Ramai-ramai Dukung Subsidi Angkutan Mahasiswa

Minus Bus, Saatnya Bangun Rel
Kereta Masuk Kampus Unsri

Minusnya bus angkutan khusus mahasiswa Unsri akhir-akhir ini terus menjadi sorotan hangat. Membuat banyak pihak ramai-ramai meminta Pemda tegas dan menerapkan sistem subsidi khusus lebih serius lagi. Hal pokok lain, mendesak PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengefektifkan kereta mahasiswa bahkan mengusulkan kereta Prabujaya turut terlibat. Juga merancang pembangunan rel masuk ke dalam kampus sebagai bentuk kemudahan angkutan mahasiswa jangka panjang.

SWARNANEWS.CO.ID | Permintaan ini disampaikan langsung oleh praktisi pengusaha angkutan,  sekaligus Mantan Sekretaris Organda Palembang kini masih duduk sebagai Ketua Organda Banyuasin, Rusdi Alam, Kamis (25/10).

“Sudah waktunya pemerintah memikirkan peningkatan capacity building SDM di Sumsel. Merekalah calon pemimpin dan penentu penggerak negeri ini. Kalau dalam proses belajar mereka banyak mengalami kendala dan tidak kita dukung, bagaimana Sumsel mau maju dengan SDM handal,” tegas Rusdi.

Rusdi menilai ini bukan persoalan biasa. Meski terlihat sepele. Pemerintah daerah mulai dari Pemprov, Pemkot Palembang, Pemkab OI juga harus duduk bersama dan peduli.

“Kalau memang saat ini baru ada Perum Damri bisanya 20 unit. Trans Musi juga baru 20 unit. Sementara jumlah mahasiswa ke Unsri dari Palembang bisa mencapai 8.000 orang beraktifitas kuliah. Lantas siapa yang mau tanggungjawab kekuranganya kecuali pemerintah harus berani memberikan subsidilah. Ini aset SDM, tolonglah difikirkan juga masa depan mereka kalau mau maju,” bebernya.

Kalau bicara jangka pendek, Organda pun siap memback up menyediakan bus khusus untuk mahasiswa jika dibutuhkan. Meski begitu pemerintah pun harus mencari solusi jangka panjang, langkah apa agar efektif transportasi mahasiswa ini, jangan hanya bertumpu pada bus.

Kereta Api misalnya sambung Rusdi. Jika kereta mahasiswa yang disediakan di era Gubernur Syahrial Oesman 10 tahun lalu ternyata juga banyak kendala sering mandeg, rewel ataupun kurang. Seharusnya mencari solusi secepatnya untuk memback up.

“Nah, PT KAI kan punya Kereta Prabujaya, merupakan kereta khusus untuk jurusan Palembang-Prabumulih berangkat setiap pukul 6.00 WIB pagi.  Itu saat ini penumpangnya masih banyak kosong, gerbong nganggur saja. Ini kan bisa sementara dialihkan untuk mahasiswa Unsri. Efektifkan saja untuk mahasiswa menggunakan tarif ekonomi,” ujar Rusdi.

Soal tarif kalau masih agak mahal, harus disubsidi oleh Pemda. “Bisalah Pemda melalui APBD atau pemda mengajak mitra ke-3 melalui dana CSR peduli mahasiswa ini. Jangan hanya diam dan menunggu bantuan pusat yang kita tahu berbelit, lama dan panjang prosesnya,” tegasnya lagi.

Andai tarif ekonomi Rp. 30.000 Palembang-Prabumulih. Mahasiswa bayarlah sepertiganya saja sampai Indralaya Rp.10.000. Nah disubsidi pemda Rp 5.000, jadi mahasiswa cukup bayar Rp 5.000. Ia yakin jika serius anggaranya pasti ada.

Rasionalnya memang dari sisi hitungan bisnis tarif Palembang-Indralaya Rp.10.000. Artinya pemerintah subsidi Rp. 5.000.

Mahasiswa itu calon orang penting semua di masa depan. Jangan sampai konsentrasi mereka terganggu, telat masuk tidak bisa ikut kuliah. Berefek banyak atas hasil pembelajaranya.

“Waktunya para pemangku kebijakan ini ‘melek’ matanya dan berani tanggungjawab soal ini. Pemerintah tidak rugi karena punya SDM handal, mahasiswa juga tenang dan hasil maksimal, pengelola angkutan juga tidak rugi,” bebernya.

Disinggung soal rencana jangka panjang, Rusdi tidak saja meminta KAI sigap, mengefektifkan kereta mahasiswa, memperbantukan kereta Prabujaya untuk mahasiswa. Ia juga berharap Unsri punya stasiun kereta sendiri dalam kampus.

“Iyalah, bagusnya begitu. Bangun rel lagi nyambung sampai ke dalam kampus Unsri seperti di UI Depok, luar biasa sekali ini,” imbuhnya.

Ungkapan ini disambut hangat oleh Mantan Gubernur Sumsel Syahrial Oesman, saat dikonfirmasi lewat handphonenya. Soal adanya integrasi rel untuk kereta mahasiswa hingga ke kampus dan memaksimalkan angkutan kereta mahasiswa. Bahkan jika dibutuhkan akan terintegrasi dengan LRT.

“Terimakasih sekali diingatkan ini. Dan akan jadi perhatian khusus untuk diserusi soal ini,” tegas Syahrial.

Sampai hari ini beberapa pengusaha bus swasta saat dibincangi mengaku berat jika mau ambil trayek khusus mahasiswa dan berat jika tarifnya murah. “Mano biso dek Rp. 5.000, 8.000 an cak Damri atau Trans Musi. Bangkrut kita. Masuknyo Rp. 15.000 sampai Rp. 18.000 per orang, makmano nak beli bensin, bayar makan supir,” kata Musnuri pemilik Bus angkutan Palembang OI.

Musnuri hanya memberikan saran, soal angkutan mahasiswa memang harus khusus jangan dicampur dengan umum. Kalaupun dicampur harus pakai tiket khusus dikeluarkan pemerintah dengan tarif murah khusus.

Siapa yang bayarnya? lanjut Musnuri juga Manager PO. Eka Wisata ini, adalah pemerintah melalui subsidi. Jadi tiket yang habis terjual itulah buktinya untuk diklaim.

Atau menggunakan sistem paket. Khusus zona wilayah dengan bus khusus dijemput lokasi tersebut dibayar sekaligus melalui subsidi.

Diakui Musnuri, swasta pun jikalau mau, masih berfikir panjang jika melayani mahasiswa dengan pembayaran subsidi pemerintah. Sebab uangnya kan tidak cash pasti dirapel sekaligus dalam beberapa bulan. Padahal bisnis angkutan ini susah jika harus seperti itu, modal harus besar.

“Ya kalau saya saranin, memang harus dibangun rel khusus ke kampus tu bagus untuk jangka panjang. Lebih lama awet dibandingkan bus kbusus, per 5 tahun harus ganti bus baru supaya tetap aman.

Tapi kalau rel dan kereta bisa puluhan tahun,” ungkapnya tersenyum.

Damri Tunggu Guyuran 50 Unit Bus Baru

Sementara itu, Bagian Operasional Perum Damri Palembang, Firdiansyah saat ditemui Swarnanews pun mengakui, sangat mepet dengan tarif Rp. 5.000 per mahasiswa Palembang-Kampus Unsri Indralaya.

“Tarif Rp. 5.000 ini juga baru kok mbak, baru 2 bulan inilah berlaku dengan MoU Damri-Unsri atas permintaan pihak Unsri. Dulunya kita melayani sejak Februari 2018 sampai Juli tarifnya sama dengan Trans Musi Rp. 8.000 per mahasiswa. Karena ini perintah dan penugasan pusat Mentri Perhubungan, ya, Damri harus mau,” tegas Firdi.

Meski berat harus diusahakan demi layanan mahasiswa. “Jujur saja rasio bisnisnya memang Rp. 10.000 ke Indralaya. Tapi karena penugasan, kita harus laksanakan,”imbuhnya.

Diakui Firdi, dengan Rp. 5.000 ini murni dari itu kita operasionalnya. Sama sekali belum disubsidi. Katanya ada rencana ada subsidi dari APBN, tapi sudah 2 bulan jalan, belum ada realisasi dan baru info saja itu ternyata,” jelasnya.

Subsidi kata Firdi bisa dalam dua jenis. Pertama, subsidi operasional, biasanya dibayar dihitung per kilometer jarak tempuh. Kedua, subsidi tarif, yang dibayar dihitung dari per orang pemakai. Tapi memang belum ada realisasinya.

Bahkan janji Kementrian Perhubungan bakal mengguyur 50 unit bus khusus untuk mahasiswa beberapa waktu lalu, sampai hari ini juga belum ada realisasi.

Jika 50 unit ini benar-benar ada, lumayan mengcover.Dengan rata rata jumlah muatan per bus sebanyak 40 orang jenis HINO.

“Sebab kalau mengandalkan bus Damri yang tidak terpakai atau tidak efektif dari jumlah yang sudah ada, belum ada lagi saat ini,” kata Firdi.

Untuk 20 unit yang sudah diperbantukan layanan ke Unsri itu saja kata Firdi, berasal dari tarikan beberapa propinsi dan daerah tidak terpakai, termasuk ada yang dari Bali.

Dijelaskan Firdi, Damri posisinya hanya menggantikan puluhan bus tua milik Unsri. Sebagai stabilisator untuk adek adek mahasiswa ditambah lagi ada penugasan khusus dari pusat.

Sebab jika mau hitungan bisnis, Damri lebih pilih bisnis. Apalagi akan ada rencana bus feeder untuk jalur LRT dari penumpang daerah.

Untuk saat ini ada sekitar 80 unit bus dipakai. Baik jurusan antar kota dalam propinsi ataupun lokal Sumsel.

Meski diakuinya, untuk mengentaskan persoalan ini butuh subsid khusus ditegaskan oleh Pemda. Meski untuk perputaran cashflow berat, namun Damri akan bersyukur.

Bila gubernur Sumsel siap memberikan Perda khusus bagi lulusan lokal terbaik untuk ditempatkan kerja secara proposional. Hari ini, pihaknya berharap Pemda juga bisa memberikan solusi kongkrit subsidi khusus untuk transportasi mahasiswa. Khususnya Unsri saat ini benar benar sudah menjadi persoalan serius.

Mahasiswa Desak Secepatnya Sikap Pemda

Rizka Okta Anggraini

Rizka Okta Anggraini seorang Mahasiswi UNSRI Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Sosiologi semester V saat dibincangi Swarnanews usai menghadiri Deklarasi Kampanye Bermartabat, di Hotel Horison Ultimate Palembang, Kamis (25/10) mengatakan masih kesulitan dengan sedikitnya armada bus angkut mahasiswa.

“Selama ini kami masih kesulitan untuk menanggulangi angkutan bus yang sedikit. Baik pihak TM pun kemarin sudah menambah dua buah bus namun itu masih kurang pada intinya,” ujarnya.

Rizka menjelaskan, untuk ongkos sendiri Palembang- indralaya  sebesar Rp. 8000 (Trans Musi) dan Rp. 5000 (bus Damri).

Sebenarnya soal harga itu tidak begitu masalah, karena itu merupakan kebijakan dan aturan dari pihak pengelola angkutan transportasi masing-masing. Meski ia senang jika pemda lebih peduli dan memberikan bantuan subsidi.

“Yang saya tahu pihak DAMRI itu kenapa harganya lima ribu karena memang itu untuk menjangkau mahasiswa. Kebetulan bus Fakultas tidak bisa digunakan,” terangnya.

Menurut Rizka, per-harinya untuk jumlah armada angkutan bus UNSRI-indralaya ada 30 unit, waktunya tidak bisa dipastikan.

“Dalam per harinya angkutan bus  mahasiswa itu ada 30 bus. itupun waktunya tidak begitu sama atau tidak tentu seperti setiap harinya. Untuk waktu DAMRI sendiri  tidak begitu tetap, kalau TM batas waktunya tetap,” jelasnya.

Rizka berharap supaya bisa ditanggulangi karena mahasiswa punya kesibukan untuk belajar mengejar waktu kelas yang berbeda-beda dan aktifitasnya sangat padat.

“Jadi harapannya supaya ditanggulangi agar tidak ada masalah tentang akademik gara-gara transportasi, pemerintah memang harus peduli kondisi ini,” pungkasnya.

Direktur BEM Unsri, Trisno mengatakan saat dihubungi lewat  WhatsApp mengatakan jumlah bus armada angkutan transportasi dari Unsri bukit masih kurang sehingga terkadang mahasiswa  rebutan kursi penumpang. Menurutnya untuk biaya transportasi umum yang cukup mahal sehingga mahasiswa terbebani. Sehingga butuh kebijakan lanjutan bisa meringankan beban mahasiswa seperti subsidi.

Dilema ini juga dialami deretan mahasiswa lainya, kondisi masih kurangnya armada bus Unsri masih  dirasakan oleh beberapa mahasiswa yang ditemui Swarnanews di lokasi kampus Unsri Indralaya mengakui kondisi seperti itu.

Mereka diantaranya Ferilza mahasiswa Fakultas Pertanian Unsri. Menurut Ferilza yang juga diakui oleh lebih kurang delapan orang teman sekuliahnya.

Kekurangan kendaraan bus itu sangat terasa saat mau perkuliahan di pagi hari dari kampus Unsri Palembang menuju kampus Unsri Indralaya.

Bus yang antri untuk mengangkut mahasiwa sedikit. Sedangkan jumlah mahasiswa yang mau kuliah jadwal pagi ke Indralaya lumayan banyak.

Menurut Feril, akibatnya mahasiswa yang mau kuliah pagi dan sudah terburu waktunya mereka mengalihkan pilihannya pada angkot Bukit Besar berwarna biru yang juga sudah mengantre panjang di dekat pintu gerbang Unsri itu.

Mereka kemudian memilih naik angkot itu dengan beberapa konsekuensi yang harus mereka tanggung.

Yakni ongkosnya bisa mencapai Rp 10.000 atau Rp 15.000. Padahal kalau naik bus Unsri hanya membayar Rp 5.000.

Bukan hanya itu saat masuk tol juga kalo naik angkot biru maka biaya toll juga dibebankan kepada mahasiswa.

Parahnya hal lain yang juga harus mereka tanggung adalah kondisi penuh sesak ketika naik angkot. Yakni yang seharusnya kapasitas angkut angkot hanya delapan orang bisa dinaiki oleh sebelas orang.

“Kondisi itu jelas tidak nyaman,” ujar Feril yang juga diiyakan oleh teman-temannya.

Apa yang dihadapi oleh para mahasiswa yang memilih naik angkot bukan hanya sampai di situ.

Belum lagi, mereka juga harus dihadapkan pada resiko kecelakaan karena kecepatan angkot tersebut bisa sangat tinggi ketika di toll karena mereka harus mengejar setoran.

Menghadapi kondisi seperti itu mereka berharap kepada para pimpinan Unsri agar benar-benar memperhatikan nasib para mahasiswa terutama mengenai kebutuhan alat transportasi yang memadai.

Mereka menyadari adanya kekurangan armada bus Unsri tersebut. Akan tetapi alangkah lebih baiknya meski saat ini kekurangan namun juga dilakukan pengaturan yang baik sehingga bus yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Misalnya dengan memperbanyak bus yang antri dan siap mengangkut mahasiswa saat pagi hari. Sebab saat itu mahasiswa betul-betul butuh angkutan agar mereka bisa datang tepat waktu di kampus Indralaya.

“Kalau kami telat tidak ada dispensasi waktu, Pak. Mungkin kalau ada dosen yang toleran waktu 8 menit. Tapi kalau tidak ditoleransi kami benar-benar tidak bisa masuk kuliah pada jam itu,” katanya.

Mahasiswa Unsri.

Kondisi seperti  itu juga dibenarkan oleh Nopri mahasiswa Fakultas Ekonomi Unsri. Meski dia tinggal di Indralaya namun seringkali melihat kawannya yang terlambat kuliah karena tidak mendapatkan bus saat kuliah pagi.

Mirisnya, selain mahasiswa, korban minusnya angkutan juga berefek ke  beberapa pegawai Unsri terutama mereka yang bertugas di perpustakaan juga mengakui adanya kondisi tersebut.

Sebenarnya Damri yang sudah dipersiapkan ada kurang lebih  40 unit. Belum lagi adanya Transmusi. Jumlah tersebut ternyata memang masih kurang untuk mahasiswa.

Akibatnya saat perkuliahan pagi masih banyak angkot Bukit  Besar yang berwarna biru juga melayani mahasiswa.

“Menurut saya mereka itu mencari kesempatan aja,” kata wanita yang meminta namanya tak dicantumkan ini.

Kerugian yang dialami mahasiswa kalau harus naik angkot itu adalah ongkosnya bisa mencapai Rp 15.000. Padahal kalau naik Transmusi hanya Rp 8 ribu bahkan Damri cuma Rp 5 ribu. Bahkan kalau yang naik di luar mahasiswa bisa di minta Rp 20 ribu ongkosnya.

Melihat kondisi itu dia juga berharap agar pihak Unsri bisa melakukan pembenahan dalam melayani mahasiswanya di bidang transportasi. Baik dengan penambahan armada bus maupun pengaturannya agar lebih efektif.

Pejabat Masih Banyak Galau

Bahkan, sarana transportasi mahasiswa Universitas Sriwijaya (unsri) Indralaya salah satunya adalah Kereta Api Indralaya (Kertalaya) yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang dioperasikan tanggal 19 Februari 2009. Meski masih beroperasi  mengangkut mahasiswa yang pergi dan pulang dari kampus Unsri Indralaya, namun belum mampu menjawab kebutuhan 8.000 mahasiswa Unsri saat ini, bahkan sebagian pegawainya.

Penelusuran Swarnanews meminta tanggapan kepada beberapa pejabat terkait, kebanyakan mereka masih galau dengan usulan dan solusi kongkrit yang sempat dilontarkan beberapa pihak, termasuk mengefektifkan Kereta Prabujaya, jurusan Palembang-Prabumulih yang masih banyak kosong gerbongnya.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel, Nelson saat dihubungi sedang ada di Jakarta dan ia menyampaikan melalui handphone bahwa ia sendiri selama ini mengaku belum menerima laporan dari mahasiswa maupun dari pengelola angkutan armada bus.

Untuk kereta api Kertapati-Indralaya  masih normal seperti biasa tidak ada permasalahan. Sedangakan soal lain ia mengaku belum bisa berkomentar.

Hal senada disampiakan Manager Humas Divre III Palembang, Aida Suryanti dengan singkat hanya mengatakan bahwa pengoperasian Kertalaya saat ini masih seperti biasa jam biasa.

Berangkat dari Stasiun Kertapati yaitu jam 7.30 WIB dan  14.12 WIB dari Indralaya.

Saat dikonfirmasi soal penambahan fungsi untuk kereta Prabujaya agar diefektifkan untuk mahasiswa, dan program jangka panjang rel tersambung ke lingkungan kampus. Ia sendiri belum mau memberikan jawaban tanggapan hingga berita ini diturunkan.

Sementara itu Anthony Rais Direktur Operasional PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J) mengakui, saat ini Trans Musi yang disediakan per hari mencapai 20 Bus.

“Ada koridor Bukit dan Indralaya yang menjadi tujuan penumpang,” Ujar Anthony.

Dijelaskanya,  memang saat ini yang sedang beroperasi adalah 20 unit, kemungkinan belum akan bertambah karena pasti akan ada kalkulasi terlebih dahulu,” ujarnya singkat. (*)

Teks : Asih, Herwanto, Sarono P, Fuad
Editor : Asih
Foto : Asri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar

  1. An impressive share! I have just forwarded this onto a coworker who was doing a little research on this. And he in fact bought me breakfast simply because I found it for him… lol. So let me reword this…. Thank YOU for the meal!! But yeah, thanx for spending the time to discuss this issue here on your web page.