Perhatian Obat Manjur ODHA

SWARNANEWS.CO.ID, MAKASAR, (20/8 ) | Perhatian dari keluarga sangat dibutuhkan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) agar mampu bertahan dan tetap produktif menjalani kehidupannya sehari-hari, kata Sitti Slamah dari Yayasan Gaya Celebes.

Jika pemenuhan perhatian ini hilang, maka akan berakibat pada abainya ODHA terhadap pengobatan yang fatalnya hingga berakhir pada kematian, katanya pada diskusi yang dilaksanakan Jaringan Indonesia Positif (JIP) Makassar sebagai Jaringan dengan Orang HIV di Indonesia, Selasa.

“Berbagai ODHA yang kami dampingi tampak serius berobat dan semangat untuk menjalaninya, namun keluarga malah mematikan semangat itu,” ujar Sitti Salmah.

Perempuan yang telah berkecimpung sebagai pemerhati ODHA di Sulawesi Selatan dan telah mendampingi ODHA sejak 2005 itu mengungkapkan penerimaan kondisi seorang ODHA masih sangat sulit oleh keluarga, bahkan tidak sedikit yang mengucapkan “pasrah”.

Kata “pasrah” inilah yang dianggap secara tidak langsung “membunuh” para ODHA. Padahal pasca terpapar virus HIV sangat membutuhkan semangat dan dukungan dari keluarga untuk melakukan pengobatan yang harus dikonsumsi seumur hidup.

Perhatian dan semangat menyambung penghidupan merupakan hal termahal secara sosial dan psikis bagi ODHA. Suplemen obat melebihi segalanya.

“Banyak yang tidak mau menerima keadaan keluarganya. Malah yang paling sering itu hanya ingin mencari tahu asal muasal penyakitnya lalu menghakimi tanpa melakukan upaya dan memberi semangat untuk berobat,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Makassar bahwa sebanyak 792 ODHA Lost Follow up atau tidak melanjutkan pengobatan setelah diperiksa dan dinyatakan positif HIV/AIDS serta mendapat perawatan. Salah satu penyebabnya karena tidak adanya dukungan dari keluarga.

BACA JUGA  Anak Terserang Alergi, Cek Kesehatan Orang Tua

Bukan hanya keluarga, seorang ODHA saat pertama kali mengetahui dirinya mengidap HIV lebih cenderung tidak bisa menerima kenyataan atau hasil test yang telah dilakukan. Alasan mendasarnya ialah tidak berani membuka statusnya kepada keluarga sebab masih takut tidak mendapat dukungan khususnya dalam hal pengobatanm katanya.

Ia mengatakan perlakuan diskriminasi di tengah masyarakat yang seringkali menganggap penyakit ini sebagai kutukan merupakan momok yang sangat menakutkan bagi ODHA, sehingga kebanyakan dari mereka tidak berani memperlihatkan kepada khalayak bahwa pengidapnya bisa tetap produktif dan menjalani kehidupan seperti orang-orang pada umumnya.

“Banyak kok ODHA yang bisa bekerja dengan baik, punya anak, berorganisasi dan tetap hidup puluhan tahun karena disiplin minum obatnya yang sampai saat ini bisa diperoleh secara gratis di rumah sakit hingga puskesmas di Kota Makassar,” tambahnya.

Data cascade pengobatan ARV dalam layanan PDP (Pengobatan dalam Pengobatan) Kota Makassar hingga Maret 2019 menunjukkan kumulatif masuk perawatan HIV/AIDS sebanyak 9.912 jiwa, sementara kumulatif memenuhi syarat penggunaan ARV yakni 6.792 jiwa.

Pengguna yang pernah memulai ARV sebanyak 5.199 jiwa tetapi yang tetap on ARV atau terus menggunakan ARV tidak lebih dari 55 persen atau hanya 2.732 jiwa. Data ODHA meninggal 823 jiwa dan berhenti menggunakan ARV tanpa informasi 72 orang.

Sementara Kordinator IU YPKDS (Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya), Tengku Rodhan juga mengingatkan bahwa jumlah data ODHA tersebut bukan hanya berasal dari Kota Makassar tetapi berbagai daerah di Sulawei Selatan.

“Ada juga ODHA yang berpindah domisili sehingga tidak diketahui lagi nasibnya bagaimana khususnya pengobatannya, tetapi case nya itu sangat sedikit. Datanya hanya sebanyak 777 yang dirujuk keluar,” paparnya.

BACA JUGA  Tim Karate RSMH Sabet 3 Emas dan 2 Perak

Kordinator IU YPKDS (Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya), Tengku Rodhan mengatakan Indonesia dipastikan telah gagal mengontrol ODHA dalam memperoleh pengobatan ARV sesuai target capaian 50 persen pada tahun 2020.

“Karena ini sudah akhir tahun 2019 tetapi belum mencapai 40 persen,” kata dia pada diskusi terkait HIV/Aids bersama media dan pemerhati ODHA di Makassar, Senin.

Berdasarkan laporan 541 kabupaten/kota se Indonesia pada 2019, estimasi secara nasional sebanyak 640.443 ODHA dengan jumlah yang pernah mendapat ARV sebanyak 224.471 orang. Namun yang tetap melakukan on treatment atau pengobatan ARV hanya 108.479 orang.

Dengan demikian, capaian Indonesia terhadap ODHA untuk memperoleh pengobatan melalui ARV masih di bawah 20 persen.

ARV merupakan satu-satunya obat yang bisa menekan virus HIV dalam tubuh sehingga tidak semakin menular dan mengakibatkan daya imun menurun yang akibatnya tubuh sangat mudah diserang berbagai penyakit.

Penggunaan ARV sangat penting karena bisa menjadi suplemen penyambung hidup ODHA untuk beraktivitas seperti sedia kala, tentunya dengan kedisiplinan mengkonsumsi ARV setiap hari dan seumur hidup.

“Jika tidak minum ARV kemungkinannya hanya bisa bertahan tiga sampai lima tahun. Ini pun tergantung pola hidup mereka masing-masing,” paparnya.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan kelompok paling banyak terdeteksi sebagai ODHA didominasi oleh umur antara 25-49 tahun. Mirisnya, kelompok umur selanjutnya telah banyak didapati pada mereka yang berusia 20-24 tahun.

Teks/Editor :Antara/Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait