Melongok ke Pengrajin Tikar Di Desa Tanjung Atap Kian Tak Tersentuh

Oleh: Syaiyidah

 

SWARNANEWS.CO.ID, OGAN ILIR | Kabupaten Ogan Ilir ternama dengan kerajinan tanganya kini masih menyisakan banyak PR. Tepatnya di Desa Tanjung Atap Kecamatan Tanjung Batu dikenal sebagai Desa pengrajin tikar sejak puluhan tahun lalu kini makin lesu lantaran tak terjamah binaan dari para pihak, bahkan pemerintah.

Meski patut diakui, sejak zaman semakin modern pengrajin tikar sangat sulit ditemui lantaran bahan baku tikar yaitu purun sangat sulit didapatkan. Namun tekad dan skill mereka masih patut diandalkan dan diberikan binaan juga solusi sehingga tidak memupus mata pencaharian penduduk di sini.

Bahan baku tikar sangat mahal harganya satu ikat purun Rp. 60.000 dan tikar yang bisa dibuat sebanyak 5 gulung tikar namun bahan bakunya berupa purun sangat sulit didapatkan karena tempat membeli purun jauh dan penjual yang mengantar ke rumah juga jarang datang. Untuk menyetok bahan baku pun susah karena modal sangat terbatas.

Tak sampai di sana purun pun harus dikasih pewarna dengan harga pewarna untuk purun pun Rp. 100.000 hanya untuk satu ons dan dibagi menjadi 10 warna. Dan setelah purun dianyam tikar masih melewati tahap “Melibut” atau menjahit pinggiran tikar supaya tikar menjadi rapi dan siap dipasarkan.

BACA JUGA  Kucuran Dana Tahap Awal PKH OI Capai 29 M

Ria, salah seorang pengrajin tikar yang masih bertahan sampai sekarang. Ia seorang ibu yang menghidupi 3 orang anak yang masih menduduki bangku sekolah. Dan suami Ria mengalami stress, sehingga membuatnya sulit untuk mencari nafkah menghidupi anak dan istrinya. Dan inilah alasan Ibu Ria yang sampai sekarang bertahan melanjutkan pekerjaannya menjadi pengrajin tikar.

“Bahan baku tikar sangat sulit didapatkan, belum lagi harganya bisa dibilang cukup mahal dan untuk modal satu tikarpun 15000 Rupiah sedangkan kami menjual dengan harga Rp. 25.000. Dalam sehari dapat menyelesaikan 2 buah tikar hanya mendapatkan keuntungan Rp. 20.000 dalam sehari untung saja pagi hari saya menjual sayur masak keliling kampung untuk mencukupi keuangan keluarga,” tuturnya.

Tak hanya Ria, Rodiah salah satu ibu rumah tangga pun yang merupakan kakak dari Ria pun mengeluhkan bantuan dana dari pemerintah yang sampai sekarang belum ada yang mensupport untuk mengembangkan kerajinan tikar untuk mereka.

BACA JUGA  Diduga Mengidap Gangguan Jiwa, Seorang Pemuda Gantung Diri

Rodiah merupakan seorang janda yang tinggal satu rumah dengan beberapa saudaranya dan anaknya yang mengalami sakit mental dan sering kejang-kejang.

“Memang ada seperti kelompok pelatihan dan bantuan dana dari pemerintah, namun hanya di Desa Tanjung Atap Timur dan kami yang berada di Desa Tanjung Atap Barat pun belum pernah merasakan yang namanya pelatihan dan bantuan dana dari pemerintah. Padahal tikar tak hanya dibuat untuk alas tempat duduk, tikar bisa juga dibuat tas, taplak meja, keranjang dan motif-motif lainnya. Tapi kami kurang bisa memahami dan kurang bisa membuatnya secara otodidak tanpa pelatihan,”. tutur Rodiah.

Sungguh sangat disayangkan jika kerajinan tikar hilang begitu saja. Karena ini menjadi salah satu ciri khas Desa Tanjung Atap yang merupakan salah satu faktor penunjang perekonomian masyarakat setempat.

Sangat diharapkan support dari pemerintah untuk terus mengembangkan kerajianan yang ada dengan cara membantu pendanaan modal dan memberikan pelatihan secara keseluruhan tanpa adanya perpecahan di dalam Desa Tanjung Atap sendiri. (*)

Editor : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait