Paradigma Karakter Bela Negara Menuju Indonesia Gemilang

Oleh: Dr. Ir. Parlaungan Adil Rangkuti MSi
Ketua Umum Forum Komunikasi Kesadaran Bela Negara
(FOKUS BELA NEGARA)

Memperingati hari bela negara 19 Desember 2018, merupakan momentum strategis dalam pembangunan karakter bela negara sebagai paradigma pembangunan karakter bela negara menuju Indonesia gemilang. Saatnya melakukan gerakan nasional untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai dasar bela negara untuk menumbuhkan rasa cinta Tanah Air, semangat kebangsaan dan jiwa patriotisme atau kejuangan.

Dengan nilai-nilai dasar bela negara yang bersumber dari nilai-nilai yang terkandung dalam konsepsi NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan konsepsi kebangsaan lainnya seperti Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, Kewaspadaan Nasional dan sebagainya merupakan potensi yang dapat membangun sikap dan perilaku sebagai karakter bela negara bagi setiap warga negara. Membangun karakter bela negara pada dasarnya merupakan upaya untuk mewujudkan amanah konstitusi, karena istilah bela negara tercantum dalam UUD 1945 pada Pasal 27 ayat (3) yang berbunyi “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”.

Bela negara secara konstitusional mengikat tiap warga negara sebagai hak dan kewajibannya untuk ikut serta dalam upaya pembelaan negara. Hak bela negara dapat diartikan sebagai hak konstitusi dan hak asasi tiap warga negara untuk berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negaranya sebagai wujud dari rasa cinta Tanah Air, semangat kebangsaan dan jiwa patriotisme yang tulus dan ikhlas di lingkungan masing masing atau publik dan tidak berentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang belaku.

Kewajiban bela negara dapat diartikan sebagai kegiatan yang wajib dilaksanakan tiap warga negara berdasarkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Sesungguhnya pasca Proklamasi kemerdekaan tahun 1945, bangsa Indonesia telah melaksanakan upaya bela negara dengan gigih untuk mengatasi berbagai bentuk ancaman yang datang dari dalam negeri atau luar negeri.

Karakter bela negara telah tumbuh sebagai nilai-nilai juang bangsa dalam menjaga, melindungi dan mempertahankan NKRI hingga saat ini. Bangsa Indonesia berjuang tanpa henti sejak melawan kolonial Belanda dan pasukan sekutu, serta mengatasi berbagai konflik dalam negeri pasca Proklamasi kemerdekaan yang datang silih berganti dengan banyak korban jiwa.

Kini bangsa Indonesia memasuki awal abad ke-21 dengan era baru yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang luar biasa dan era globaisasi yang sangat dinamis. Telah terjadi perubahan peradaban dari tradisional menuju dunia modern dengan berbagai peluang yang besar untuk maju, tapi juga berbagai bentuk ancaman baru yang lebih berbahaya. Bentuk-bentuk ancaman yang dihadapi oleh bangsa Indonesia telah ikut berubah dari perang konvensional menjadi perang modern. Di samping ancaman perang dengan kekuatan militer berkembang perang non-milter yang tidak kalah bahayanya bagi kelangsungan hidup suatu bangsa dan negara.

Perang non-militer dalam bentuk nilai-nilai baru yang tidak seiring dengan nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia cenderung semakin tumbuh dan berkembang menjadi sikap perilaku seperti: individualisme, materialisme, kapitalisme, liberalisme, hedonisme, radikalisme, intoleransi, tidak ramah lingkungan, boros energi, senang berita hoax, berkembang saling fitnah dan sebagainya. Oleh karena itu upaya membangun karakter bela negara diperlukan untuk kesamaan pemahaman, pandangan, dan gerak langkah dalam rangka menjamin eksistensi NKRI dan mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Dengan karakter bela negara yang membudaya diharapkan akan menjadi kekuatan yang dahsyat untuk bangkit bersama mengantisipasi dan mengatasi semua nilai-nilai baru yang tidak seiring atau bertentangan dengan nilai-nilai dasar bela negara.

Karakter bela negara harus menjadi bagian dari karakter bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang religius, sopan-santun, suka menolong, gotong-royong, empati, toleransi, pekerja keras, gemar belajar dan sebagainya sebagai jatidiri bangsa Indonesia. Membangun karakter bela negara sebagai upaya intervensi nilai-nilai dasar bela negara bagi setiap warga negara memerlukan konsepsi yang mampu mengikuti perkembangan jaman seiring dengan perubahan nilai-nilai baru yang terus akan berubah.

Sikap perilaku bela negara masyarakat yang cenderung bersifat pasif reaktif harus dapat berubah menjadi aktif partisipatif sebagai paradigma baru. Artinya dalam melihat setiap masalah atau ancaman dari sudut pandang yang sempit dan masih terbatas pada lontaran kritik dan belum bersikap ikut serta mencari solusi, diharapkan berkembang menjadi melihat setiap masalah atau ancaman dari sudut pandang yang holistik dengan sikap perilaku yang aktif partispatif dalam mencari solusi tiap masalah atau ancaman.

Saatnya masyarakat dalam melihat berbagai bentuk masalah atau ancaman yang ada di lingkungan masing-masing atau publik “sebagai masalah bersama atau bangsa dan bertanya pada diri sendiri apa yang dapat saya atau kita buat untuk mengantisipasi atau mengatasinya sesuai dengan profesi dan kemampuan yang ada di lingkungan masing-masing atau publik dalam rangka bela negara”. Perubahan silkap dan perilaku bela negara tiap warga negara dari pasif reaktif menjadi aktif partisipatif merupakan paradigma pembangunan karakter bela negara yang sangat mendasar dalam rangka pembangunan karakter bangsa menuju Indonesia yang gemilang.

Transformasi nilai-nilai dasar bela negara harus mampu membangun paradigma karakter bela negara yang dapat mengantisipasi atau mengatasi nilai-nilai baru yang dapat memperlemah rasa cinta Tanah Air, semangat kebangsaan dan jiwa patriotisme. Transformasi nilai-nilai dasar bela negara dalam era baru saat ini memerlukan pendekatan yang edukatif, persuasif, humanis, sejuk, gembira dan menarik, terutama bagi generasi milenial. Diharapkan dengan paradigma bela negara aktif partisipatif, seseorang yang melihat sampah di lingkungannya atau publik adalah masalah bersama atau bangsa, dan dengan tulus ikhlas berniat dan berbuat untuk melakukan sesuatu secara nyata mengatasinya.

Seseorang yang berada di perjalanan, dengan sikap dan perilaku bela negara aktif partisipatif selalu berniat dan berupaya berbuat untuk ikut serta mengatasi kemacetan dengan tertip berlalu lintas. Seseorang yang menghagai karya bangsa sendiri, dengan sikap dan perilaku bela negara aktif partisipatif selalu berniat membeli dan menggunakan produk dalam negeri, seperti hasil para petani dan industri kerajinan rakyat dan sebagainya. Sebagai bangsa yang religius dalam keberagaman, dengan sikap dan perilaku bela negara aktif partisipatif akan menjadikan toleransi sebagai sikap wujud nilai-nilai harmonisasi kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan sikap dan perilaku paradigma bela negara yang aktif partisipatif dari seluruh komponen bangsa akan menjadi kekuatan yang dahsyat dalam menghadapi dan mengatasi berbagai masalah aktual yang semakin kompleks dan dinamis yang ada di lingkungan masing-masing dan lingkungan publik. Metoda dalam membangun karakter bela negara melalui jalur pendidikan, pekerjaan dan jalur pemukiman memerlukan pendekatan yang tepat agar transformasi nilai-nilai yang sifatnya abstrak itu dapat menggugah hati tiap warga negara sehingga tumbuh kesadaran bela negara yang pada gilirannya dengan tulus dan ikhlas melakukan aktualisasi bela negara sesuai dengan profesi dan kemampuannya.

Konsep pengembangan paradigma karakter bela negara harus mampu menyesuaikannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta era globalisasi dengan berbagai metoda yang tepat seperti: pembelajaran kreatif, model kolokium, komunikasi efektif, komunikasi antar budaya, model kaderisasi, model bola salju (snow ball), cara ceramah, melalui media digital, model pendidikan dan latihan (dik-lat) dan sebagainya.
Selamat Hari Bela Negara 19 Desember 2018.

Penulis :
– Pensiunan Dosen IPB, Alumni Resimen Mahasiswa
– Mantan anggota DPR/MPR RI
Alamat: Jl. Villa Intan Pakuan, Bogor.

Editor : Sarono PS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *