Tantangan Ekonomi Indonesia ke Depan Makin Besar

SWARNANEWS.CO.ID, JAKARTA | Presiden Joko Widodo mengingatkan semua pihak tidak boleh ada yang lengah karena tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks.

“Ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian, beberapa emerging market sedang mengalami krisis, dan beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif,” kata Presiden Jokowi dalam pidato penyampaian Keterangan Pemerintah atas RAPBN 2020 Beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Jumat (16/08/2019).

Kepala Negara menyebutkan dalam lima tahun terakhir pembangunan ekonomi menunjukkan capaian yang menggembirakan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik dari 69,55 di 2015, menjadi 71,39 di 2018, atau masuk dalam status tinggi. Selain itu, tidak ada lagi provinsi dengan tingkat IPM yang rendah. Logistic Performance Index (LPI) naik dari peringkat 53 dunia pada 2014, menjadi peringkat 46 dunia pada 2018. Dalam Global Competitiveness Index, kualitas infrastruktur kita termasuk listrik dan air meningkat, dari peringkat 81 dunia pada 2015, ke peringkat 71 dunia pada 2018.

BACA JUGA  Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,08 Persen Pada 2019

Berbagai capaian tersebut tidak terlepas dari reformasi fiskal yang telah kita lakukan. Kita tidak lagi menggunakan pola “money follows function”, tetapi “money follows program”. “Kita tidak lagi berorientasi pada proses dan output, tetapi pada impact dan outcome. Kita terus mengelola fiskal agar lebih sehat, lebih adil, dan menopang kemandirian,” kata Presiden.

BACA JUGA  Jembatan Holtekamp Jadi Titik Perekonomian Baru Bagi Masyarakat Jayapura

Namun, menurut Presiden semua pihak tidak boleh lengah. Tantangan ekonomi ke depan semakin berat dan semakin kompleks, ekonomi dunia sedang mengalami ketidakpastian. “Beberapa emerging market sedang mengalami krisis, dan beberapa negara sedang mengalami pertumbuhan negatif,” tegas Presiden.

Ia juga mengingatkan Indonesia menghadapi tantangan perang dagang. “Depresiasi nilai mata uang beberapa negara seperti Yuan-Tiongkok dan PesoArgentina, membuat kita harus waspada,” katanya. (*)

Teks: Antara

Editor: Maya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait