Palembang Darurat Sampah, Kapan Bisa Adipura Kencana?

TPA 2 Saatnya Dimaksimalkan
Rantai Pengangkutan Sampah Diperpendek

 

Estimasi Kebutuhan Anggaran di TPA 2 :

1. Bulldozer dua unit
2. Excavator dua unit
3. SDM/petugas tiga orang

 

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Sampah di Kota Palembang bisa dikatakan darurat saat ini. Meski TPA (Tempat Pembuangan Akhir) 1 (satu) Sukawinatan masih dikategorikan mampu menampung dengan baik, namun dari sisi minusnya peralatan di TPA 1 dan efektifitas pengangkutan sampah Palembang terkategori darurat, ditambah lagi TPA 2 Karyajaya kini sementara ditutup lantaran tidak adanya budget operasional dan fasilitas infrastruktur jauh dari ideal. Lantas kapan Palembang bisa mendapatkan anugerah Adipura tertinggi yakni Adipura Kencana hingga kini belum didapat oleh Kota Palembang nyentrik dengan Sungai Musi dan panganan termasyhurnya pempek ini.

Untuk mendapatkan anugerah tertinggi Adipura Kencana, setidaknya Kota Palembang harus memiliki program kebersihan dan lingkungan hidup berkelanjutan jangka panjang.

Penelusuran Swarnanews di TPA 1 Sukawinatan sejak sebulan terakhir, masih cukup memprihatinkan. Meski jalan utama sudah cukup bagus dan telah dicor sehingga memudahkan truk angkutan sampah bisa melewati lokasi TPA dengan lancar. Namun dari jumlah peralatan masih sangat membutuhkan perhatian serius.

Seperti kondisi timbangan yang sudah keropos. Meski masih bisa menimbang truk dengan tonase rendah. Namun para petugas tampak kewalahan, karena timbangan tidak bisa lagi menimbang truk tonase berat diatas 27 ton, ditakutkan akan ambruk.

Untuk mengantisipasi hal ini, Plt. Kepala UPTD TPA DLHK Zidan Jauhari, M.Si, saat dibintangi Swarnanews (25/5) mengaku hanya menggunakan ilmu kirologi untuk sementara waktu.

“Ya, khusus truk tonase berat tidak bisa kita timbang karena sudah keropos timbangnya. Jadi pake kira kira atau kirologi jumlah sampah diangkat truk besar diprediksi mencapai 27 toman per truk. Kirologi ini mengacu pada aktifitas tonase harian biasa tercatat di kami. Jadi cuma truk kecil saja bisa ditimbang saat ini, ” jelasnya.

Saat disinggung soal peralatan lain, Zidan juga menjelaskan alat Bulldozer di TPA 1 kini juga sudah rusak tidak bisa dipakai dan hanya menggunakan 2 eksavator saja saat ini.

Idealnya satu TPA sekelas TPA Sukawinatan dengan ketinggian sampah mencapai 8-10 meter saat ini membutuhkan 2 excavator, satu excavator untuk di atas dan satu excavator untuk di bawah.

Memang masih jauh dibandingkan dengan kondisi TPA Bantargebang Bekasi yang ketinggiannya sudah mencapai 15 meter dengan kebutuhan alat hingga 4-5 excavator untuk menjangkau ketinggian sampah.

“Diprediksi untuk TPA 1 Palembang masih mencukupi hingga 5 tahun kedepan. Kita hanya berharap, timbangan keropos dan Bulldozer yang rusak bisa diadakan lagi. Kita butuh setidaknya dua buldozer untuk satu TPA agar bisa digunakan bergantian pagi hingga siang dan siang hingga tengah malam, sebab jika cuma satu unit alat bisa cepat rusak, dan saat rusak, kita akan makin kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan, ” bebernya gamblang.

Posisi sampah dari tahun ke tahun kenaikan hingga 20 ton. Posisi kenaikan di tahun 2019 di angka 820 ton per hari.

Apalagi saat ini semua sampah mobilisasi nya di TPA 1, termasuk sebelumnya diangkut ke TPA 2 Karya-karya, sekarang dialihkan semua di TPA 1, karena fasilitas infrastruktur dan operasional lain di TPA 2 tidak memungkinkan sehingga ditutup.

TPA 2 Waktunya Dibuka

Masih menurut Zidan Jauhari, meski dari sisi antrian angkutan masuk ke TPA 1 saat ini sudah lancar dengan telah dicornya jalan masuk ke TPA 1. Pihaknya berharap distribusi pengangkutan sampah Ulu dan Ilir segera bisa dibagi dalam 2 zona.

“Ya memang butuh anggaran untuk membagi zona Ulu dan Ilir, memang sudah kebutuhan, ” ungkap Zidan.

Saat ini semua sampah Ulu dan Ilir bertumpu di TPA 1 sejak TPA 2 Karyajaya tidak difungsikan.

BACA JUGA  Butuh Pil Ekstra Genjot Pariwisata

Nah, padahal distribusi pengangkutan jauh memakan waktu 30 menit lebih jika tidak macet.

Sebelumnya sudah dibagi, TPA 1 Sukawinatan menampung 10 kecamatan, dan TPA 2 Karyajaya menampung 8 kecamatan. “Kita berharap TPA 2 bisa dibuka lagi sehingga tidak tertumpu di TPA 1,” jelasnya.

Truk pengangkut sampah muaranya cukup membludak masih terus dipaksa untuk diisi meski sudah tampak penuh berjejal.

Budget anggaran TPA 2 idealnya untuk bisa beroperasi lagi, selain kebutuhan jalan untuk diperbaiki agar tidak rusak parah seperti saat ini. Juga butuh operator setidaknya 4 orang untuk bekerja hingga malam dini hari secara shift. Ditambah 2 alat bulldozer dan 2 alat excavator.

Percuma jika TPA 2 dibuka tanpa dilengkapi operasional sebab tidak akan efektif. Itu gambaran kebutuhan, belum lagi kebutuhan operasional BBM angkutan dan semuanya.

Disinggung soal lambatnya pengangkutan sampah, Zidan mengakui jika itu ada tupoksi bidang khusus, dan bukan bidang TPA dirinya.

Meski begitu, Zidan hanya menggambarkan. Jika intensitas pengangkutan jadwal ditambah ia memastikan tidak akan ada keterlambatan.

Kondisi saat ini memang butuh perhatian serius, TPA 2 ditutup semua terfokus ngangkut nya ke TPA 1 sehingga berfungsi hanya TPA 1, ditambah bulldozer rusak, timbangan keropos. Jadwal angkut juga hanya 2x sehari. “Ada kemungkinan ini menjadi salah satu penyebabnya, ” imbuhnya.

Ia berharap jadwal angkuta kedepan bisa dibahas ulang dan ditambah jadi 3x angkut dalam sehari semalam. Meski ini juga ada konsekwensi penambahan budget anggara BBM untuk angkut.

“Membidangi anggaran ini tentu di bagian perencanaan. Kita masing masing bidang sifatnya hanya mengusulkan rencana pelaksanaan. Kita berharap hal penting seperti ini bisa diberi solusi cepat, sebab masyarakat memang sudah cukup resah dengan jam angkut agak telat membuat sampah cukup kurang enak dipandang di pinggiran jalan, ” bebernya.

Menuju Adipura Kencana

Sementara itu, Pengamat Sosial, Dede Irmahadi, M. Si menyebut, persolan sampah juga harus dilihat dari kaca budaya masyarakat.

Ia sangat mengapresiasi program lama walikota, sempat melakukan sayembara akan memberi hadiah pada masyarakat yang menemukan pembuang sampah sembarangan.

Reword seperti itu harus terus dijaga, sehingga kedepan Palembang bisa mendapatkan Adipura Kencana yang selama ini memang belum didapat kota Palembang. Adipura yang didapat selama ini baru Adipura biasa. Sementara Adipura Kencana belum.

Selain budaya masyarakat, reword juga semua kegiatan tingkat Rt, Lurah, Camat harus mengarah ke visi Adipura Kencana ini, jangan sampai lengah.

Bagusnya lagi, program subuh berjamaah, juga program lain bisa di sinergikan soal ini. Menggelar lomba bersih dari level Rt, sekolah, Lurah, lembaga dan semuanya yang sifatnya menahun jangka panjang sehingga benar benar terjaga.

“Jadi jangan separuh separuh, hanya sebatas gotong royong mingguan. Tapi juga dipatenkan jadi Palembang Bersih Award atau sejenisnya, sehingga programnya kontinyu dan menahun, ” harapnya.

Anugerah Adipura Kencana merupakan penghargaan Adipura tertinggi kepada kabupaten/kota yang memenuhi syarat sebagai kota yang berkelanjutan.

Kota yang dinominasikan Anugerah Adipura Kencana ini diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup,namun juga mampu terus berinovasi, diantaranya di bidang pengelolaan sampah dan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energi baru terbarukan, serta penurunan ketimpangan ekonomi dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam.

Selain itu, kabupaten/kota yang dinominasikan meraih Anugerah Adipura Kencana ini juga harus telah meraih Anugerah Adipura sebelumnya minimal tiga kali berturut-turut.

Gunungan Sampah Dimana-mana

Kunjungan Swarnanews di CV. Sampah Naga Emas, letaknya tak jauh dari area bawah jembatan Musi II, sempat berdecak kagum. Gunungan karung di pinggiran jalan masuk arah Karanganyar Gandus, di kanan kiri jalan seakan tak mempedulikan siapa saja yang mau lewat di area ini.

Debu bertabur dengan panasnya cuaca siang itu, makin membuat siapapun lewat di sini pasti tak mengenali misi Palembang BARI (Bersih Aman Rapi Indah) bahkan Palembang EMAS (Elok, Madami, Aman, Sejahtera). Faktanya, area ini masih jauh dari misi itu.

BACA JUGA  Tiket Melambung Ekonomi Limbung

Kendati gunungan sampah ini bukan sembarang sampah biasa yang berbau busuk. Sebaliknya gunungan sampah di sini merupakan sampah produktif yang menyimpan ratusan rupiah per harinya dengan tingkat transaksi jual beli sampah produktif mencapai angka minimum Rp. 5 juta hingga 20 juta per pelanggan masuk di sini. Namun belum berbanding lurus kontribusi mereka untuk ikut menciptakan Palembang EMAS dan BARI, khususnya bersih dan rapi.

Pantauan Swarnanews di lokasi, tidak ada batas penutup khusus untuk area penampungan sampah produktif ini. Apalagi gudang khusus, harusnya sudah mereka miliki sendiri, untuk menjaga kerapian dan kebersihan di sekitar aktifitas usaha ini.

Bahkan, keinginan Swarnanews mencari tahu tingkat kepedulian lokasi ke beberap pejabat setempat, tak bisa ditemui lantaran sedang ke luar kantor. Hanya beberapa warga setempat mengaku, tidak ada penertiban apapun lokasi ini, bahkan saat bakal ada pejabat pusat datang pun area ini tetap menjadi pemandangan lumrah.

Pemilik CV. Sampah Naga Emas, Azwari didampingi istrinya Leli, mengaku hanya menertibkan pinggiran badan jalan tersapu kotoran sampah saja bila bakal ada pejabat lewat ini, diinstruksikan langsung oleh Rt dan lurah setempat. Selepas itu, aktifitas kembali seperti biasa.

Padahal di area ini menurut Azwari, bukan sampah produktif miliknya saja berserakan di punggiran hingga menggunung. Tapi ada sekitar 7 pemilik usaha serupaa di sepanjang area bawah jembatan ikut menyumbang aktifitas loading sampah produktif ini.

“Ya, kalau soal planning rencana mau relokasi dan buat gudang sendiri, belum ada. Kami fikir tidak perlu gudang, karena setiap hari kami angkut sampah ini dijual ke pusatnya bisa 3 sampai 4 mobil. Tapi itulah, datang lagi setiap hari bisa sampai 10 mobil. Jadi bisa 6 mobilan tidak terangkut dan menunggu angkut besok selanjutnya sampai menggunung di sini,” jelas Azwari.

Bicara soal duit, Azwari tersenyum lebar. Menurut Azwari, dalam sehari ia harus memegang uang cash minimal Rp. 100 juta, untuk membeli barang barang dari sampah produktif (bekas botol aqua, botol minuman, kardus dan besi bekas).

“Bisa bayangin dek, sekali orang anter jual ke kita, minimal bisa berton ton sampai Rp. 5 jutaan. Bahkan, jika datang dari dusun dusun yang dibawa dari ketek sungai, sekali beli sampah mereka bisa sampai Rp. 20 jutaan. Ini rutin, kalau dalam kota tiap hari, sedangkan dari dusun bisa tiap 10 hari sampai 15 hari sekali,” bebernya.

Jadi, potensi sampah produktif menurutnya memang luar biasa. “Kita saja punya karyawan sampai 20 orang. Dari pekerja sortir harian memilah sampah sampai di kantor Palembang juga di pabrik penggilingan sampah plastik di Talang Jambi,” jelasnya.

Setelah disortir bersihkan, dipisah warna, ia akan giling plastik aqua kecil untuk dijadikan bijih plastik dijual di pabrik plastik di OKI.

Gambaranya, ia beli sampah aqua plastik dari masyarakat hanya Rp 3000 per kilogram, setelah digiling jadi biji plastik kering dijual seharga Rp. 10.000 per kilogram.

“Dari sisi nilai tambah besar meman. Sayangnya baru sebatas itu belum ada gagasan buat pabrik pencetakan ember dan lainya terbuat dari plastik, padahal peluanganya besar. Tapi modal pabriknya juga besar,” bebernya lagi.

Diakui Azwari, CV miliknya sudah mengantongi SIUP, SITU, makanya pihaknya tetap merasa tenang dan tidak takut digusur atau direlokasi. Jika ada izin resmi, jika direlokasi pasti akan ada kompensasi yang pantas.(*)

Teks/Editor : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait