Bersiap Revolusi ke Era 4.0 atau Pilih Terdegradasi

80 Persen Lembaga Belum Siap
Universitas Riset Jangan sebatas ‘Uap’

Hari ini semua pihak mulai dipusingkan dengan masuknya era revolusi 4.0. Tidak hanya SDM di sejumlah perusahaan kelas kakap akan menanggung limbung tergeser oleh tenaga mesin dan kecerdasan buatan seperti Robot. Namun semua Perguruan Tinggi dan Universitas hari ini mendapatkan titipan PR besar agar bisa menelurkan SDM mampu menyaingi kecerdasan buatan di era 4.0 dan tidak menjadikan para lulusanya hanya sekedar menambah deretan jumlah pengangguran negeri ini kian menggunung.

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Menurut pakar Keuangan Global dan juga guru besar UI, Prof. Rhenald Kasali (12/2) di sela kunjunganya menghadiri seminar di Palembang, menekankan. Bertambahnya pangsa pasar dunia berkorelasi kuat dengan meningkatnya jumlah penduduk, otomatis akan menambah kebutuban pangan besar, bertambahnya kebutuhan air dalam jumlah banyak. Semua akan bermuara pada tuntutan keinginan pasar agar semakin mudah mendapatkan semua yang diinginkan.

Pakar Keuangan Global dan Guru Besar UI, Prof. Rhenald Kasali

Sepuluh tahun lalu, orang butuh uang tinggal datang ke Pegadaian dan bank. Hari ini, sudah ada Fintech tanpa jaminan, uang bisa didatangkan. Ujungnya nasib pegadaian bisa gulung tikar.

Dulu, untuk naik taksi butuh ratusan ribu. Sekarang cukup dengan Rp. 10.000 pun sudah bisa. Sistem low cost lagi-lagi menghantam bisnis taxi.

Bahkan pertemananpun yang dahulu hanya bisa masuk ke rumah pribadi dan kamar hanya dengan izin.Saat ini, sistem pertemananpun bisa masuk ke nomor WA pribadi tanpa izin.

Bahkan, ia seorang pencuri uangpun saat ini tidak perlu repot membobol bank seperti zaman dulu. Cukuo dengan skill tehnology pun bisa mencuri uang orang lain. Dan masih banyak lagi contoh lain yang sangat cepat perubahanya.

“Hanya ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh technology, yakni cinta dan kasih sayang,”sela Rhenald tersenyum.

Ia menyarankan semua pihak segera melakukan transformation model. “Jadi jangan pernah menyamakan pola fikir anak kita di era sekarang dengan kita zaman dahulu. Lakukan penyesuaian dengan segala pola didik yang baik terkontrol,”bebernya.

Perkembangan internet of think harus ditingkatkan sesuai proporsional kebutuhan, sehingga tidak ada alasan tidak bisa berubah sesuai perkembangan zaman.

Ia berharap ini bisa cepat disambut baik semua lembaga. Khususnya pemerintahan sebagai pemegang arah kebijakan bersinergi dengan semua lembaga riset yang ada. Khususnya di kampus-kampus.

Kuatkan Strategi Tripel Helix

Sementara, menyikapi fenomena seperti ini, Ketua BPK RI I Dr Agung Firman Sampurna juga berpesan perlunya menerapkan strategi Tripel Helix yang memadukan antara pemerintah, pemilik industri dan kelompok akademisi Perguruan Tinggi untuk menelurkan SDM berkualitas.

“Efek bonus demografi saat ini jika tidak dimanfaatkan oleh pemerintah, dengan sendirinya akan menjadi ancaman masa depan mendatang,”imbuhnya.

Jangan bangga dengan SDA yang melimpah saat ini. Batubara, Minyak, Posphat dan lainya. “Jika ini tidak dibarengi inovasi, termasuk SDM, maka SDA yang ada dengan sendirinya akan habis. Sudah waktunya, padu kearifan lokal dengan pemanfaatkan bonus demografi, dibarengi ‘edu peopl3’ setidaknya akan mampu memaksimalkan peran manusia kini mulai terdegradasi era 4.0.

Agung menyinggung, bagaimana seharusnya lembaga saat ini lebih cepat bersiap diri.

Menurutnya ada 3 cara strategis bisa dilakukan untuk membantu mempercepatnya.

Pertama, aset organisasi. Menurutnya, aset pertama milik organisasi yang harus diutamakan adalah informasi.

Di sini sebuah lembaga atau organisasi bisa diukur, mampu atau tidaknya mendapatkan akses data penting, bisa diolah menjadi pengetahuan dan bisa dikembangkan menjadi big data. Artinya , pemerintah harus memiliki kemampuan mengolah ini untuk bisa dikonsumsi publik dengan baik.

BACA JUGA  Fintech Bakal Rebut Pasar Jasa Keuangan

Kedua, inovasi dan tata kelola. Dengan inovasi, pemerintah bisa menemukan terobosan baru dan dengan inovasi juga bisa meningkatkan responsibilitas dan akuntabilitas, sehingga masyarakat merasakan manfaat yang nyata.

Sejauh ini ia menyorot pemerintah masih kurang berani melakukan ini. Sebab 95 persen rata rata gagal dalam masa mentoring pengerjaan karena banyak tidak tahan.

Ketua BPK RI I Dr Agung Firman Sampurna.

Padahal banyak pihak swasta masyarakat berhasil melakukan fungsi ini. Seperti dilakukan Aruma Community Development. Kini berhasil membangun kelompok nelayan berpendapatan Rp. 200 juta per bulan dan sudah bisa mengakses pasar eksport AS dan Eropa.

“Pekerjaan seperti ini kenapa masih banyak sulit dilakukan pemerintah. Padahal bisa dilakukan sekelompok Mahasiswa justru melakukan fungsi yang seharusnya dilakukan pemerintah,”ungkapnya.

Mendorong industri bisa tumbuh berbasis Rumah Tangga (RT) baru bisa dilakukan maksimal, apabila dikelola secara dinamis.

Masih banyak lagi contoh lain. Termasuk yang dilakukan Prestani Jatim, dimana mampu memberikan cash back 1 persen kepada petani dengan menjual harga cabe milik petani di bawah harga Rp.10.000 per kg. “Mereka sekarang masih berjalan, mereka mampu melakukan tugas ini harusnya dilakukan pemerintah, sayangnya kadang pemerintah cenderung ribet kalau melakukan hal serupa. Seperti membina komunitas dan mampu memberikan harga lebih baik,”.

Saat ini kelompok kelompok ini, masih terus mengembangkan usaha itu dengan telaten, termasuk menghubungkan pemasok dan pembeli.

Ia berharap kedepan pemerintah akan lebih sensitif dan mampu memaksimalkan Atrategi Tripel Helix. Pemerintah mampu mengakomodir potensi potensi SDA bersinergi dengan para pebinis dan Perguruan Tinggi sebagai pemilik lembaga riset.

Sehingga ada terobosan kongkrit yang bisa segera didapat dan dilaksanakan bersama.

Smart Farming jadi Peluang ‘Kinclong’

Managing Director Vice President Sinarmas Saleh Husin, pun mengemukakan hal senada, energi positif yang dibangun antara pemerintah, pebisnis dan perguruan tinggi akan sangat ampuh jika bisa dimaksimalkan penerapanya.

Ia mengambil permisalan di Perusahaan Sinarmas saat ini saja masih kekurangan banyak bahan baku khususnya untuk kertas.

Kebutuhan terus meningkat khususnya kertas untuk pakeging. “Dengan kondisi seperti sekarang ini, kita butuh para pengusaha bernafas panjang,”tegasnya.

Tahun 2017 saja sebagai gambaran, import bubur kertas bisa mencapai 1,59 Miliar USD. Sementara 1,36 Miliar USD untuk import kertas dari negara Canada, dan AS.

Sebagai gambaran kapasitas terpasang pabrik saat ini 11,025 juta ton untuk bubur dan 16,972 juta ton untuk kertas.

Sedangkan terpenuhi dan baru bisa roduksi mencapai 8,54juta ton untuk bubur dan 11,672 ton untuk kertas.

Ini dipenuhi dari 400 ribu hektar lahan di OKI saat ini, dengan share 45 persen dari milik petani mandiri dan 58 persen dari korporasi atau lembaga.

Ini baru peluang dari pasar kertas dan buburnya. Belum lagi potensi minyak sawit yang dikelola oleh Sinar Mas juga.

Husen menyebut, angka kebutuhan pasar minyak nabati dunia tahun 2050 bisa tembus di angka 199 juta ton.

Dengan total penduduk dunia 9,6 miliar jiwa di tahun 2050 tersebut setidaknya bisa menyedot angka kebutuhan minyak malah lebih besar dari prediksi.

Untuk itu dibutubkan konsep Smart Farming, mulai bibit unggul, tehnology mampu menjaga tanaman tahan kekeringan, bibit unggul tahan hama untuk meningkatkan produksi juga bisa menghasilkan tanaman dengan kandungan kadar minyak tinggi.

BACA JUGA  Saatnya Merancang Bangunan Bersahabat dengan Cuaca

Jadi tidak saja fokus pada monitor setiap petak lahan tanaman. Lebih darinitu analisa kondisi tanaman setiap saat itu sudah sangat dibutuhkan saat ini.

“Kita butuh sinergi program pemerintah, pengusaha dan akademisi. Satu visi dan fokus, jangan jalan masing masing sehingga membuat banyak program tumpang tindih,”imbuhnya.

SDM dan riset disiapkan oleh perguruan tinggi. Pemerintah fokus pengadaan dan pengembangan tehnology dan pengusaha siapkan manajemen pengelolaan yang baik.

“Kita tidak bisa menunggu terus, namun sudah harus memaksimalkan langkah,”imbuhhya.

Tegaskan 5 Misi RPJMD

Melihat gejolak tuntutan era industri 4.0, Gubernur Sumsel Herman Deru, mau tidak mau pun angkat bicara.

Ia sendiri mengaku akan menghadapi era ini dengan 5 misi utama RPJMD, mulai perbaikan di lini ekonomi kerakyatan, Kualitas SDM, tata kelola pemerintahan yang bersih, membangun kuantitas dan kualitas SDM dan daya saing daerah, dan terakhir meningkatkab senu, budaya, wisata berorientasi pada wisata religi.

Ia sendiri berharap, ke lima pokok ini bisa dikembangkan dengan pola pola program berbasis kekinian sehingga out putnya mampu mensejajarkan kesejahteraan masyarakat Sumsel tanpa harus tertinggal dengan perkembangan industri era 4.0.

Kondisi kebutuhan middle-higher skill sudah tidak bisa dibantah lagi. Indonesia tercatat memiliki sumber daya luar biasa ke dua setelah Brazil.

Analoginya Film Black Panther bisa dicontoh. Bagaimana luar biasanya mereka berkembang secara tehnologi dari semua sisi, namun tidak merusak pokok sumber daya yang ada.

Universitas Mutlak Berbasis Riset

Gubernur Sumsel H Herman Deru.

Lantas bagaimana cara untuk menyelamatkanya. Universitas harus berfungsi sebagai basis riset lanjut Deru. Sehingga sunber daya yang ada bisa dikelola tanpa harus salah penanganan.

Saat ini pihaknya sudah cukup bangga, Kilang Minyak Pertamina Plaju sudah menjadi pilot project pusat konversi biodesel CPO 100 persen jadi Biodesel.

Kedepan hal hal bersifat pemanfaatan energi dari CPO harus dimaksimalkan. Sasaran kedepan minyak CPO 100 persen langsung bisa pakai tanpa harus diolah. Seperti penggunaan pembangkit listrik tenaga mesin diesel dari CPO.

Bahkan, pihaknya berharap kedepan semua harus siap dengan hal hal baru. Penggunaan tenaga listrik pada kendaraan, transaksi semua online, kecerdasan bisa digantikan oleh robot.

Siapa yang sangka, sepuluh tahun lalu, orang hanya mengenal raksasa bisnis seperti Petro Cina,Exson, GE, China Mobile, Microsoft,Sinopec. Namun ternyata di tahun 2018 nama nama tersebut sudah ditinggal.

Kini, masih merajai dan disebut sebut, Apple, Google, Amazon, Alibaba, JP Morgan dan FB.

Lantas bagaimana nasib lembaga lembaga saat ini lokal ini pada sepuluh tahun kedepan. Jika tidak segera bermetamorfosis semuanya akan ketinggalan dan ditiggalkan.

Ia berharap semua pemangkus kebijakan waktunya fokus dan fokus pemanfaatan sumber daya dan segera melakukan inovasi penyesuaian.

Jadilah pembelajar di semua sisi sehingga mampu mengangkat kesejahteraan rakyat Sumsel dan bisa berkontribusi pada Indonesia umumnya agar bisa terus bersaing.

Sementara Rektor Unsri Prof. Anissagaf beberapa waktu lalu juga menegaskan, pihaknya sudah fokus sebagai universitas riset. Dana pun semua diarahkan memaksimalkan ini.

“Kita juga mau jadi universiatas kelas dunia, jadi basis riset harus kuat. Kita berharap pemerintah dan semua pemangku kebijakan bisa bersama memanfaatkan,”tegasnya. (*)

Teks/Editor : Asih
Foto : Net

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait