MUBA Bangun Stasiun Pengumpul Minyak

SWARNANEWS.CO.ID, MUBA | Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin mengatakan, pembangunan stasiun storage dan station settling yang dibangun PT Petro Muba merupakan salah satu cara mewujudkan Kabupaten Musi Banyuasin sebagai lumbung energi di Sumatra Selatan.

Untuk diketahui, station storage dan station settling oleh PT Petro Muba ini untuk penampungan sementara dan transportasi minyak mentah sumur tua di Kelurahan Babat Toman, Kecamatan Babat Toman, Musi Banyuasin.

“Pembangunan storage juga dinilai sebagai pengelolaan sumur tua secara aman dan kondusif untuk terciptanya zero illegal drilling dan zero illegal refinary. Upaya ini merupakan yang pertama di Indonesia yang dikelola oleh BUMD(Badan Usaha Milik Daerah) PT Petro Muba,” kata Dodi Reza pada peresmian stasiun penampungan minyak mentah tersebut, yang dihadiri Gubernur Sumsel Herman Deru, Rabu (19/12).

Dodi Reza Alex mengaku prihatin jika selama ini pengelolaan minyak mentah sumur tua dilaksanakan dengan tingkat keamanan yang sangat minim. Kondisi tersebut tentunya mempunyai risiko yang sangat tinggi dan sangat rentan terhadap keselamatan pekerja itu sendiri.

“Dengan kerja sama ini kita bisa meminimalisir angka kecelakaan kerja dengan berpedoman pada HSSE,” ungkap Dodi.

Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, stasiun pengumpul minyak yang ada di Kelurahan Babat Toman yang dibangun oleh PT Petro Muba dengan PDPDE Gas, salah satunya bertujuan untuk menampung minyak-minyak mentah yang dihasilkan oleh para penambang liar sehingga menjadi legal.

Menurutnya, tidak ada seorangpun yang ingin melakukan perbuatan ilegal. Namun, tinggal bagaimana pemimpin untuk membuat kanal yang ada di wilayah abu-abu menjadi terang atau legal.

“Membuat terobosan dan menjelaskan yang benar, sehingga dapat membuat stasiun pengumpul ini berjalan baik. Sehingga yang marjinal atau di sumur tua menjadi sah apabila sudah masuk di sini (stasiun), jadi dampak hukum yang selama ini membuat khawatir masyarakat menjadi berkurang,” ungkapnya.

HD mengatakan, potensi hasil sumur marjinal atau sumur tua sangat banyak, belasan bahkan ratusan ribu barel per hari. Namun daya tampung masih sedikit. Artinya ada masyarakat yang tidak mampu melegalkan minyaknya.

“Jadi harus dibangun lebih besar lagi stasiun pengumpul. Pada akhirnya minyak yang dikelola masyarakat di Muba ini tidak lagi menjadi ilegal,” katanya.

Dengan adanya stasiun pengumpul minyak, diharapkan dapat mengurangi aktivitas ilegal maining atau penyulingan ilegal yang saat ini sangat marak dilakukan masyarakat. Di mana penyulingan ilegal sering terbakar atau meledak yang berujung pada timbulnya korban.

“Kita ingin minyak Muba ini keluar tidak ilegal lagi atau menjadi legal. Namun, harga yang dibeli harus disesuaikan, jika harga yang dibeli tidak bersaing, minyak juga akan berlari ke luar,” imbuhnya.(*)

Teks : Fuad
Editor : Asih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *