukatif, di satu sisi lembaga ekonomi untung rugi perusahaan,” ungkapnya.

“Media masa dituntut mengedepankan informasi yang netral dalam pemilu dan sebagai kontrol sosial. Media pada pemilu harus menyuarakan kebenaran dan harus netral,” lanjut dia

Di tempat sama, Direktur Pengelolaan Media Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik,  Siti Meningsih menjelaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Kementrian Komunikasi dan Informatika RI ini bertujuan untuk mewujudkan pers menjadi penjaga keutuhan nasional.

“Pers dan pemilu masing masing memiliki potensi dan tugas yang penting. Keduanya punya peran yang strategis. Proses pemilu dalam rangka mencari pemimpin, jangan sampai masyarakat terpecah belah,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kukus Media Pemilu Agus Sudibyo juga mengatakan, Indonesia adalah negara pemilu terbesar nomor 4 dunia.Pada Pemilu 2019 ada Pilpres dan Pileg dan 5 kertas suara. Untuk pileg ada 20.5000 kursi yang diperebutkan dengan 300 ribu kandidat.

“Untuk jumlah TPS 850 ribu TPS, dan 5 juta orang penyelenggara. Ini pesta demokrasi yang luar biasa. Kita akan mensukseskan hajatan pesta demokrasi, ” ucapnya.

Teks: Herwanto

Editor: Sarono PS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 komentar

  1. Nice post. I used to be checking continuously this blog and I am inspired! Very useful information particularly the remaining part 🙂 I maintain such info a lot. I used to be seeking this particular info for a long timelong time. Thank you and good luck.

  2. Sweet blog! I found it while browsing on Yahoo News. Do you have any tips on how to get listed in Yahoo News? I’ve been trying for a while but I never seem to get there! Appreciate it