Lurah itu Simbol Warga Sekitarnya

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Sosok Elsa Noviani begitu dekat dengan warga. Tak hanya caranya piawai dan ramah saat menyapa para tamunya di kantor Lurah 30 Ilir, letaknya tak kurang dari 100 meter Masjid Syuro Tangga Buntung. Namun ekspresinya gesit dengan warga sekitar begitu tampak nyata saat Swarnanews coba menyambangi di kantornya kemarin.

Jebolan Magister Administrasi Publik Stisipol Palembang ini mengaku sangat bangga menjadi lurah sejak 2007 lalu. Meski dirinya mengakui belum diberi kesempatan oleh walikota Palembang untuk melompat ke jabatan struktural lain seperti di tataran dinas. Namun Elsa mengaku senang. Dengan menjadi lurah, dirinya mengaku bisa terus belajar dan mengupgrade diri agar mampu menjadi contoh yang baik untuk warga dinaunginya kawasan 30 Ilir.

Elsa Noviani, S.H, M.Si, Lurah 30 Ilir Palembang.

Pengalamanya menjadi lurah, ia pangku sejak 2007 di Kelurahan 2 Ulu Palembang. Tahun 2011 lanjut berpindah menjadi lurah Tuan Kentang, dan tahun 2013, Elsa kembali diamanati menjadi lurah di 30 Ilir Palembang. “Sampai 2018 ini, saya masih diamanahi di sini, dan belum ada panggilan untuk kemana mana,” ucap Elsa tersenyum.

Hal paling pokok dimiliki pejabat kelurahan, citra teladan yang baik sehingga warga bisa mencontoh sikap kita dengan baik juga.

Contoh saja, soal sampah ini. Semua memang harus dimulai dari pejabat rw., rt, dan jajaran lain hingga lurah. Dimanapun berada tetap memberi teladan, sehingga apapun disampaikan ke warga benar benar murni bukan pencitraan atau sekedar perintah.

“Kita beri contoh saja, warga masih bandel. Seperti buang sampah, warga 30 Ilir memang sudah bagus saat di siang hari. Bersih dan tidak ada warga melanggar. Tapi, pas malam hari, ternyata mereka masih buang sampah ke sungai. Padahal aturan semua sudah ditempel. Nah, seperti ini harus kita sikapi,” bebernya.

Terpenting selain contoh, juga upaya penyadaran lebih intens dan lebih dekat lagi dengan warga.

Meski diakui, 30 Ilir masuk kawasan kumuh sedang, namun saat ini penataan infrastruktur sudah membaik. Khususnya jalan jalan masuk lorong sudah cukup maksimal.

Alhamdulillah, tepat (8/11) pihaknta menerima bantuan gerobak sampah dari Pemkot sebanyak 12 unit dalam keadaan baru dari program KOTAKU.

“Ini akan kita bagi, 1 rw satu gerobak nanti juga ada petugas sampah di masing masing rw, sifatnya gerobak ini harus dipelihara,” beber Elsa.

Kedepan ia bersama jajaran petugas kelurahan akan terus bergiat lagi meningkatkan kapasitas dan kemampuan pelayanan terhadap masyarakat.

Hal paling menyenangkan saat bisa dekat dengan warga dan banyak menjalin kerjasama dengan banyak pihak.

Elsa menegaskan, upaya pokok tetap fokus meningkatkan kedisiplinan masyarakat terhadap kebersihan. “Pesan pak wali, jika ada lahan kosong siap dijadikan untuk menampung sampah sementara saja, pak wali siap membelinyan. Keseriusan pak wali harus kita dukung,” imbuhnya.

“Kita akan terus kasih contoh ke warga, agar saat disuruh bersih bersih bandel, tapi saat banjir datang menjerit-jerit,” tegas Elsa.

Ketua Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) 30 Ilir, Panji, menambahkan, pihaknya akan memberikan reward punishmen tepat bagi warga melanggar nantinya agar warga tetap disiplin.

Sehingga warga bisa sadar kebersihan. Dengan gerobak sampah baru ini, ia berharap bisa efektif.

Malah, Panji mengaku bakal mengusulkan program baru lagi untuk masyarakat.

Pengadaan selang dan mesin air untuk antisipasi kebakaran, khususnya di lorong lorong kecil yang susah dijangkau dinas kebakaran.

Tingkat kerawanan kebakaran untuk wilayah padat penduduk luar biasa.

“Jadi PDAM kita kita minta sediakan kran khusus air selang kebakaran. LKM akan minta bantuan mesin air pompa agar saat ada kebakaran. PBK tidak bisa masuk, ini bisa cepat diatasi warga,” imbuhnya. (*)

Teks/Editor : Asih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *