Butuh Pil Ekstra Genjot Pariwisata

SDM Minus Dana Minim
Religi dan Sport Tourism Dipacu

Keinginan Palembang mendongkrak sektor wisata tampaknya masih butuh perhatian lebih dari seluruh lini. Tidak saja harus menelan pil ekstra untuk memenuhi kebutuhan sarana fisik, hingga pendanaan kuat, namun kesiapan SDM dan tata laksana program masih butuh tangan- tangan super kreatif untuk mengemasnya hingga menjadi konsumsi utama para Wisman (Wisatawan Mencanegara) dan Wisnus (Wisatawan Nusantara).

Kampung Kapitan.

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Meski lebel kota Internasional telah dicanangkan sejak 5 tahun lalu. Belum berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kunjungan dan geliat wisata di Palembang khususnya dan Sumsel pada umumnya.

Ketua Asosiasi Tour and Travel Indonesia (Asita) Sumsel, Anton Wahyudi saat dibincangi mengakui hal itu. “Sebenarnya kita sudah teriak-teriak sejak lama kondisi pariwisata di Sumsel ini. Baik SDM masih sangat lemah hingga daya dukung baik sifatnya pembangunan fisik hingga dana dan program selaras. Alhamdulillah meski telat, sekarang sudah ada Politehnik Pariwisata (Poltekpar) Palembang yang baru berjalan 2 tahun. Kita berharap ini bisa menunjang SDM perhotelan salah satunya, memang patut diakui faktanya SDM-SDM perhotelan di sini masih jauh dari standart  hospitallity saat ini,” beber Anton saat dibincangi Swarnanews, (21/11).

Anton Wahyudi .

Saat ini Asita Sumsel sedang menggarap Sport Tuorism di Sumsel dan  Palembang khususnya, bekerjasama dengan Jakabaring Sport City (JSC) menyuguhkan paket sport.

Mulai Menembak dengan paket khusus bisa menembak sesuai paket peluru yang digunakan. Juga ada Panahan, Panjat Tebing, Tenis hingga paket Water Sport seperti Jetsky yang sudah difasilitasi mulai awal tahun dan telah diuji coba walikota beberapa waktu lalu. Begitu juga tersedia paket Volly Pantai yang hari ini sudah dinikmati para tamu dari 80 tour travel agent, baik Singapura, Malaysia dan daerah yang punya rute direct langsung Palembang, termasuk para blogger dan media di ajang fieldtrip Palembang selama 3 hari (22,23,24/11).

Anton menambahkan, sesuai agenda nasional mentargetkan kunjungan wisata 20 juta orang di 2019 nanti. Maka, semua program daerah harus mengikuti agar bisa klop.

“Sayangnya, Sumsel masih lemah, masih jauh back pemdanya. Anggaran Dinas Pariwisata saja hanya Rp. 9 Miliar per tahun. Jadi minusnya hampir 10 kali lipat dibanding dengan provinsi lain seperti Lombok mencapai Rp. 100 miliar per tahun. Aceh juga malah Rp. 100 miliar lebih per tahun,” bebernya.

Perlu dicatat kata Anton. Wisata ini jika digarap dengan sunggung sungguh tidak akan pernah habis. “Beda dengan potensi Migas, Batubara yang ada limit masa produktifnya. Wisata sekali produktif akan terus maju,” imbuhnya.

Lihat Bali, tidak punya Migas dan SDA lain. Tapi mereka punya alam indah dikelola dengan baik ditambah budaya masyarakatnya menyatu mendukung pengembangan wisata ini.

Meski Palembang tak seindah Bali, namun bisa mengandalkan sport tourism. “Berharap tahun 2020 even even Internasional sudah membludak di sini. Sehingga ada pencanangan gram khusus membuat travel, rumah makan, tempat wisata ikut merasakan efeknya,” jelasnya.

Dikatakan Anton, meski program Sport Tourism sudah lama, namun tidak jalan selama ini.

“Kita berharap pasca Asian Games ini bisa lebih greget lagi,” imbuh Anton.

Nah, perlu diketahui, saat ini khusus paket wisata umun, pihaknya juga sudah menyediakan paket umum, Paket Palembang Asyik bekerjasama dengan seluruh hotel, kuliner , pusat jajanan hingga oleh oleh.

“Semua dikemas khusus dari paket termurah hingga paket mahal.  Tinggal paket luar daerah belum masuk, selain butuh waktu lama jarak jauh, faktor aksesibilitas masih banyak kendala. Contoh, untuk ke Pagar Alam saja jadwal penerbangan cuma ada sehari satu kali,”imbuhnya.  Sehingga butuh daya dukung kuat untuk menyedot wisatawan luar maupun lokal.

Prioritaskan SDM dan Wisatawan Domestik

Founder TTC Travel Mart, sekaligus International Tourism Speaker juga Tourism Networking Consultan, Tedjo Iskandar kepada Swarnanews secara blak-blakan mengakui. Palembang dan Sumsel punya semua potensi wisata. Mulai religi, sport, alam hingga sejarah budaya meninggalkan cagar cagar budaya luar biasa berkorelasi sejarah masa lampu.

Founder TTC Travel Mart, International Tourism Speaker, Tourism Networking Consultan, Tedjo Iskandar.

Termasuk dengan tingginya pertumbuhan hotel, MICE tidak diragukan lagi. “Kalau dihitung rata rata hampir setiap bulan ada hotel baru ya di sini. Ini sungguh tidak main main dan jangan disepelekan,” kata Tedjo.

Belum lagi kekayaan kuliner dan sovenirnya juga tidak kalah saing. “Hanya butuh pembenahan di sisi SDM saja. Ya, hospitality-nya itu belum punya. SDM -SDM yang tahu bagaimana melakukan pelayanan dengan sepenuh hati. Saya sebagai pengunjung biasa keliling dunia, tahu betul bagaimana melihat SDM yang ada di sini. Ini silakan dibenahi, kasihlah SDM bagus, mau senyum, wearness dapat, body languange pas saat melakukan pelayanan dan semua tata etika lain yang masih harus dipenuhi,” imbuhnya.

Hal pokok lain harus diingat kembangkan wisata lokal. “Yang namanya wisatawan tidak harus orang luar. Orang lokal pun harus diprioritaskan. Jadi wisatawan domestik dimaksimalkan lah, ini tugas pemerintah kedepan. Perputaran wisata lokal atau domestik ini harus diprioritaskan geraknya.

“Nasional saja perputaran wisatawan domestik bisa sampai 100 juta lebih per tahun. Artinya 3 juga sangat potensial memaksimalkan ini,” ungkap Tedjo.

Selain Sport Tourism, potensi MICE di Palembang cukup memberikan ruang gerak sektor wisata ikut berkembang. “Palembang di posisi nomor 5 di Indonesia MICE-nya, dimana para pengunjung bisa memanfaatkan, sehari meeting dan sisanya bisa langsung jalan jalan,” imbuhnya.

Prioritaskan Dana 20 persen APBD

Ketua Asita Banten H. Muhlis Ihksor Gatot saat dijumpai Swarnanews, di sela kunjunganya ke Palembang mengaku, kagum dengan semua potensi Sumsel Palembang. Mulai aneka kuliner sovenir, aset sungai hingga perhotelan dan potensi alamnya.

Ketua Asita Banten, H. Mukhlis Ikhsor Gatot.

“Semua cukup menakjubkan Palembang dan Sumsel. Tinggak kepedulian pemerintah supaya geliat di sini semakin menjadi, khususnya support pendanaan saya dengar baru Rp. 9 miliar alokasi sektor wisata rata rata per tahun,” ungkap Muhlis.

Sebagai perbandingan Banten saja mencapai Rp. 35 miliar per tahun anggaranya, dengan APBD mencapai Rp. 10,5 Trilliun. Artinya Sumsel paling tidak jangan di bawah Banten lah. Aceh dan Lombok saja mencapai Rp. 100 miliar malah per tahun,” jelas Muhlis.

Apalagi Sumsel bukan pusat wilayah industri besar seperti Banten punya Krakatau Steel juga ada 1.750 industri pabrik lainya. Sehingga selain anggaran APBD juga disupport CSR lumayan besar. Sedangkan pabrik Sumsel skala menengah lebih didominasi perkebunan. Dengan begitu support dana harus lebih besar.

Ia berharap ini jangan diabaikan pemerintah daerah. Sehingga butuh keberanian luar biasa jika sektor wisata akan dijadikan andalan. Sebab multiplier efect wisata memang luar biasa sebab prosesnya banyak dan akan tersedot dengan sendirinya geliat ekonomi di sini jika sektor wisata ini bisa booming.

Wisata Religi masih jadi Andalan

Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Kota Palembang Hasanul Fuad, S.Sos, melalui Staf Pemasaran, M.R. Fandi mengungkapkan hal sama.

Jika ditelisik lebih jauh kata Fandi, skala even digelar di Palembang sifatnya rutin lokal belum begitu menarik perhatian wisatawan mancanagera (Wisman) dan wisatawan nusantara (Wisnus). Seperti Bidar, Festifal Sriwijaya dan lainya merupakan agenda budaya lokal.

“Belum  ada efek untuk wisman. Hanya wisatawan lokal saja biasa menonton berkunjung. Padahal dengan rutin kita berharap jadi patokan menarik wisatawan luar yang kecanduan rindu dengan pagelaran rutin di sini, tapi nyatanya belum,” jelasnya.

Staf Pemasaran Dinas Pariwisata Palembang M.R. Fandi.

Justru sebaliknya, agenda sifatnya relegius seperti Haul Ki Merogan biasa diadakan April, juga Ziaraah Kubro Syekh Zawawi biasa diadakan bulan  Desember, malah rating pengunjung wisatawanya tinggi, khususnya dari Malaysia, Singapura dan Arab Saudi.

Begitupun even religi Cap Go Meh biasa diadakan bulan Januari Februari, juga sangat tinggi pengunjung dari Cina dan Thailand.

Artinya apa? tanya Fandi. Dengan sendirinya Palembang lebih cocok dijadikan wisata Religi.

Alquran Al Akbar salah satu contoh. Pengunjungnya juga sangat tinggi, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Ini terpantau agenda Asian Games lalu.

Sedangkan wisata lain, even, kuliner sejauh ini hanya mengiring saja, belum ada benar benar booming.

Untuk itu tahun 2020 ia berharap ada agenda besar seperti Visit Year Palembang benar benar bisa terealisasi dengan baik.

“Visit Year Palembang ini, kita berharap seluruh even berlevel Internasional sudah terealisasi full di Palembang. Jadi benar benar mata dunia tertuju ke Palembang,” imbuh Fandi.

Target lain kata Fandi selain Visit Year Palembang. Singkronisasi paket wisata yang sudah dikemas dalam Paket Palembang Asyik.

Dimana tarif termurah bisa dibandrol di harga Rp. 900.000 per orang untuk 3 hari 2 malam dengan minimum pesan 20 orang.

“Ya, kalau yang paling murah ini hanya hotel bintang 2 nginapnya. Sedangkan paket paling mahal Rp. 1,6 juta dengan fasilitas hotel bintang 4,” terangnya.

Sejauh ini sudah berjalan. Kedepan akan ditambah dengan paket paket fieldtrip ke kawasan Pagar Alam ataupun lintas daerah. Misalnya menambah satu hari dikombinasikan wilayah Bangka Barat atau satu hari ke Pagar Alam.

Semua akan terus dievaluasi bersama, agar kedepan bisa lebih menarik.

Tugas penting lain masih menunggu, membranding Palembang Charming belum maksimal hari ini.

Dimana dengan logo dan tagline Palembang Charming, Palembang masih harus banyak berbenah. Seolah memberikan janji kepada wisatawan dengan berkunjung ke sini akan mendapatkan banyak, mulai kuliner enak enak, sovenir beraneka ragam unik, hingga seni budaya destinasi menarik.

Beratnya, ini harus dipersiapkan semua semaksimal mungkin, agar efectnya bisa dirasakan wisatawan. Ditambah sosialisasi selama ini juga masih sangat minim.

Tinggal langkah, advertising dan salingnya untuk mengimbangi supaya sektor wisata ini cepat merangkak naik.

“Alhamdulillah hari ini kita sudah mulai menapaki langkah baru bareng Asita, menggandeng 100 tamu tour travel, blogger hingga 16 daerah kota yang punya direct flight ke Palembang di ajang  fieldtrip pengenalan potensi wisata Palembang,” ungkap Pandi.

Mereka dikenalkan kawasan destinasi khusus, termasuk lokasi pembuatan pempek dan kemplang bisa menyaksikan langsung  pembuatanya juga sekaligus membelinya.

Product knowledge ini merupakan upaya saling untuk mempromosikan Palembang saat mereka kembali ke wilayah masing masing.

Puncaknya mereka akan diajak B to B Sabtu (24/11) menindaklanjuti dalam bentuk kerjsama dengan hotel-hotel yang ada di sini, juga para operator wisata kuliner dan destinasi yang ada.

Fandi berharap, sinergi dari selurug OPD memang sangat dibutuhkan. Kesesuaian program hingga sinergi pembenahan aset dan fasilitas agar Palembang Charming bisa maksimal sisi persiapanya dan hasilnya nanti.

Misal, pembangunan toilet, tempat tiket, tempat atraksi, dan jalan akses wisata bisa dihandel PU.

Juga pemograman masyarakat sadar wisata juga even bisa dihandel Dinas Pariwisata.

Pembenahan dermaga wisata dari dermaga standart menjadi dermaga khusus wisata bisa diteken Dishub. Sebab saat ini baru ada satu dermaga wisata yakni Dermaga Wisata Kampung Almunawwar, dimana kapal wisata dan ketek wisata bisa bersandar di sana.

Mendatang juga perlu penerapan tarif khusus sama di loket untuk menghindari calo yang seenaknya menerapkan biaya tinggi dan membuat jera para pengunjung.

Pemugaran Makam-makam Dimulai

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Ema.

Tempat terpisah Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Palembang, Ema, mengakui, sisi kesiapan Palembang masih sedang berproses.

“Tahun lalu sudah banyak dipugar. Tahun ini dan 2019 akan kita selesaikan semua aset wisata. Sementara fokus masih di makam makam bersejarah. Nanti akan terus merambah ke semua aset.

Fokus lebih lagi, pihaknya membentuk tim Ahli Cagar Budaya (ACB) untuk memaksimalkan kerja pemeliharaan aset wisata agar sesuai dengan dana dan peruntukanya secara detil dengan hasil maksimal.

Sifatnya sudah mendesak,agar diketahui jelas skala prioritas sejalan dengan kebutuhan perkembangan wisata hari ini.

Poltekpar Siagakan SDM Perhotelan-Kuliner

Sementara Politehnik Pariwisata Palembang kini mulai menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM), seni kuliner dan perhotelan.

Namun secara identik pola untuk di Sumsel sendiri kekhasan ada pada Kuliner.  Seperti contoh makanan khas pempek sekarang sudah mendunia dan diakui karena warisan budaya tak benda.

“Kita akan membuat pusat kajian kuliner Sumsel supaya kuliner-kuliner di Sumsel dapat terdokumentasi dan terdata juga tercatat dengan baik. Semoga tidak punah warisan Tradisional bangsa,” kata Dilla Pratiyudha Sayang Batti selaku

Deputy Director For Academic and Student Affair, Dilla Pratiyudha Sayang Batti didampingi Ketua Prodi Kuliner Poltekpar Palembang, Donni di Atrium OPI Mall Jakabaring.

Wakil 1 Direktur bidang Akademik dan kesiswaan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Negeri Palembang, dibincangi Swarnanews pada acara Jakabaring Food Expo Atrium OPI Mall Palembang, Sabtu (17/11).

Menurutnya, lulusanya ini nantinya akan siap ditempatkan di industri.

“Ada empat program studi yang ada di Poltekpar Palembang yakni Pagelaran Acara, Seni Kuliner, Tata Ruang dan Divisi Dagang. Selama ini Poltekpar Belum meluluskan Alumni-Alumni Poltekpar karena sampai saat ini Poltekpar Baru berdiri dua tahun ini,” ujarnya.

Poltekpar Palembang memiliki visi dan misi yang dapat bersaing secara global namun berkebudayaan Indonesia. Artinya kepribadian itu tetap ramah dan  kerjasama  Untuk dapat bersaing di dunia internasional.

“Poltekpar sendiri sudah bekerjasama dengan beberapa institusi di negara luar   salah satunya seperti Swiss untuk penempatan tenaga kerja dan praktek kerja lapangan (PKL). Sekarang sudah berada di Belgia, Marriott, Dubai Thailand Malaysia. Kebetulan Tahun depan sudah ada kerjasama untuk memberangkatkan PKL ke New York Amerika Serikat,” jelasnya.

Selain itu, peluang besar pariwisata di Sumsel saat ini, menurutnya kuliner dengan sumber daya alam yang baik tentu dapat mempunyai potensi agar lebih baik. Masing-masing kuliner mempunyai kekhasan yang dapat diangkat  dan sport religi sejarah dan situs-situs  yang mengandung historis.

“Itu wajib untuk diangkat kemungkinan di Sumsel ini belum bisa menciptakan histori atau sejarah tempat-tempat tersebut karena banyak sekali wisata perlu diangkat di Sumsel ini,” terangnya.

Sementara itu, untuk pola pengenalan sendiri Poltekpar melaksanakan event-event dan Pagelaran agar masyarakat paham bahwa Sumsel memiliki kekhasan seperti ini supaya  mudah dalam mengenalkan di luar dalam membawa visi dan misi kuliner lokal Sumsel.

“Setahun lalu, anak Politekpar mendapatkan juara ke-3 di Jakarta tingkat internasional membuat masakan kuliner Pindang tempoyak. Ini sangat prestasi yang luar biasa dalam mengenalkan budaya lokal Nusantara Sumsel,” paparnya.

Kedepan, Poltekpar akan mengangkat Kuliner-kuliner lokal di mata internasional kekayaan kuliner di Palembang ini agar mudah terkenal, pungkasnya.

Poltekpar Diminta Tidak Main-main

Gubernur Sumsel Herman Deru (HD) menghimbau kepada Politeknik Pariwisata Palembang (Poltekpar) agar tidak main-main dan dapat mengambil peran dalam pengembangan potensi pariwisata Sumsel dengan bekerjasama dinas terkait.

Penghargaan Piala API 2018 diserahkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel, Irene Camelyn Sinaga kepada Gubernur Sumsel Herman Deru di Kantor Pemprov Sumsel, Jumat siang.

HD menilai dengan adanya Sumber Daya Manusia (SDM) Poltekpar potensi kepariwisataan di Sumsel dapat lebih berkembang.

Bicara Pariwisata, kata HD tentu Sumsel cukup bangga dan bersyukur karena sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Provinsi Sumsel sangat luar biasa. Namun potensi ini juga harus ada faktor penunjang yaitu SDM.

“Kita berterima kasih kepada Menpar RI yang sudah membangun serta mengembangkan Poltekpar. Kita yakin Poltekpar akan menguntungkan Sumsel dalam hal kualitas SDM-nya,” sambungnya.

HD juga menginginkan Poltekpar bersama Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel dapat menggali keaslian Sumsel, salah satu pengembangan taman purbakala.

“Bukan hanya itu, saya juga ingin kembangkan wisata religi ini bisa menjadi magnet besar dalam memajukan pariwisata kita dan meningkatkan kesejahteran rakyat,” pungkasnya.

Palembang-Sumsel Terima Penghargaan Kepariwisataan

Dua destinasi wisata Kota Palembang yakni Kampung Al-Munawar dan Alquran Akbar menerima penghargaan peringkat pertama atau terpopuler pada ajang bergengsi Anugrah Pesona Indonesia (API) 2018 dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (RI) di Puri Agung BallroomHotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Kamis (22/11) malam.

Dua penghargaan tersebut, katagori wisata halal terpopuler (juara 1)  yakni Al Quran Al – Akbar dan katagori kampung adat terpopuler (juara 1) Kampung Al Munawar.

Penghargaan sendiri diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya melalui Deputi I Pemasaran Kementerian Pariwisata RI Masruro kepada  Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda.

“Dua penghargaan ini akan menjadi motivasi kita disektor pariwisafa untuk dikembangkan lebih baik lagi, dan nantinya mata dunia akan tertuju di Palembang,” kata Wakil Walikota Palembang, Fitrianti Agustinda.

Selama ini, Kota Palembang hanya menjadi kota hiburan dan jasa perhotelan, tidak lama lagi, sektor wisata akan mendominasi menjadi sektor pendapatan yang paling besar di daerah, sesuai dengan permintan Presiden RI.

“Tentunya akan berimbas sangat besar pada pendapatan untuk mendongkrak perekonomian rakyat seperti UKM dan IKM yang ada, sehingga produk kerajinan dan makanan khas kita akan lebih diburu para wisatawan, Sektor ini juga bisa memberikan banyak dampak positif kepada daerah  kita selain pemasukan untuk kas daerah juga dapat mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah termasuk usaha kreatif,” tegasnya.

Di tempat yang sama Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang Isnaini Madani mengatakan, suatu kebanggan dua destinasi wisata di Kota Palembang menjadi dua tempat terpopuler di ajang API 2018.

“Malam ini ada empat Gubernur dan  lebih kurang 50 kepala daerah  Walikota dan Bupati yang mendapatkan penghargaan bergengsi Anugrah Pesona Indonesia (API)  2018 salah satunya Kota Palembang yang mendapatkan penghargaan  wisata halal terpopuler dan wisata kampung adat terpopuler,” ungkapnya.

Dua tempat wisata ini, kata Isnaini terpilih yang ditunjuk langsung dari pemerintah pusat dinilai secara votte. “Ini bagian untuk mewujudkan visi misi Palembang Emas Darusssalam 20123,” katanya.

Kedepannya, kata Isnaini, tidak hanya dua katagori yang ingin di raih kota tertua di Indonesia, beberapa destinasi wisata baru juga akan dikembangkan untuk menjadi penilaian pemerintah pusat di tahun depan.

Adapun, destinasi wisata yang disiapkan untuk menarik perhatian pemerintah pusat agar destinasi baru wisata baru yang tengah digalakan dan di tata yakni,  Destinasi Wisata Sekanak Bersolek, Gudang Boentjit, Tugu Belido.

Termasuk beberapa kawasan yang tengah ditata dengan cara mengandeng pihak ketiga, yakni, destinasi wisata Kampung Air Pulo Kemarau, Kampung Sungai Lumpur di 10 Ulu, Kampung Kapitan.

“Untuk menjadikan tempat itu agar menjadi daya tarik pemerintah pusat untuk diajukan lomba di tingkat nasional, kita perlu penataan kreativitas, kenyamanan, kebersihan kemanan dan keramahan masyarakatnya,” tegasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumsel kembali unjuk gigi di kancah nasional. Menyisihkan 33 provinsi lainnya se Indonesia, Sumsel dinobatkan menjadi Juara Umum Anugerah Pesona Indonesia 2018.

Penyerahan anugerah bergengsi ini dilakukan oleh API 2018 bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI di Hotel Sahid, Jakarta Kamis (22/11) malam.

Selanjutnya, Jumat siang, penghargaan inipun diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel Irene Camelyn Sinaga kepada Gubernur Sumsel Herman Deru di Kantor Pemprov Sumsel.

Atas prestasi ini, Gubernur HD mengucapkan apresiasinya pada Forum Pesona Sriwijaya yang telah bekerja keras membawa nama baik bagi Sumsel.

“Saya ucapkan selamat semoga kedepan Sumsel ada destinasi baru lagi. Prestasi ini harus diinformasikan ke masyarakat sampai level paling bawah. Biar mereka juga tahu Sumsel ini punya banyak destinasi yang membanggakan,” jelas HD.

Dalam kesempatan itu HD juga meminta Disbudpar dan Forum Pesona Sriwijaya menghidupkan kembali wisata hutan Puntikayu yang ada di tengah kota. Menurutnya TWA Puntikayu sangat potensial hanya saja pengelolaannya selama ini belum maksimal. Padahal TWA ini diminati masyarakat sebagai alternatif destinasi wisata yang terjangkau di kantong.

“Ini harus menjadi trigger agar masyarakat makin paham destinasi di Sumsel,” jelas HD singkat.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Irene Camelyn Sinaga menjelaskan bahwa untuk mendapatkan prestasi ini mereka sudah melakukan persiapan sejak 6 bulan lalu.

“Terima kasih untuk Forum Pesona Sriwijaya  dan para penggiat media sosial yang telah bekerja keras selama 6 bulan untuk kemenangan ini. Mulai dari perumusan, pengajuan nominasi, menyiapkan tim koordinator untuk pemenangan  dan promosi di kab/kota di Sumsel. Sehingga 7 nominasi juara ini mangantarkan Sumatera Selatan menjadi juara umum Anugerah Pesona Indonesia Award tahun ini,” jelas Irene.

Dijelaskan Irene, sejak bulan April mereka mengajukan 18 kategori destinasi yang dipertandingkan melalui voting. Dari 18 destinasi itu sebanyak 7 destinasi lolos seleksi. Kemudian di akhir voting pada 30 Oktober 2018,  7 destinasi itu berhasil keluar sebagai juara.

“Ketujuh destinasi itu semua keluar sebagai juara dengan voting terbanyak masing-masing 3 destinasi juara 1 dan 4 destinasi lainnya juara 2 sehingga berhasil mengablntarkan Sumsel sebagai juara umum,” papar Irene.

Adapun 7 destinasi tersebut yakni  Juara 1 Kampung Adat Terpopuler – Kampung Al Munawwar Palembang, Juara 1 Wisata Halal Terpopuler – Al-Quran Al Akbar Palembang, Juara 1 Wisata Unik Terpopuler – Pelancu Lahat.

Kemudian Juara 2 Dataran Tinggi Terpopuler – Gunung Dempo Pagaralam, Juara 2 Objek Wisata Unik Terpopuler – Taman Nasional Sembilang Banyuasin, Juara 2 Wisata Olahraga dan Petualangan Terpopuler – Mountain Bike Bukit Sulap Lubuk Linggau, Juara 2 Promosi Pariwisata Digital Terpopuler – Pesona Sriwijaya.

“Ini bukan hanya kemenangan kabupaten dan kota ataupun provinsi. Ini adalah kemenangan kita semua  dan milik teman-teman komunitas,” pungkas Irene.(*)

Teks : Asih, Herwanto, Fuad, Devi
Editor : Asih
Foto    : Asri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *