Kebijakan Gas Waktunya Masuk Industri Transportasi

Pemda Dituntut Aktifkan Skema Cicilan Konverterkit
Pertagas Siapkan Dana Unlimited Bangun Jaringan

 

Gas, hari ini bukan hal yang ekslusif lagi dan hanya dikonsumsi oleh perusahaan besar. Sebaliknya, gas kini bagai primadona yang dibutuhkan semua khalayak. Dari masyarakat biasa konsumsi rumahan hingga perusahaan bonafit dunia untuk industri dan transportasi.

SWARNANEWS.CO.ID,  PALEMBANG | Hal inilah menuntut pemerintah daerah waktunya berbenah diri berani mengambil kebijakan cepat meluaskan kebijakan soal gas, tidak saja terbatas dengan jargas rumah tangga, namun mampu melibatkan Perusahaan Daerah (Perusda) memaksimalkan layanan SPBG dengan skema cicilan pembayaran konverterkit bagi masyarakat umum pengguna kendaraan BBG (Bahan Bakar Gas). Saat ini pihak Pertagas (Pertamina Gas) sudah menyatakan siap membangun jaringan gas dengan dana unlimited sesuai kebutuhan menjangkau semua jaringan.

Direktur pemasaran corporate PT Pertamina Persero, Basuki Trikora Putra, di sela kunjunganya peresmian Jargas di Prabumulih dan Palembang (30-31/1) lalu membeberkan, pemanfaatan SPBG kedepan harus dimaksimalkan. Contoh SPBG Prabumulih sudah luar biasa melayani ribuan kendaraan tidak hanya umum tapi juga industri.

Nah, semua Pemda harus bisa mencontoh ini, maksimalkan SPBG yang sudah ada untuk bisa dioptimalkan penggunaanya.

Basuki Trikora Putra.

Disinggung soal konverter kita mahal sehingga banyak kendaraan umum ataupun masyarakat berat membeli dan mengalihkan BBM ke BBG. Lagi-lagi Basuki menolak jika semua harus dibebankan pada pemerintah pusat.

“Ya, saya kira Pemda masing masing harus kreatif lah ya. Supaya gas ini bisa efektif, SPBG yang ada maksimal penggunaanya. Kan bisa tunjuk Perusahaan Daerah (Perusda) untuk memanajemen ini. Bisa menggunakan skema cicilan bagi masyarakat yang mau membeli konverterkit untuk beralih kendaraanya ke BBG. Sehingga gas ini nanti benar benar teralokasi dan maksimal penggunaanya dan SPBG benar benar dimanfaatkan,” bebernya.

Disinggung soal beberapa SPBG yang sudah dibangun, namun belum teraliri gas, seperti di Simpang Bandara kota Palembang. Diakuinya, semua masih menunggu progres konsumen pengguna BBG (Bahan Bakar Gas).

“Ya, itulah, SPBG yang ada seperti di Demang Lebar Daun Palembang itu, sejauh ini dilihat hasilnya memang belum maksimal. Dalam arti, penggunaanya belum sesuai dengan target alokasi gas sudah diteken disediakan Medco. Masih banyak sisa alokasi, makanya SPBG yang lain belum bisa dialiri. Kita berharap tadi, Pemda melalui Perusda bisa mencari solusi supaya penggunaan BBG bisa familiar dan memasyarakat sehingga tidak hanya menggunakan BBM. Namun BBG sudah bisa dijadikan substitusi BBM, ” harapnya.

BACA JUGA  Pembangunan Pabrik NPK Pusri Disoal

Bisa dibayangin, sambungnya, total gas yang tersedia saat ini mencapai 2.100 juta MMSCFD, jika ini hanya digunakan melayani pelanggan gas rumah tangga saja, diprediksi seluruh Indonesia mencapai 100 ribu rumah pemakai dengan kebutuhan 1 MMSCFD, jika bertambah hingga 69 juta pelanggan saja, baru terpakai sekitar 700 MMSCF saja per hari.

“Makanya kita butuh maksimalkan gas yang ada, untuk kendaraan melalui SPBG yang tersedia, dimana kebutuhan konverterkitnya kita serahkan ke pemda masing masing melalui Perusda, hingga memaksimalkan gas untuk layanan industri industri yang ada, ” tegasnya lagi.

Medco Selalu Siap Suplay

Humas PT Medco EEP, Sutami di sela kunjunganya pada peresmian Jargas Prabumulih tersebut juga menegaskan, prinsipnya pihaknya sangat merespon kerjasama dengan semua pihak.

Humas PT Medco EEP, Sutami.

“Kalau soal suplay semua kita salurkan sesuai perjanjian kontrak yang tertuang, ” Kata Sutami.

Soal SPBG yang sudah dibangun, namun belum dialiri gas, menurut Sutami bukan ranah Medco tanggungjawabnya.

“Tapi setahu saya memang belum ada permintaan baru dari mentri untuk pengaliran gas seperti SPBG di Palembang. Kalau ada permintaan pasti akan kita laksanakan, ” tegasnya.

Sutami sempat menyebutkan, dari alokasi untuk SPBG yang sudah ada sejauh yang ia ketahui memang belum maksimal terpakai. Sehingga cukup berkorelasi, jika ada SPBG yang sudah dibangun, namun belum ada kontrak perjanjian perintah untuk mengaliri gas. Sepatutnya memang maksimalkan dahulu SPBG yang sudah ada.

Pertagas Siapkan Budget Unlimited Bangun Jaringan

Manager Area Sumbagsel PT Pertagas (Pertamina Gas) Waluyo, saat dijumpai di kantornya (01/04) mengungkapkan, soal pembangunan jaringan gas, Pertagas tidak ada masalah apapun.

“Kapan saja ada perintah bangun, kita siap membantunya. Baik sifatnya penugasan dari pemerintah berupa Jargas rumah tangga, bahkan jaringan industri yang sifatnya Busines to Busines (B to B), ” kata Waluyo.

Memang diakui Waluyo, selama ini jaringan yang ia bangun banyak berfokus pada gas industri, seperti PT. Pusri, Pabrik Karet, perusahaan besar lain. Namun, tidak menutup kemungkinan, Pertagas juga mengerjakan jaringan yang diinstruksikan oleh pemerintah seperti program jargas dari APBN.

Ya, contohnya seperti di Prabumulih yang diresmikan lalu. Meski sebelumnya pembangunan diserahkan oleh kementrian pada pihak lain dengan APBN, ternyata tidak tuntas, akhirnya ditunjuklah Pertagas untuk menyelesaikan. Namun Pertagas tetap menerima pengerjaan itu.

Meski faktanya proyek jargas APBN memang banyak dikerjakan pihak non Pertagas.

Oleh sebab itulah, Image Pertagas selalu fokus jaringan gas swasta alias B to B. Padahal kan faktanya bisa juga mengerjakan proyek jargas APBN jika ditunjuk.

BACA JUGA  Kembalinya 'Teratai Putih Kampung Baru' Imbas Kebijakan Publik Gagal

“Berapapun dibutuhkan, asal ada permintaan untuk rencana pengaliran gas. Pertagas prinsipnya siap bangun, berapapun nilai dan panjang dibutuhkan, ” tegas Waluyo.

Soal rencana pembangunan jaringan baru untuk industri ke Tanjung Api-Api untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) lebih kurang sepanjang 70 km, Waluyo juga menegaskan siap memuai kapan pun jika sudah dibutuhkan.

“Jadi semua industri yang sudah siap beroperasi ke KEK TAA, kita akan bangunkan pipanya. Mau, Pusri maupun perusahaan lain kami siap. Artinya, kalau sudah ada industri di sana siap dan sudah ada kerjasama suplay gas, kita Pertagas siap bangunkan jaringanya sesuai kebutuhan, ” bebernya.

Manager Area Sumbagsel PT Pertagas (Pertamina Gas) Waluyo.

Mengenai progres 2019, Pertagas sifatnya hanya menunggu progres, jika sudah ada Rencana Kerja Anggaran (RKA) dari APBN atau pihak perusahaan gas untuk pembangunan jargas, pihaknya akan siap langsung bangun. “Jadi semua tergantung permintaan dan pembangunan kebutuhan gas di masyarakat, ” Imbuhnya.

Sampai hari ini, para pihak yang sudah berkomitmen dengan jargas Pertagas. Pusri, Pertamina RU III, PLN Indralaya maupun Borang dan Kramasan termasuk proyek pembangkit di bawah komitmen Independen Power Plan (IPP), termasuk juga industri pabrik karet seperti Hoktong juga pabrik Grup Cap Orang Tua, juga SP2J, dan beberapa pabrik lain berorientasi pada elektrifikasi.

Kesemuanya dengan total 565 km. Dengan variasi diameter dari 8 Inc, 10 Inc, 12 Inc, 20 Inc dan 24 Inc.

Menurut pengamatan, faktanya, perkembangan kebutuhan industri memang masih stagnan di Sumsel. Selain sumber gas masih terbatas, untuk kontrak alokasi pun masih butuh banyak pertimbangan.

“Jual gas harus ada pembeli saat sudah digarap. Kalau tidak langsung ada pembeli, gas akan habis sia sia. Beda, dengan produk lain. Sehingga semua pihak harus seiring sejalan dan saling menunggu untuk jalan satu arah, saat gas siap, pembeli sudah ada jauh jauh hari, pipa juga bisa dibangun jika sudah ada kepastian pembeli,” jelasnya.

Contoh saja blok baru Saka Kemang Muba, kemungkinan baru 5 tahun keatas bisa mengalir menunggu Final Approvment Development (FAD).

Saat ini baru 310 MMSCFD yang sudah eksisting pipa. “Jadi Pertagas ini kalau tidak ada pembangunan jaringan baru gas, tugasnya hanya maintenance pipa yang ada, semua fokus dalam koridor bisnis eksisting, ” imbuhnya.(*)

Teks/Editor: Asih, Maya
Foto : Asri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait