Tolong Jangan Batasi Kuota Driver Ojol

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Pertumbuhan Ojek Online (Ojol) di Palembang, setiap tahun terus meningkat. Bisnis jasa ini tidak hanya membawa keuntungan bagi pengendara (driver) saja melainkan, masyarakat umum ikut pula terbantu. Di tengah seretnya kondisi ekonomi, kehadiran Ojol mampu mengatasi tingkat pengangguran di Palembang.

Ojek Online sudah hadir di Palembang sejak empat tahun lalu, tepatnya sejak Gojek masuk kota pempek ini. Lalu, kemudian diikuti kehadiran Grab. Sampailah kini dua aplikator tersebut menjadi penyedia jasa angkut warga.

Menjamurnya jumlah driver ojek online, membuat para driver bersatu membentuk komunitas. Ada banyak komunitas ojek online di Palembang. Namun, yang cukup dikenal yakni Paguyuban Bersatu Komunitas Online Palembang atau yang disingkat Berkembang. Paguyuban ini sudah pula diurus legalitasnya, yakni dengan telah mengantongi legalisasi Depkumham.

Anggotanya lumayan banyak ada sekitar 700 an driver. Dan uniknya sebagian besar driver ini bekerja untuk dua aplikator, Gojek maupun Grab. Alasannya sederhana saja, biar cuan yang masuk kantong bisa lebih banyak. “Yah, masing-masing aplikator kan punya kebijakan sendiri-sendiri, mana yang nyaman saja itu yang kami pakai. Misalnya, hari itu kayaknya Gojek lagi penuh atau aplikasinya lagi lambat, kami pindah ke Grab,” cetus Ketua Paguyuban Berkembang Palembang, Sandi Aulia.

Di kediaman pria asal Lampung tersebut, telah berubah menjadi lokasi markas anggota Berkembang. Setiap hari kediamanya yang beralamat di Jl Sultan Agung Lr A Rahman RT 10 1 Ilir Palembang, selalu ramai dengan driver Ojol. Di sinilah tempat mereka bercengkrama atau sekedar silaturahmi antar driver. Kebetulan di siang tersebut, saat Swarnanews berkunjung, Senin (01/07/2019), satu persatu driver datang ke markas. Ada sekitar delapan driver yang memenuhi ruang tamu kediaman Sandi. Mereka terlihat gembira sembari lesehan. Sandi pun sebagai tuan rumah menjamu anak buahnya. “Ayo dinikmati kuenya,” ujar dia, sembari menyodorkan beberapa kue dalam stoples dan air minum kemasan.

Sandi yang telah tiga tahun menjadi driver Ojol mengakui kalau kehadiran ojek online mampu mengatasi pengagguran di Palembang. Jadi bagi mereka yang nganggur, cukup bermodal motor dan mendaftar ke aplikator untuk menjadi driver. Disertai dengan persyaratan administrasi lainnya, seperti SIM serta Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK). Langsung bisa bekerja. “Syaratnya mudah, tapi kalau sudah bekerja ya harus memenuhi aturan yang telah ditetapkan sistem masing-masing aplikator,” jelas Sandi yang juga diamini Sekretaris Berkembang, Koboy, yang baru saja datang.

BACA JUGA  21 pemda belum mempunyai Tim Pengendalian Inflasi
Sandi Aulia

Jadi jangan salah, bertambahnya jumlah driver per hari, juga disertai pula dengan berkurangnya jumlah driver. “Karena setiap menit, setiap jam ada yang berhenti. Makanya sampai sekarang pun baik Gojek maupun Grab tetap ada penerimaan driver baru,” cetus Koboy. Kesalahan yang mereka lakukan pun beragam, semua tergantung system yang telah diformat. Jadi, siapapun tidak dapat luput dari pengawasan sistem aplikator. Driver yang telah dinyatakan berhenti atau kena suspend, dapat melakukan banding. Dan, apabila bandingnya diterima, driver bersangkutan masih dapat bekerja kembali.

“Itulah mengapa sampai sekarang tidak ada yang namanya sepi order. Kalau ada yang bilang driver Ojol sekarang sudah terlalu bannyak, jadi susah dapat orderan, itu salah. Drivernya saja yang malas. Dia harus pintar mencari lokasi yang diperkirakan banyak ordernya,” ucap Sandi. Lagi pula, sambung dia, Ojol itu tidak melulu mengantar penumpang, masih banyak aplikasi lain yang dapat dilakukan. Seperti Go Food, Go Send, Go Shop, Go Mart, dan lain-lain.

Menghitung pendapatan driver Ojol ada sistemnya. Jika driver full bekerja jadi Ojol, dia akan dapat Tupo atau Tutup Poin, yakni 30 poin (30 orderan), maka pendapatan kotornya Rp 300 – 400 ribu. Itu termasuk biaya bensin, servis, dll. Sementara untuk pendapatan bersih yang mereka terima, rata-rata Rp200 – 250 ribu perhari. “Tapi ada juga yang menjadikan Ojol ini sebagai usaha sampingan. Dia sambil bekerja, juga jadi Ojol. Poin yang dapat dikumpulkannya hanya 17 poin dan itu sudah termasuk bonus Rp 34 ribu. Jadi total bersih yang ia terima Rp 150 ribu perhari.”

Untuk itulah, dirinya berharap tidak ada pembatasan kuota driver Ojol. Sebab, kewenangan pembatasan kuota tersebut diserahkan ke Pemerintah Provinsi masing-masing. Namun, sampai saat ini dirinya belum ada pemberitahuan mengenai hal tersebut. “Kami hanya berharap sebelum aturan pembatasan kuota driver tersebut dibuat, hendaknya pemda mengajak kami untuk rapat. Apakah aturan tersebut memang perlu atau tidak. Sebab, sejauh ini Ojol turut memajukan perekonomian di Palembang. “Selain mengatasi pengangguran, Ojol juga memacu kesadaran membuat SIM.”

Dan, kini komunitas Ojel online juga telah mengembangkan sayap. Mereka bukan hanya membentuk ajang untuk silaturahmi saja, melainkan telah pula membentuk organisasi baru yang bertekad membantu aparat kepolisian memberantas begal. Organisasi tersebut bernama Tekab, Tim Khusus Anti Begal. Organisasi ini dibentuk secara nasional, dan kini akan membuka cabang di Palembang. “Sebenarnya Tekab sudah aktif di Palembang, sudah ada beberapa kegiatan yang kami lakukan. Hanya saja, kami belum sounding. Rencananya segera kami akan sounding ke Walikota, Kapolda, Kapolres, dan Dandim,” tukas Koboy sambil menyeruput rokoknya.

BACA JUGA  Pendiri Bukalapak Berikan Tips Sukses Berbisnis

Ketua maupun sekretaris Tekab sama dengan Paguyuban Berkembang, Sandi dan Koboy, bedanya hanya proses terentuknya saja. Berkembang hanya ada di Palembang, sementara Tekab sifatnya nasional.

Siapa saja anggotanya? Tentu saja ini tetap berhubungan dengan driver ojek online. Sebab, merekalah yang tahu situasi di lapangan. Jika di sebuah daerah tinggi kasus begalnya, maka perwakilan TeKab daerah tersebut akan menyelidiki. Aksi ini bekerjasama dengan Polresta Palembang. Sehingga kawanan Begal akan lebih mudah ditangkap sebelum beraksi. “Kami sudah tahu beberapa daerah yang rawan Begal, seperti Jl Sukarno Hatta, Talang Jambe, Sukawinatan, Tegal Binangun, dll. Tim kami anggota Tekab akan langsung memantau wilayah yang rawan begal,” ucap Koboy bersemangat.

Belum Ada Aturan Pembatasan Kuota Driver

Apa tanggapan Dinas Perhubungan Provinsi Sumsel mengenai kekhawatiran driver ojek online atas pembatasan kuota jumlah pengendara di Palembang? Sekretaris Dinas Perhubungan, Drs Uzirman Irwandi MM melalui Kasi Jalan dan Angkutan, Fansyuri menyebutkan kalau selama ini Dishub Sumsel belum mendapat instruksi dari pusat mengenai hal tersebut.

Namun, ia menambahkan, sudah selayaknya jumlah driver ojek online dibatasi, sebab mengacu pada VC Ratio (angka kepadatan lalu lintas) Palembang, sudah cukup tinggi. Terutama untuk jam-jam sibuk, yakni saat jam anak sekolah ataupun jam pulang kantor.

“Tapi ya karena angkutan berbasis aplikator ini sifatnya terpusat, makanya kami juga menunggu instruksi dari Dirjen Kementrian Perhubungan. Kami harapkan pusat segera mengeluarkan aturan tersebut. Untuk saat ini kami belum dapat berbuat banyak,” ujar Fansyuri dihubungi, Kamis (04/07/2019).

Sementara mengenai aturan standar pelayanan minimal ojek online yang diatur Permenhub No 12 tahun 2019, menurut Fansyuri, telah dipenuhi ojek online yang beroperasi di Palembang. “Kami sudah sosialisasikan Permenhub ini sampai ke tingkat kabupaten/kota. Tapi apakah ojek online di sana mematuhi atau tidak, kami tidak dapat menindak karena itu sepenuhnya kewenangan kepolisian,” sebut dia.

Teks : Maya
Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait