Membangun Kualitas Didik dengan Merehab Gedung Hantu

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG | Membangun kualitas belajar siswa, memang harus dicari solusi kreatifnya, sehingga sebagai pelajar akan tumbuh kecerdasan dari dalam dirinya masing-masing.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5 Palembang, Drs H Zulfikri MPd, mengatakan secara kreatif pihaknya akan selalu mencari solusi terbaik bagi perkembangan itu.

“Kita selalu mencoba mencari gagasan lain agar pelaksanaan belajar mengajar di SMKN 5 lebih efektif, cerdas dan tidak banyak menelan biaya,” ujar Zulfikri saat berbincang dengan Swarnanews.co id di ruang kerjanya, Jumat (9/8/2019).

Andaikan selama ini ada program ujian nasional berbasis komputer (UNBK), katanya, pihaknya akan mencari solusi cerdas untuk menggelar ujian menggunakan HP android.

“Syukur, dalam dua kali menggelar ujian pihaknya selalu memperoleh predikat terbaik. “Ini yang membanggakan kami,” katanya.

BACA JUGA  Palembang Bakal Miliki Sirkuit Balap

Selain sarana teknologi, Zulfikri mencoba memanfaatkan sarana yang ada di lingkungannya. Sebab pemanfaatan sarana merupakan upaya yang tepat untuk memberi kualitas lebih bagi pendidikan.

Karena itu ada satu unit gedung yang selama puluhan tahun terlantar. Padahal sebagai fasilitas gedung terlantar ini sangat pontensial untuk dimanfaatkan sebagai gedung serbaguna.

Paling tidak, jika ada kegiatan ekstrakurikuler, gedung terlantar itu dapat dimanfaatkan tanpa melakukan sewa gedung di lokasi lain.

Namun demikian diperlukan biaya untuk rehabilitasi gedung tersebut. Menurut Zulfikri, untuk merehabilitasi “gedung hantu’ itu pihaknya tak mempunyai biaya.

“Pemerintah hanya menggelontorkan dana hanya untuk biaya rehabilitas ruang kelas, membangun gedung baru. Saya sempat bingung untuk meningkatkan kualifikasi gedung itu,” paparnya.

BACA JUGA  Pemkot Targetkan Penanggulangan Kemiskinan Satu Digit

Apalagi selama terlantar, ada beberapa siswa yang kesurupan saat melewati ke kawasan itu. Keadaan ini juga yang mendorong semangatnya untuk memberdayakan gedung tersebut.

Pada akhirnya disepakati untuk mengajak orang tua siswa untuk berpartisipasi merehab “gedung hantu” tersebut.

“Alhamdulillah, dalam pertemuan dengan para orang tua siswa mereka sepakat untuk membantu rehabilitasi gedung itu secara patungan,” kata Zulfikri.

Meski ada kesediaan dari orang tua murid, namun pihaknya tidak menetapkan jumlah nilai. Berapa pun mereka rela dan mampu membantu dengan nilai seadanya, maka program itu berjalan.

“Ada orang tua siswa yang tadinya ingin menyumbang Rp 200 ribu, akhirnya memberi Rp 500 ribu. Ini yang membanggakan,” tandasnya.

Teks : Herwanto
Editor : Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait