Begini Cara Agar Milenial Tertarik Aktif di Masjid

7 Februari 2019 5:09 am,

Inovasi pengelola masjid untuk membuat program yang cozy sangat diperlukan.

SWARNANEWS.CO.ID, JAKARTA |Co-Founder dan Direktur Peace Generation Indonesia, Irfan Amalee, mengatakan banyak hal yang menyebabkan peran masjid semakin tergerus, salah satunya adalah pasifnya upaya Dewan Kepengurusan Masjid (DKM) untuk mengajak generasi milenial mencintai masjid.

Padahal, menurut Irfan, generasi milenial dapat sangat berpotensi kenaikan kembali kualitas dan peran masjid, bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan juga pusat peradaban.

Dia menilai, melalui pendekatan baru terhadap masjid ini, minat generasi milenial untuk rajin ke masjid akan lebih besar.

“Jadi bagaimana masjid menjadi magnet, bukan hanya sebagai tempat ibadah tapi juga sebagai tempat nongkrong yang positif,” kata Irfan sembari menambahkan, ” Ini bedanya cara berfikir generasi kolonial dan generasi milenial.”

Dia mengatakan, kekakuan DKM dalam memilih konten, baik ceramah, taklim maupun lainnya juga dapat menjadi alasan enggannya kaum milenial mendatangi masjid.

Kaum milenial, kata Irfan, cenderung menyukai sesuatu yang santai namun berbobot, terbuka dan tidak kaku. Sikap inilah, yang menurut Irfan perlu diterapkan oleh para DKM.

“Cara berfikir kita tentang otoritas DKM perlu diubah, karena memang untuk menarik generasi milenial harus menggunakan cara lain. Dan kalau kita tau ilmunya, masjid akan menjadi sumber ekonomi yang sangat efektif,” kata dia.

Terkait besarnya penyebaran paham radikal di masjid-masjid, cara yang cukup bijak, menurut Irfan, adalah bukan dengan mengkonter narasi radikalisme, tapi mengubah masjid menjadi tempat diskusi yang asik agar sesuai dengan sikap para milenial.

“Jadi bisa dengan mengajak milenial bekerja produktif di masjid, dan masjid dapat menarik minat untuk dikunjungi dan menjadi rumah dari ide-ide cemerlang yang terlahir disana,” ujar Irfan dalam peluncuran buku berjudul Masjid di Era Milenial: Arah Baru Literasi Keagamaan oleh Center of The Study of Religion and Culture Universitas Islam Negeri (CSRC UIN) di Jakarta, Rabu (7/2).

Teks: Rep

Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait