Saatnya Membangun Karakter Bela Negara

Oleh Dr Ir Parlaungan Adil Rangkuti MSi
Tim Wisesa Utama Wantannas.

SWARNANEWS.CO.ID, Mulai dari Pelestaian Nilai-Nilai Kejuangan Bangsa
Sesungguhnya yang mempersatukan bangsa ini adalah tumbuhnya nilai-nilai kejuangan untuk merdeka dan berdaulat sejak timbulnya kebangkitan nasional tahun 1908. Muncul kesadaran berbangsa dan bernegara sebagai akibat dari penjajahan kolonial Belanda ratusan tahun dengan politik devide et impera yang diikuti dengan perlakuan yang tidak manusiawi dan ketidakadilan bagi “pendudukan Nusantara”. Sumpah pemuda tahun 1928 mempertegas “sikap penduduk Nusantara” sebagai satu kesatuan bangsa Indonesia. Perjuangan dari tokoh-tokoh berbagai komponen bergerak simultan melawan kolonial Belanda menuju kemerdekaan Indonesia.
Tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan lahir dan bergerak bersama pengikutnya menurut identitas masing-masing seperti identitas berdasarkan partai politik, golongan, kedaerahan dan sebagainya. Mereka berjuang tanpa pamrih, tulus dan ikhlas serta sedia mengorbankan jiwanya demi untuk kemerdekaan. Dengan pengorbanan yang luar biasa, para pejuang bangsa akhirnya memasuki pintu gerbang kemerdekaan ketika Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia Kedua. Momentum tersebut tidak disia-siakan oleh para pejuang kemerdekaan untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Ir. Soekarno (Bung Karno), dengan sangat cerdas menampilkan ideologi Pancasila sebagai alternatif di antara aliran ideologi yang ada saat itu. Setelah melalui proses panjang musyawarah mufakat melalui sidang-sidang BPUPKI (Badan Penyelidikan Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Pancasila sebagai dasar negara mendapat dukungan secara aklamasi dari para anggota. Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia berhasil mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia pada tanggal 17 Agustus 1945. Mereka menunjukkan kepada dunia bahwa tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia bersama rakyat memiliki nilai-nilai kejuangan yang luar biasa. Bangsa Indonesia mampu menghadapi sekutu dan kekuatan Belanda yang ingin kembali berkuasa di Nusantara. Nilai-nilai kejuangan yang telah dipentaskan oleh para pejuang di medan perang, baik di jalur diplomasi maupun di medan perang, sungguh luar biasa dan sesungguhnya menjadi identitas dan kebanggaan bagi seluruh bangsa Indonesia sebagai bangsa pejuang yang perlu dilestarikan ke generasi penerus secara berkelanjutan.

Pasca Kemerdekaan.
Sangat genius, para pendiri NKRI telah memperkirakan bahwa setelah mencapai kemerdekaan akan berhadapan dengan berbagai bentuk ancaman yang memerlukan upaya pembelaan dari seluruh rakyat Indonesia. Konsep bela negara telah menjadi salah satu topik utama dalam pembahasan sidang-sidang BPUPKI yang dipimpin oleh Abikusno Tjokrosujoso, di samping penyusunan konsep rancangan UUD yang dipimpin oleh Bung Karno dan konsep perekonomian dan keuangan yang dipimpin oleh Bung Karno. Ide dasar dari Bung Hatta diakomodir dalam pasal 33 UUD 1945, dan ide dasar bela negara diakomodir dalam pasal 30 (kini pasal 27) UUD 1945. Sejak UUD 1945 disyahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia), maka bela negara di samping sebagai amanah para pejuang bangsa juga sebagai amanat konstisusi sesuai dengan UUD 1945. Jika dikaitkan dengan ati kata “bela” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), sebagai kata kerja dapat diatikan sebagai upaya menjaga, membangun dan menjamin, dalam hal ini upaya membela NKRI.
Bebagai bentuk ancaman yang muncul silih berganti terhadap NKRI, berkat kekuatan bangsa Indonesia yang setia kepada NKRI berhasil eksis hingga saat ini. Generasi pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan generasi 45, berhasil mempertahankan keberadaan NKRI hingga era kepemimpinan Bung Karno tahun 1965, dan dilajutkan dengan generasi berikutnya yang dapat disebut generasi peralihan era kepemimpinan Presiden Soeharto hingga tahun 1998. Jika generasi 45 merupakan pelaku perjuangan kemerdekaan dan ikut serta mempertahaankannya, sangat logis jika generasi tersebut memilki militansi kesetiaan kepada NKRI yang luar biasa. Posisi generasi kedua (peralihan), secara langsung masih mendapat transformasi nilai-nilai kejuangan dari para pejuang bangsa dan ditambah lagi dengan program P4 yang mendorong timbulnya rasa kebangsaan yang kokoh sebagai identitas nasional.

BACA JUGA  Melalui HKJS Cegah Bunuh Diri

Era reformasi
Kini telah lahir generasi reformasi dengan dinamika pemerintahan yang sangat dinamis, dan telah tampil lima Presiden RI hingga saat ini. Sejarah telah mencatat bahwa sejak proklamasi kemerdekaan hingga saat ini, bentuk AGHT (ancaman, gamgguan, hambatan, dan tantangan) yang dihadapi bangsa Indonesia silih berganti seolah tiada hentinya. Perjuangan dan pengorbanan luar biasa dari bangsa Indonesia yang setia kepada NKRI terus mengalir. Sudah saatnya catatan sejarah masa lalu menjadi bahan kajian dan evaluasi agar tidak lagi memunculkan ancaman klasik seperti konflik internal dalam negeri yang dipicu oleh kepentingan kelompok atau golongan tertentu yang selalu menimbulkan kerugian pembangunan dan korban jiwa.
Pada tahun 1988, dalam suatu seminar nasional bela negara di Jakarta yang diadakan oleh GADILARA (Lembaga Studi Bela Negara), menyatakan bahwa dalam memasuki abad ke 21 bentuk-bentuk AGHT akan semakin kompleks dan dinamis mencakup berbagai dimensi, baik dalam aspek militer maupun dalam apek nirmilter. Upaya membangun ketahanan nasional dalam semua aspek (asta gtra) yakni aspek geografi, sumber aya alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan aspek pertahanan keamaman, memerlukan upaya yang lebih serius sebagai dampak dari globalisasi dan kemajuan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi) yang sangat luar biasa. Di samping dampak globalisasi dan kemajuan IPTEK, akan terjadi alih generasi dari generasi peralihan ke generasi ketiga yang memerlukan pembinaan karakter kebangsaan yang lebih intensif. Jika generasi berikutnya tidak memiliki nilai-nilai dasar bela negara yang mencerminkan karakter bela negara, kekhawatiran masa depan bangsa dan NKRI tentu akan mencemaskan.

Urgensi Pembinaan Bela Negara
Seiring dengan lahirnya generasi baru secara berkelanjutan, maka untuk melestarikan nilai-nilai kejuangan dan semangat kebangsaan, merupakan program yang sangat mendesak agar tumbuh kekuatan bangsa berkarakter bela negara untuk mengantisipasi dan mengatasi bentuk-bentuk AGHT yang semakin canggih dan semakin sulit diditeksi. Karakter bela negara merupakan sikap perilaku berciri nilai-nilai dasar bela negara meliputi : 1) rasa cinta Tanah Air, 2) sadar berbangsa dan bernegara, 3) kesetiaan kepada Pancasila, 4) rela berkorban demi bangsa dan negara, 5) mempunyai kemampuan awal bela negara serta 6) semangat mewujudkan negara yang berdaulat, adil dan makmur. Ke enam nilai-nilai dasar bela negara tersebut merupakan satu paket yang diharapkan dapat membangun karakter bangsa berciri bela negara.
Mengantisipasi dan mengatasi bentuk-bentuk AGHT pada dasarnya adalah membangun Ketahanan Nasional berwawasan Nusantara yang kuat, kokoh dan handal serta mensukseskan pembangunan nasional dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Setiap warga negara mempunai hak dan kewajiban ikut serta melakukan upaya bela negara sebagai amanah para pejuang/pahlawan bangsa dan sebagai amanat konstitusi UUD 1945. Persepsi tentang arti dan lingkup bela negara dan bentuk-bentuk AGHT yang melemahkan NKRI sebagai musuh bersama merupakan sikap perilaku bela negara yang menjadi dasar terbangunnya karakter bela negara. Untuk menciptakan tumbuhnya dasar karakter bela negara pada setiap warga negara berbagai instansi telah melakukan kegiatan yang mendorong terbangunnya kesadaran bela negara melalui jalur pendidikan (formal, informal, nonformal), jalur pekerjaan (birokrasi, karyawan BUMN/BUMS), dan jalur pemukiman (perkotaan dan pedesaan).

Aksi Nasional Bela Negara
Presiden Joko Widodo telah menerbitkan Inpres No. 7 Tahun 2018 tanggal 18 September 2018 tentang Aksi Nasional Bela Negara, merupakan kebijakan pemerintah dalam rangka menyelaraskan dan memantapkan upaya bela negara menjadi lebih sistematis, terstruktur, terstandarisasi dan masif melalui tiga tahap kegiatan yakni: 1) Tahap sosialisasi, harmonisasi, sinkronisasi, koordinasi, dan evaluasi, 2) Tahap internalisasi nilai-nilai dasar bela negara, dan 3) Tahap aksi gerakan. Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) sebagai koordinator pelaksanaannya, telah melakukan persiapan berupa penyusunan Modul Utama dan telah mulai melakukan Pendidikan dan Latihan (Diklat) membentuk penatar tingkat nasional (Wisesa Utama) dan penatar tingkat Kementerian/Lembaga serta tingkat Propinsi (Wisesa Madya).
Mengingat segmen atau sasaran kegiatan yang sangat luas, memerlukan dukungan dari semua pihak. Untuk mencapai masyarakat luas hkususnya melalui jalur pemukiman (perkotaan dan pedesaan), menurut pendapat saya saatnya dibentuk badan khusus semacam pengganti “P4” dengan metode dan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan pekembangan zaman. Badan Pembinaan Bela Negara tingkat nasional merupakan pilihan untuk mengakomodir seluruh kegiatan pembinaan bela negara termasuk pendidikan Pancasila di dalamnya. Menurut pangamatan dilapangan, sesungguhnya masyarakat banyak yang tidak paham konsepsi NKRI menurut UUD 1945 dan konsepsi kebangsaan seperti: Wawasan Nusantara, Ketahanan Nasional, Kewaspadaan Nasional, Politik Luar Negeri Bebas Aktif dan Kearifan Lokal.
Dengan pemahaman konsepsi NKRI dan konsepsi Kebangsaan, yang dijabarkan secara spesifik sebagai nilai-nilai dasar bela negara, jika dapat ditrasformasikan kepada setiap warga negara untuk tumbuh dan berkembang sebagai karakter bela negara, diharapkan akan tumbuh militansi kesetiaan kepada NKRI. Sehingga akan timbul upaya bersama melakukan analisa bentuk-bentuk AGHT yang dapat merugikan atau melemahkan ketahanan nasional dan menghambat pembangunan nasional untuk secara bersama-sama (prinsip gotong royong), mengantisipasi dan mengatasinya di lingkungan masing-masing atau di lingkungan publik. Diharapkan nilai-nilai dasar bela negara sebagai karakter bangsa dapat menjadi kekuatan yang dahsyat mengantisipasi dan mengatasi nilai-nilai yang melemahkan NKRI dan mengambat pembangunan sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing seperti nilai-nilai yang terdapat dalam individualisme, kapitalisme, materialisme, hedonisme, radikalisme, komunisme, sekularisme dan sebagainya.
Sesungguhnya aktualisasi bela negara di lingkungan masing-masing atau lingkungan publik telah diterapkan dalam bentuk aksi oleh bangsa Indonesia sehingga NKRI tetap eksis hingga saat ini. Mengingat akan lahir generasi baru secara berkelanjutan dan ada kecendrungan berkembangnya nilai-nilai yang semakin kompleks dan dinamis, jika tidak dilakukan pembinaan nilai-nilai dasar bela negara bagi generasi penerus akan sangat mudah diisi oleh nilai-nilai lain yang belum tentu seiring dengan cita-cita bangsa. Pembinaan bela negara sangat mendesak dan strategis untuk menumbuhkan aktualisasi bela negara yang dapat diterapkan dalam bentuk aksi terkait dengan aspek ketahanan nasional dan pembangunan nasional. Misalnya masalah lingkungan hidup, dapat dikategorikan upaya untuk membangun ketahanan nasional dalam aspek sumber daya alam dan ekonomi serta terkait dengan program dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan hidup. Membangun ketahanan dalam aspek ideologi dalam menghadapi nilai-nilai yang tidak seiring atau bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila hanya akan dapat terwujud jika setiap warga negara ikut serta melakukan upaya bela negara dalam memperkokoh Pancasila.
Pelaksanaan Pemilu tahun 2019 perlu menjadi renungan agar Pemilu tahun 2024 dapat berlangsung secara damai mengingat bahwa saat itu akan tampil kandidat nonpetahana, yang diduga akan menimbulkan dinamika yang lebih dinamis. “Dengan karakter bela negara kita bangun Ketahanan Nasional yang kuat, kokoh dan handal serta kita sukseskan Pembangunan Nasional menuju Indonesia yang gemilang”. Salam Bela Negara…Indonesia Bangkit.

BACA JUGA  Pemilu Serentak Tantangan dan Harapan

Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait