Pemekaran Seberang Ulu, Bisa Mengikuti Negara Maju

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Pemekaran wilayah Kota Palembang di Seberang Ulu menjadi sebuah Kabupaten di nilai sudah sangat pantas. Asalkan bisa mengikuti negara-negara maju dan sedang berkembang seperti New York dan California.

Awalnya, negara maju itu di lihat ketika teknologi maju, negara itu membangun secara vertikal supaya tetap optimum untuk orang berkunjung. Rata-rata negara maju, ketika membangun gedung baru mereka tidak merusak kelestarian budaya lama.

Hal ini diungkapkan Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Prof H Anes Saggaf MSCE saat di bincangi wartawan Swarnanews di kediaman Rumah Dinas Unsri, Rabu (19/6/2019).

“Kota lama itu jalan dan bangunannya di bentuk seperti zaman dulu. Namun bentuk bangunan tidak terganggu, sehingga suasana tetap terasa benar di area itu,” kata rektor Unsri.

BACA JUGA  DPRD Sumsel Gelar Paripurna dan Bentuk Pansus

Disarankan, jika ada kebijakan seperti itu kedepan perizinan pembangunan gedung-gedung besar harus di alihkan di Seberang Ulu, supaya kelestarian Kota Palembang tidak hilang.

“Pemerintah harus ada planning dan interpensi jika ada keputusan. Misalnya kawasan 19 ilir tertata sebagai kota lama, dan Pasar 16 ilir banyak bangunan yang lama dan perlu di tata dengan versi lama,” ujarnya.

Sementara, apabila pembangunan sudah berkembang dengan pesat, maka pemasukan PAD berpeluang besar karena perekonomian rakyat lancar. Pengambilan pajak diambil dari sistem bisnis, seperti restoran dan hotel.

BACA JUGA  Mendikbud Apresiasi Program Safari Subuh Walikota Palembang

Salah satu trik bagaimana rakyat tidak terbebani, kemudian PAD Pemkot bisa meningkat. Seluruh sentral perdagangan seperti restoran yang menggunakan toko atau bangunan lainnya harus memiliki konter tidak bisa secara cash atau langsung, sehingga pajak tersebut bisa masuk dalam rekening Pemkot secara sistematis.

“Masyarakat pembisnis tidak keberatan untuk membayar pajak apalagi seperti restoran. Tetapi PPN jangan di tambahkan semua yang memiliki usaha harus patuh, harus mengeluarkan bandrol jangan menggunakan harga dasar harus harga akhir,” pungkasnya.

Teks : Herwanto
Editor : Asri

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait