Komite BPH Migas Ahmad Rizal Pimpin Upacara HUT RI ke-74 di Pertamina

Syukuri Nikmat Kemerdekaan Dengan Terus Menjaga Keberlangsungan Energi Untuk Bangsa

 

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG |Komite Badan Pengatur Hilir  (BPH) Migas Ir. H. Ahmad Rizal, SH, MH, FCBArb bertindak sebagai Pembina upacara memperingati HUT RI ke-74 di Kantor PT Pertamina  TBBM Kertapati Palembang, Sabtu (17/8/2019).

Komite BPH Migas Ir. H Ahmad Rizal, SH, MH, FCBArb saat membacakan amanah Menteri ESDM Ignasius Jonan.

Hadir pada kesempatan tersebut Region Manager Retail Fuel  Marketing MOR II Sumbagsel, Region Manager Supply and Distribution MOR II Sumbagsel, Operation Head Terminal BBM Kertapati, Head Operation PT Elnusa Petrofin, Site Operation Manager NGS Terminal BBM Kertapati, para pekerja di lingkungan Terminal BBM Kertapati, dan para mitra kerja PT Pertamina MOR II. Sedangkan dari BPH Migas hadir Darsono Kepala Seksi  Pemantauan Cadangan Migas di BPH, Staf Humas Marcici Makalai dan lainnya.

Upacara diawali  dengan penyiapan para peserta upacara dalam barisan yang rapi. Kemudian dilanjutkan dengan laporan komandan upacara kepada Pembina Upacara  bahwa upacara siap dilaksanakan. Tahap berikutnya berupa Pembacaan Pancasila yang diucapkan oleh Pembina Upacara Ir. H Ahmad Rizal, Sh, MH, FCBArb yang diikuti oleh seluruh peserta upacara dengan khidmat. Kemudian dilanjutkan dengan pengibaran bendera pusaka oleh petugas. Usai itu dilanjutkan dengan pembacaan teks pembukaan UUD 45.

Setelah itu dilanjutkan dengan amanah dari Menteri ESDM Ignasius Jonan yang dibacakan oleh  Pembina Upacara. Pada kesempatan Itu Ahmad Rizal mewakili Menteri ESDM  Ignasius  Jonan mengemukakan, dalam perjalanan mengisi kemerdekaan di sektor energi dan sumber daya mineral, kita dihadapkan pada berbagai tantangan untuk mewujudkan semangat pasal 33 UUD’45 yaitu “sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Berbagai tantangan tersebut, antara lain, lanjutnya  eksplorasi dan produksi migas, untuk peningkatan penemuan cadangan baru dan reserve replacement rate ratio, keterbatasan infrastruktur, belum bergairahnya hilirisasi pertambangan dan belum optimalnya pemanfaatan energi baru terbarukan. Dari sisi pemanfaatan energi, hemat energi belum menjadi budaya di masyarakat dan masih dianggap hanya tugas dan urusan Pemerintah serta terkait aspek integritas dan kepatuhan terhadap good governance.

Kemudian, perkembangan revolusi industri 4.0 mempermudah pemanfaatan EBT (Energi Baru Terbarukan), melalui efisiensi dan efektifitas rantai pasok dan infrastruktur ketenagalistrikan dan transportasi, dengan hadirnya kendaraan listrik, transaksi online dan kecerdasan buatan dalam berbagai sektor.

BACA JUGA  Lampung Mengaji Mulai Berkumandang

Inovasi ini akan mempermudah sektor ESDM dalam menghadapi tantangan pengelolaan sumber daya energi dan mineral yang telah memasuki tahapan penurunan serta perluasan jangkauan layanan energi yang lebih bersih ke seluruh nusantara dengan harga terjangkau dan meningkatkan partisipasi human capital dan industri dalam negeri.

Prosesi pengibaran bendera Sang Merah Putih.

Selanjutnya, Kementerian ESDM memfokuskan untuk mewujudkan keadilan sosial di bidang energi, melalui pengutamaan perluasan akses terhadap energi dan menjaga harga energi yang terjangkau. Sebagian besar anggaran Kementerian ESDM dialokasikan untuk belanja infrastruktur rakyat seperti Jaringan Gas Kota (Jargas), Konverter Kit LPG untuk Nelayan, Lampu Tenaga Surya Hemat Energi, Sumur Bor untuk Daerah Sulit Air. Sementara subsidi energi empat tahun terakhir dialihkan untuk belanja pada sektor yang lebih produktif.

Selain itu, sektor ESDM masih memberikan peran yang besar untuk pendapatan nasional, pada 2018 sektor ESDM menyumbangkan 53,5% PNBP Nasional. Pada tahun 2018, realisasi PNBP Sektor ESDM mencapai 181% (Rp217,8 Triliun) dari target APBN sebesar Rp120,5 Triliun. Sektor ESDM juga meningkatkan investasi nasional sebesar US$32,3 miliar pada 2018, dimana sebelumnya US$27,5 miliar pada 2017.

Beberapa program yang telah dilakukan baik oleh Kementerian ESDM melalui APBN maupun swasta dalam pengelolaan energi nasional, antara lain:  -Sub Sektor Minyak dan Gas Bumi

–  BBM 1 Harga, hingga saat ini sejumlah 165 titik telah beroperasi di seluruh wilayah NKRI (target hingga akhir 2019 sejumlah 170 titik).

–  Konverter kit untuk nelayan dan petani, telah terealisasi 25.000 unit konverter kit untuk nelayan pada 2018 dan ditargetkan penambahan 13.305 unit untuk nelayan dan 1.000 unit untuk petani pada 2019.

–  Jaringan Gas Kota, untuk memberikan akses energi seluasluasnya bagi masyarakat hingga tahun 2018 telah tersambung 463.440 Sambungan Rumah (SR) dan ditingkatkan menjadi 541.656 SR di akhir tahun 2019.

–  Untuk menjaga produksi minyak dan gas bumi serta peningkatan peran nasional dalam pengelolaan migas oleh nasional, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis, antara lain:

  • Alih kelola blok migas seperti Blok Mahakam (Blok gas terbesar) dan Blok Rokan (Blok minyak terbesar) ke PT Pertamina.
  • Pengembangan proyek migas strategis, yaitu Jangkrik dan Jambaran Tiung Biru, serta keputusan pengembangan Blok Masela.

 

  1. Peserta upacara foto bersama usai upacara.

    Sub Sektor Ketenagalistrikan dan Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE)

–  Rasio elektrifikasi hingga semester I 2019 telah mencapai 98,81% dan akan terus ditingkatkan menjadi 99% hingga akhir tahun 2019.

–  Pembagian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi untuk rumah tidak berlistrik serta Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan rasio elektrifikasi pada daerah yang belum dilayani PLN.

–  Pengembangan Biofuel melalui Program mandatori BBN Jenis biodiesel sebagai campuran BBM Jenis Minyak Solar pada sektor PSO, Non-PSO, Industri dan Komersial, serta Pembangkit Listrik pada tahun 2018 telah berhasil menghemat devisa sebesar US$1,88 Miliar (Rp26,51 Triliun) dari pengurangan impor BBM.

  1. Sub Sektor Mineral dan Batubara

–  Pemerintah Indonesia telah resmi kuasai mayoritas saham Freeport ditandai dengan terbitnya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada tanggal 21 Desember 2018.

–  Fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) dalam rangka hilirisasi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

  1. Sub Sektor Geologi

Hingga akhir tahun 2018 telah terbangun 2.288 titik sumur bor di daerah sulit air dan akan dibangun tambahan 650 titik pada tahun 2019.

Para pimpinan Pertamina MOR II Sumbagsel dan Staf BPH Migas tampak khidmat mengikuti upacara.

Pembangunan SDM menjadi kunci Indonesia ke depan.  Kualitas pendidikan dan keterampilan harus tingkatkan melalui pengembangan vocational training dan vocational school. Begitupun dengan diaspora yang bertalenta tinggi terutama yang bergelut di sektor ESDM harus diberikan dukungan agar memberikan kontribusi besar bagi percepatan pembangunan Indonesia. Usaha peningkatan kualitas SDM juga diharapkan dapat mengimbangi perkembangan dunia yang begitu cepat.

Pemerintah mengharapkan peran sektor swasta dalam meningkatkan kualitas SDM, baik melalui pemberian kesempatan untuk magang secara luas pada lingkungan kerja operasi sektor ESDM maupun pelatihan dalam menjawab kebutuhan tenaga kerja terdidik yang memprioritaskan potensi setempat..

Usai pembacaan amanah dari Menteri ESDM oleh Ahmad Rizal dilanjutkan  memperdengarkan lagu-lagu perjuangan. Setelah itu  pengucapan kata-kata mutiara para pejuang kemerdekaan.  Diantaranya  “Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad ‘Merdeka, merdeka atau mati”  serta Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri” kata mutiara  dari Proklamator Kemerdekaan RI Soekarno.  Upacara kemudian diakhiri dengan pembacaan doa.

 

Teks/Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait