Ekspor Kopi Melalui Gerbang Sumsel

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Guna memajukan ekspor kopi di Sumsel yang merupakan daerah penghasil terbesar di Indonesia bahkan nomor 3 di dunia. Gubernur Sumsel H Herman Deru menilai masih kalah dengan Provinsi Lampung Bengkulu dan Padang soal ekspor.

Hal utamanya disebabkan karena Sumsel tidak memiliki Pelabuhan Samudera. Sedangkan Provinsi Lampung memiliki Dermaga.

“Sedikit demi sedikit ekspor komoditi akan di arahkan di Dermaga Tanjung siapi-api karena baru di resmikan beberapa bulan kemarin. Kedepan kopi akan di ekspor melalui gerbang Sumsel,” katanya saat Grand Launching Rumah Kopi Sumsel dan Virtual Office kantor bersama ekspor, di halaman Benteng Kuto Besak (BKB), Sabtu (27/4).

Deru menjelaskan, Sumsel maju tidak majunya tergantung pada promosi, untuk itu permohonan saya kepada Bank Indonesia (BI) jangan tanggung dalam melakukan sesuatu, apabila tanggung tidak akan maksimal.

“Khusus kepada BI bantu Sumsel agar para petani dapat mengecap dan merasakan kepada yang telah di berikan kebijakan dalam hal ini BI sebagai sektor keuangan,” ucap Gubernur Sumsel.

BACA JUGA  Petani di Banyuasin Ikuti Penyuluhan Budidaya Tanaman Karet

“Saya harapkan bukan hanya sekedar memberikan uang barang untuk di tanam tapi keilmuan yang terpenting. Bahkan jika ada kesempatan alangkah baiknya akan ada akademik kopi, dimana kopi ini bukan saja di produksi sebagai penghasilan petani dan pelaku perdagangan tetapi harus ada efek-efek lain bagi masyarakat Sumsel,” paparnya.

Kedepan, musium tekstil akan menjadi tempat pusat cagar budaya rumah kopi. Di sanalah akan menjadi etalase kopi Sumsel atau Sriwijaya yang akan menikmati merasakan pecinta sejati kopi.

Kepada bupati dan walikota yang terlibat secara langsung dalam industri kopi, bukan hanya meningkatkan produksi melalui sentuhan eksistensi saat pasca panen namun harus di perhatikan secara higienis.

“Coba renungkan tentang arti kesehatan lihat kopi di Sumsel di jemur di pinggir jalan tanpa lapisan, apakah higienis atau tidak,” tutupnya.

Global ekonomi di tahun 2019 lebih berat dari tahun 2018, IMF mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia turun 0,5 persen. Sehingga BI beban berat untuk kontrol devisa dan bagaimana melakukan kegiatan ekspor lebih besar dari tahun 2018 untuk menyandangi devisa.

BACA JUGA  Serukan Aksi Damai Jelang Pengumuman Pilpres

Maka dari itu upaya yang dilakukan BI salah satunya rumah kopi Sumsel sebagai strategi mengatasi perekonomian Indonesia.

Kita harus mencari terobosan, salah satunya mempunyai komperatif yang tidak di miliki negara lain seperti kopi dan ini sangat tepat untuk mempromosikan

Rakyat harus di dorong menjadi pelaku bisnis, bagaimana cara memperoleh dana dan bimbingan.

Kendalanya dalam ekspor yakni Sumsel belum memiliki dermaga pelabuhan yang besar, untuk itu Sumsel harus mengaktifkan Pelabuhan Tanjung siapi-api sebagai gerbang supaya ekspor Sumsel tidak lagi melalui provinsi tetangga. Dan ini asli akan masuk PAD Sumsel jadi Sumsel tidak lagi tergantung perimbangan anggaran APBD di pusat.

Teks : Herwanto

Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait