Doktor dari IPB ungkap Sawah di Jawa Barat Mengandung Fosfor Tinggi

SWARNANEWS.CO.ID, JAWA BARAT | Tanah sawah di Jawa Barat telah mengalami penumpukan fosfor yang tinggi akibat pemupukan fosfor intensif oleh petani selama puluhan tahun. Hal tersebut diungkap Bambang Susanto pada sidang promosi doktoral di Institut Pertanian Bogor, Jum’at, 12 April 2019.

Bambang yang sehari-hari bertugas sebagai peneliti di Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Jawa Barat, juga menawarkan resep untuk mengubah fosfor yang menumpuk di sawah itu sebagai sumber pupuk. “Bisa ditambahkan kompos jerami dan dilakukan penggenangan secara berkala agar residu fosfor dapat terlepas dan diserap tanaman,” kata Bambang.

Dengan demikian, menurut Bambang, pemupukan fosfor tidak perlu terlalu banyak dilakukan petani karena petani dapat ‘menambang’ sendiri dari tanah sawah miliknya. “Cukup ikuti rekomendasi pemerintah dan jangan tergoda memberi pupuk fosfor overdosis,” kata Bambang.

BACA JUGA  Pusat Bagi-bagi Sarana Daur Ulang Sampah

Maklum, menurut Bambang, selama ini petani seringkali tidak percaya diri bila bertanam padi dengan pupuk anorganik yang sedikit.

Menurut Dr. Untung Sudadi dari Program Studi Ilmu Tanah, IPB, riset Bambang juga menambah khazanah keilmuan ilmu tanah di Indonesia karena mampu menggambarkan sawah-sawah di Jawa Barat yang terletak pada 3 bahan induk yang berbeda.

Bahan induk tersebut adalah sawah berbahan induk volkanik, sedimen, dan alluvial. “Deskripsi dari Bambang dapat membantu pemerintah untuk mempertimbangkan pilihan cara pengelolaan sawah di bahan induk yang berbeda,” kata Untung.

Staf Ahli Menteri Pertanian, Prof. Dedi Nursyamsi, setuju bahwa sawah di Jawa Barat mengandung fosfor yang tinggi. “Sepuluh tahun lalu baru 43% sawah di Jawa Barat yang kandungan fosfornya tinggi, sementara 41% masih tergolong sedang. Artinya kini penumpukan fosfor yang tinggi semakin banyak,” kata Dedi.

BACA JUGA  Jenazah Ibunda SBY Tiba Di Puri Cikeas Malam Ini

Hal itu dapat menjadi pertimbangan pemerintah dalam perencanaan pemupukan maupun efisiensi subsidi pupuk agar petani tidak terlalu tergantung pada pupuk fosfor dari luar. “Tentu pupuk organik akan terus kita sosialisasikan,” kata Dedi.

Bambang meraih gelar doktor dibimbing oleh Ketua Komisi Pembimbing, Dr. Ir. Atang Sutandi, M.Si dengan anggota Prof. Dr. Ir. Supiandi Sabiham, Dr. Ir. Syaiful Anwar, dan Dr. Arief Hartono.

Kontributor : Destika Cahyana
Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait