Saatnya Digitalisasi Kopi Sumsel Diwujudkan

Hanya  Butuh ‘Satu’ Brand Saja di Sumsel
Saatnya Rintis Platform Kopi Digital

 

Perkembangan kopi di Sumsel kini mulai diusik.  Tidak heran jika begitu. Satu sisi pertumbuhan jumlah kedai kopi dari yang  terkenal,  sebut saja salah satunya Kopi Tim,  Starbuck,  Kopi Jolo hingga kopi emperan membanjiri ibu kota propinsi kaya SDA ini.  Namun sisi lain,  nasib petani kopi belum beranjak naik.  Parahnya lagi,  untuk memetakan mana kopi asli asal Sumsel  dan mana kopi non Sumsel pun masih sangat sulit. Sebab,  variasi brand setiap kabupaten penghasil kopi banyak,  bahkan hampir semua pemilik usaha kopi memiliki brand masing masing. Padahal faktanya, dari banyak brand muncul tersebut berasal dari satu jenis perkebunan. Lalu, harus bagaimana pemerintah dan pengusaha kopi bergandengan tangan?

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Sebab masih banyak masalah lain kopi ini. selain branding kopi Sumsel jumlahnya menjamur,  sehingga semua berlomba untuk jadi terkenal.

Antara pengusaha,  kebijakan pemerintah dan petani kopi juga masih jalan masing masing.  Layaknya sebuah sepeda, jika ada dua orang yang mengayuh,  namun tidak satu rantai bersama, bisa dipastikan akan maju dan mundur tidak sampai ke tujuan. Inilah sekilas gambaranya.

Ternyata kopi di Sumsel menurut keterangan Ketua Dewan Kopi Sumsel Ir. Zain Ismet, di sela gelar Focus Group Discussion, Jumat (28/6), dimana lahan kebunnya tercatat terluas secara nasional, mencapai 250 ribu hektar,  dengan proporsinya 100 persen merupakan kebun rakyat dikelola oleh 204.615 KK petani di enam  wilayah (OKU Selatan, Empat Lawang, Muara Enim,OKU, Pagar Alam dan Lahat) belum tergarap maksimal dari hampir semua sudut.

Ketua Dewan Kopi Sumsel Ir. Zain Ismet

Meskipun produksi Kopi Sumsel masih terbesar secara nasional (20 persen -21 persen ) mencapai 135-140 ribu ton per tahun, tapi masih jauh dari potensi tergarap.

Satu hektar kebun kopi dalam 1 tahun rata-rata hanya menghasilkan 500 kg.  Padahal seharusnya bisa tembus di 2-3 ton.

Hal yang sama juga melanda dari sisi branding, masih kurang terkenal bahkan tertinggal dengan kopi dari wilayah lain. Sebut saja di Aceh, merk kopi diunggulkan ke nasional hanya satu Kopi Gayo.

“Jadi kalau disebut Kopi Gayo, kita pasti terbayang,  itu kopi dari Aceh, ” ungkapnya.

Demikian juga Kopi Mandailing dari Sumatera Utara.

Nah,  Sumsel bagaimana? Faktanya,  Sumsel memiliki banyak varian merk/brand kopi.

Ada Kopi Semendo,  ada Kopi   Pagar Alam,  ada Kopi Gunung,  ada juga Kopi Cap Gajah,  dan banyak lagi lainya,  masing masing pemilik merk jalan sendiri sendiri. “Mereka berharap brand/merk kopinya terkenal semua.  Lha,  mana bisa kalau sudah begini,  membuat pasar luar Sumsel bingung,” jelasnya.

Artinya,  kedepan butuh satu brand unggul saja untuk menjual semua kopi petani Sumsel.  Bisa Kopi Sriwijaya atau nama lain.

Sedangkan brand kopi yang sudah ada,  akan diusulkan saja sebagai branding turunan Kopi Sriwijaya atau nama lainya. Dengan begitu akan lebih mudah membawa menjual nama kopi Sumsel.

Sempat terlontar beberapa komunitas membangun  mimpi besar ‘kampung Kopi’ di Sumsel dari hulu sampai hilir yang terstandar.

Mulai dari pupuknya didukung oleh PUSRI, Pelatihan cara pertanian (lahan, bibit, pupuk, panen) kopi yang baik (GAP – Good Agricultural Practices) dan pengolahan pasca panen (olah kering, olah basah, sortasi, dan penyimpanan) yang baik sampai pemasaran dan branding akan didukung oleh Dewan Kopi Sumsel, Disbun Provinsi dan BSN. Serta akses modal dan perlindungan (asuransi) untuk meningkatkan kapasitas petani kopi yang akan didukung oleh lembaga keuangan di bawah pengawasan OJK.

Pengalaman BSN KLT Palembang dalam mendampingi 2 UKM Kopi sampai sertifikasi SNI dan 1 kelompok petani di Semendo bahwa permasalah kualitas produk akhir kopi (sangrai, bubuk dan minuman) 60 persen  lebih ditentukan di kebun (hulu).

BACA JUGA  Dilematisasi Pasar 26 Ilir Butuh Solusi

Salah satu cara untuk mengatasinya,  terjun ke kebun dampingi petani sehingga diharapkan produktivitas dan kualitas kopi meningkat dan muaranya kesejahteraan petani pun meningkat.

Bagi BSN, Kopi bisa dijadikan salah satu fokus. Data dari ICO (International Coffee Organization), potensi perdagangan dunia yang mencapai 240 Milyar USD (9-10 juta ton/tahun) terbesar kedua setelah minyak bumi dengan jumlah kopi yang diminum mencapai 2,25 miliar cangkir per hari di lebih 80 negara.

Sementara Indonesia baru mampu menikmati 10 persennya saja padahal luas lahan 1,2 juta hektar (no.2 terluas setelah Brazil) tapi produktivitas Kopi RI (640 ribu ton/tahun) tertinggal dari Vietnam (2,7 juta ton/tahun) hanya dengan luas lahan 630 ribu hektar. Dulu tahun 80-an Vietnamlah yang belajar kopi ke Sumsel.

Masih naifnya persoalan kopi hari ini,  tidak bisa semata diselesaikan satu lembaga saja,  apalagi hanya parsial saja penyelesainya.

Brand kopi Sumsel sudah bludak,  waktunya dirampungkan. Rantai kopi juga sudah terlalu panjang.

“Semua mata rantai harus disatukan,  mulai dari hulu petaninya, di tengah ada pengolahnya,  dan di hilir ada kedai kopi dan sejenisnya,” terangnya.

Sebenarnya kebun kopi ini wilayahnya sudah jelas tidak sembarang kabupaten yang bisa nanam,  namun hanya tersentral di beberapa kabupaten saja,  sehingga akan mempermudah pemetaan.

Selain pemetaan kebun,  penetapan lokasi industri pemecah kopi,  hingga kopi jadi, juga eksportirnya sampai pedagang perantara.

Diakui Ismet,  pemanasan global makin parah saat ini,  membuat kebutuhan kopi justru meningkat drastis. “Jangan heran kalau kini perusahaa-perusahaan besar sekelas Samsung pun tidak hanya fokus memproduksi alat komunikasi HP,  tapi hari ini sudah merambah ke bisnis Kopi dinilai menjanjikan,” jelasnya.

Bahkan Ismet sempat melontarkan gagasan membuat portofolio pertanian untuk meningkatkan burgaining pertanian lebih detail dan gampang diakses pasar.

“Petani di Sumsel ini monokultur, sehingga ke depan perlu digagas dan diberi pencerahan, masih banyak jenis pertanian bisa digarap.  Sebut saja Aren yang belum maksimal digarap di Sumsel bisa dipadu oleh petani Karet untuk digarap.  Sebab prospek Aren sebenarnya luar biasa dan belum banyak menggarap, padahal kebutuhan gula aren meningkat.  Sumsel masih mengandalkan Aren dari Bengkulu dan Sumut,” tegasnya.

Integrasi Dalam Platform Bisnis Digital

Devisi IT, PT Pusri Palembang,  Ir.  Fahrurozi

Praktisi Bisnis Jaringan dan IT,   sekaligus pengurus HKTI Sumsel dan juga masih aktif di Devisi IT, PT Pusri Palembang,  Ir.  Fahrurozi,  mengungkapkan sektor perkopian di Sumsel cukup menyedot banyak energi jika hanya dibahas tanpa ada realisasi kebijakan konkrit dari pemerintah dan pelaku usaha.

Salah satu upaya menyelamatkan kopi Sumsel dengan sesegera mungkin mengemasnya melalui. Platform Bisnis Digital.

Kopi kita masih jauh tertinggal dari Vietnam lantaran masih carut marut dari hulu ke hilirnya.  Parahnya lagi,  masih jalan sendiri sendiri dan tidak ada saling topang dan saling dukung sehingga tidak terintegrasi sama sekali bisnis kopi Sumsel ini.

Di era digital saat ini,  bisnis apapun harus cepat bermetamorfosis ke digital. Jika tidak,  akan kalah saing.  Termasuk restoran,  rumah makan yang mengandalkan layanan manual saja,  pun akan ditinggalkan kedepan. “Kalau bisa makan tinggal pesan dari rumah, ngapain sibuk ke luar.  Kan begitu istilahnya,” kata Fahrurozi.

Bahkan,  ancaman e-learning pun juga sudah mulai trend jika tidak cepat disikapi oleh para akademisi atau bisnis pendidikan.

Sumsel ini kawasan agribisnis,  kopi kini masih jadi PR besar bersama. Era industri 4.0 saat ini juga harus cepat disambut melakukan transformasi (kolaborasi ilmu, kondisi pasar,  kebijakan pemerintah,  petani,  pengusaha).

Nah,  integrasi kesemua itu dibutuhkan sekarang.  Bila tidak,  nilai kopi akan semakin sulit untuk bersaing.

BACA JUGA  Waspada Sindikat Pembobol Data Pasien Mengintai

Salah satu syarat untuk maju adalah Hijrah. Harus adaptif, hijrah dari konvensional menuju digital. Syarat lain kolaboratif antara pemerintah,  petani,  pengusaha, pelaku di lapangan. Terakhir,  syarat sharing,  dimana semua pihak ikut mendapatkan keuntungan bersama. “Nggak jamanya lagi mau untung sendiri sekarang,  semakin banyak sharing akan mempermudah akses percepatan kemajuan perusahaan,” imbuhnya.

Jadi,  saat ini eranya adalah kolaboratif. Dengan cara inilah,  semua pihak merasa diuntungkan dan maju bersamaan.

Terpenting,  harus ada platform baru berbasis digital. Lihat saja contoh,  Tokopedia dll, di sana ada semua barang dibutuhkan konsumen,  sehingga satu kali klik,  semua bisa dipantau dan dicek.

“Kalau manual butuh sehari untuk pesan,  cek dan antar barang. Era digital, cukup 3 jam dari cek hingga pesan dan antar barang sampai,” ungkapnya.

Ilmu manajemen strategi Rasulullah adalah Hijrah. Ini harus dicontoh untuk mengembangkan bisnis kopi di Sumsel.

Jadi,  mulai dari penyedia pestisida yakni pabrik pupuk,  transporter penyedia kendaraan,  petani kopi,  pengumpul kopi, pengusaha pabrik giling kopi, pemasar kopi hingga kedai kopi hingga eksportir kopi.  Semuanya harus disetel dalam satu integrasi sistem platform digital,  misal diberi nama KOPI KITA atau yang lainya. Layaknya Tokopedia dan lainya.

Untuk ke arah ini,  dibutuhkan survei bersama,  siapa saja bisa dan layak dikibatkan, bagaimana pasar merespon, siapa penyedia jasa angkutnya,  pupuk jenis apa saja menjamin petani kopi menghasilkan produk maksimal. Begitu semuanya harus dilakukan rinci dan baik. Kesemuanya nanti disatukan dalam satu platform digital.

Bedanya dengan sistem seperti GO-FOOD,  itu masih parsial,  sendiri sendiri dan kurang lengkap.

Nah,  jika bisnis kopi bisa diintegrasikan dengan baik seperti ini.  Bahkan nanti bisa dijadikan pioner jenis jenis pertanian yang lain. Ia mengaku yakin, pertanian Sumsel bakal melejit berkembang pesat cepat.

Kenapa pertanian tidak maju maju?  Selama ini jlan sendiri sendiri. “Inilah pentingnya menyikapi era digital,” tegasnya.

Diakui Fahrurrazi yang juga telah berhasil merintis e-PAS (Elektronik Pusri Agrobisnis Solution)-nya PT.  Pusri Palembang,  saat ini sudah sangat terbantu. Termasuk mendapatkan pengecer atau pemilik kios,  cukup daftar di e-PASnya Pusri,  dengan virtual saja tanpa ada gudang penyimpanan, sudah bisa jadi distributor resmi, dengan aplikasi simpel,  nama,  user name dan nomor HP. Ada PAS order,  PAS solusi hingga PAS Kios. “Semua dilakukan untuk memotong rantai pasokan”.

Memajukan Pertanian Mampu Menekan Pajak

Chandra Ihsan

Sementara akademisi bidang Pertanian Drmh Chandra Ihsan menilai,  kasus pemasaran sektor pertanian belum disambut total secara nasional.

Baik belum terintegrasi secara nasional menjadi kekuatan ekonomi makro,  hingga belum saling memberdayakan dan belum adanya hubungan adil satu sama lain.

Padahal banyak pihak harusnya terlibat dalam sektor ini. Dari petani,  butuh petani, perusahaan perkebunan.  Perusahaan pupuk,  perusahaan benih. Lembaga Perguruan tinggi dan para peneliti. Ada pedagang importir- eksportir. Hingga logistik,  pasar pengolahan dan pemberi modal yakni bank ataupun lembaga non bank.

Semua ini harus duduk dan menyatukan pemikiran juga harus dilibatkan dalam integrasi memajukan pertanian. Agar tidak ada lagi istilah,  kebunku kebunmu, dan lainya,  sehingga saking sikut dan membuat perkembangan pertanian tidak bisa maju maju,  bahkan cenderung sebaliknya.

Jika pertanian maju, pemerintah tidak akan kesulitan menaikkan APBDnya.  Selain sektor ini cenderung stabil, untuk jangka panjang tidak akan sulit diterima konsumen sebab sifatnya kebutuhan primer berhubungan langsung dengan pangan.

Jika sektor pertanian maju unggul. Maka sektor memberatkan lain,  seperti retribusi dan pajak kini banyak memberatkan,  bisa diminimalisir secara sehat. (*)

Teks /Editor : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait