Para Pendiri HMI Kebanggaan Bangsa, Organisasi & Keluarga

6 Februari 2019 9:54 am,

Keluarga Besar HMI Ziarahi Makam Dahlan Husein

SWARNANEWS.CO.ID, OGAN ILIR | Gagasan besar para pendiri organisasi kemahasiswaan dan Kepemudaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tepatnya 5 Februari 1947 di Sekolah Tinggi Islam (STI) kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, jadi kebanggan bangsa, organisasi dan keluarga, karena hingga kini masih memainkan peran dan kifrahnya. Organisasi HMI yang lahir dimotori oleh Lafran Pane, Suwali, Kartono Zarkasyi, Dahlan Husein, Siti Zainah Alatas, Maisaro Hilal, Yusdi Ghozali, Mansyur, M Anwar, Hasan Bari, Marwan dan Zulkarnain.

Hal ini disampaikan, Saiful Islam mewakili keluarga dan tokoh HMI pada rangkaian Jalan Sehat Nasional (JSN) Palembang 2019,  saat melakukan ziarah ke makam para  pendiri HMI, Dahlan Husein, Siti Zainah Alatas  yang ada di desa Tanjung Atap, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir (OI) Minggu (5/2).

“Diusia ke 72 Tahun, kifrah dan perannya dalam kehidupan bangsa, baik dimasa perjuangan dan pembangunan  membuktikan bahwa HMI mempuyai andil besar bagi bangsa ini,” ucapnya.

Syaiful Islam menambahkan, senada dengan Sudirman Dahlan putra dari Dahlan Husein dan Siti Zainah, bahwa kedua orang tuanya sama-sama pendiri HMI yang kala itu kuliah Sekolah Tinggi Islam (STI) sekarang menjadi Universitas Islam Indonesia UII, Jogjakarta. Keduanya merupakan pibadi yang santun, memberikan tuntunan bagi keluarga menjadi bagian dari tokoh pendiri HMI. Juga tauladan dan kebanggaan bagi keluarga, organisasi dan bangsa. “Untuk itu kita harus menjaga marwah organisasi,” ucapnya.

“Alhamdulillah tokoh asal Palembang, Sumsel dan Jogjakarta ini merupakan pasangan suami istri yang mengmbil peran dan pelaku sejarah besar HMI di masa sulit, kala itu,” sambungnya.

Sementara, Azimi Asnawi mantan Ketua Umum HMI Cabang Palembang periode 1994-1995. Bahwa Dahlan Husein dan Siti Zainah pribadi yang bersahaja. “Saya beruntung sempat ketemu kedua pasangan aktifis HMI itu,  Beliau berdua orang santun, menyenangkan dan mengayomi. Kami juga sempat mendampingi Prof Dr Agussalim Sitompul, sejarawan HMI yang datang dari Jogjakarta untuk wawancara dalam rangka penulisan histografi HMI, ujar putra desa Tanjung Atap ini,” ceritanya.

Azimi menambahkan, pemikiran keislaman, keilmuan dan kebangsaan yang melatar belakangi berdiri dan independensi HMI ini jangan sampai ‘diseret-seret ke dalam politik praktis.

“Karena itu cita-cita, niat dan perjuangan luhur ke Indonesiaan dan ke Islaman. Mari kita rawat marwah organisasi dan cita-cita luhur para pendiri itu,” ajaknya.

Ziarah dan Do’a

Ziarah yang didahului pengiriman al fatihah kepada pendiri HMI, dilanjutkan yasinan dan do’a. Kemudian diteruskan ziarah ke makam Kiayi Haji Syeh Buchori Pandak,  Kiayi Moehammadi Ali, Pendiri Ponpes Nurul Yaqin, napak tilas ke kediaman Dahlan Husein dan Siti Zainah serta silaturahim dengan tokoh masyarakat, yaitu Yusron Rifa’i dan solat berjama’ah.

Pada ziarah itu, diikuti Ketua Panitia JSN, Henny Susanti dan panitia lainnya, tokoh masyarakat, para alumni HMI.

Mewakili keluarga Dahlan Husein, Sudirman mengucapkan terima kasih karena kader-kader HMI menjadikan agenda rutin ziarah. Dirinya merasa terharu atas kehadiran kader dan tokoh HMI.

Azimi Asnawi juga mensuport agar setiap ganti kepengurusan HMI ‘wajib’, bagi pimpinan HMI di Wilayah Badko HMI Sumbagsel untuk ziarah ke makam pendiri HMI itu.

Teks/Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait