Melongok Budaya Literasi Anak-anak Kini

8 September 2019 2:37 pm,

SWARNANEWS.CO.ID-JAKARTA, (08/9/2019) | Syauqi, tengah khusyuk membaca buku saat seorang petugas mengetuk pintu rumahnya untuk mengantarkan buku bacaan yang dipesan ibunya untuknya.

Kali ini, seri Ensiklopedia yang terdiri dari buku-buku bertema alam semesta, bumi, tumbuhan, serangga dan alat pencernaan menambah ratusan buku yang sudah dikoleksi sejak ia masih kecil.

Orang tuanya terus mendorongnya agar senang membaca dengan menyediakan banyak buku bacaan.

Meski nilai Matematikanya terbilang biasa, tetapi Syauqi adalah anak yang cukup cerdas pada mata pelajaran Biologi dan Bahasa Inggris.

Selain berbakat, kepandaiannya berbahasa Inggris dan pada mata pelajaran Biologi itu tidak muncul begitu saja.

Kepandaian tersebut datang dari kasih sayang orang tua yang tak henti-hentinya memberi dorongan agar ia cinta dengan buku.

Saat Syauqi masih kecil, awalnya ia hanya senang melihat-lihat buku bergambar.

Ia juga senang minta dibacakan buku cerita atau dongeng sebelum tidur.

Setelah ia pintar membaca, kiriman buku apapun yang datang untuknya, baik yang berbahasa Indonesia ataupun berbahasa Inggris, ia baca sampai tuntas.

Orang tuanya yakin kebiasaan membaca buku dari kecil akan merangsang kecerdasan anak.

Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Abdul Khak juga sependapat dengan hal itu.

“Ya pasti karena anak akan terbiasa menghadapi berbagai jenis teks dengan tingkat logika dan kerumitan isi yang berbeda-beda,” katanya menjelaskan.

Kecerdasan setiap anak berbeda-beda. Ada yang cerdas di bidang numerik, linguistik, spasial, ada juga yang cerdas dalam hal analisis, jelasnya.

“Namun, tidak dipungkiri ada juga anak yang memiliki beberapa kecerdasan sekaligus,” tambahnya.

Tetapi, kecerdasan tersebut memang perlu dirangsang, salah satunya dengan mendorong minat anak untuk senang membaca buku.

Dorongan dan perhatian untuk merangsang minat baca anak itu tidak hanya perlu dilakukan para orang tua tetapi juga guru dan pemerintah.

Dan gerakan literasi untuk mendorong minat baca, kata dia, memang telah tumbuh di masyarakat, salah satunya dengan menjamurnya Taman Buku Bacaan (TBM).

Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud mengapresiasi semakin banyaknya taman bacaan masyarakat (TBM) yang ditumbuhkan oleh para pegiat untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Saat ini telah ada sekitar 5.000 taman bacaan masyarakat yang tersebar hampir di semua provinsi.

BACA JUGA  Bantuan Bencana Internasional Sesuai Kebutuhan

Hal tersebut menunjukkan semakin banyak orang yang menyadari pentingnya upaya untuk meningkatkan minat baca dan budaya literasi masyarakat.

Lebih lanjut, ia menuturkan para pegiat taman bacaan tersebut berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari guru, mahasiswa hingga lulusan SMA yang berminat untuk memajukan budaya literasi masyarakat.

Taman bacaan masyarakat merupakan wadah para pegiat untuk menyediakan buku dan berinteraksi dengan masyarakat melalui kegiatan membaca dan juga menulis.

Ada aktivitas baca dan tulis di taman bacaan masyarakat tersebut. Mereka hadir di tengah masyarakat melalui banyak cara yang inovatif.

“Misal di pojok rumah dekat garasi, dengan angkot yang di dalamnya ada buku bacaan, dengan motor atau sambil berkeliling membawa jamu sembari membawa bacaan anak. Ada juga dengan perpustakaan bergerak,” tuturnya.

Biasanya taman bacaan itu diminati oleh mereka yang secara ekonomi tidak punya kekuatan untuk membeli buku terus menerus. Tetapi mereka haus membaca.

Dorongan pemerintah

Selain tumbuh dari kesadaran masyarakat, dorongan untuk meningkatkan budaya literasi juga terus dilakukan pemerintah melalui Kemdikbud.

Mereka terus melakukan upaya mencerdaskan bangsa dengan salah satunya menyalurkan buku bacaan, baik yang berbentuk cetak ataupun digital di situs Rumah Belajar.

Kemdikbud memiliki rumah belajar di kemdikbud.co.id.

Ia mengatakan di situs itu ada berbagai buku cerita yang sudah dalam bentuk digital.

Badan Bahasa, kata dia, memasok berbagai buku cerita ke situs Kemdikbud tersebut sehingga bisa diunduh dan dibaca secara luas oleh masyarakat.

Buku yang dikirimkan ke situs itu memiliki banyak tema, mulai dari tema pahlawan, tokoh, kuliner, sosial, dan lain sebagainya.

Selain diunggah di situs tersebut, buku-buku itu juga ada yang mereka cetak.

Badan bahasa tahun ini, kata dia, akan mengirimkan sekitar 2,5 juta eksemplar buku dalam 60 judul.

Dari 60 judul itu, 30 di antaranya untuk SD, 20 untuk tingkat SMP, 10 untuk tingkat SMK dan SMA.

Buku-buku tersebut akan dikirim ke 48.000 lebih alamat, termasuk ke taman baca masyarakat (TBM), Perpustakaan Desa, sekolah SD, SMP, SMK dan SMA.

“Jadi kami mencetak sekaligus mengirim. Mereka tinggal terima,” katanya.

Penyaluran buku baik secara digital atau cetak itu, kata dia, dilakukan dalam rangka gerakan literasi nasional tentunya.

BACA JUGA  Pemerintah Undang Organisasi Media Bahas Komunikasi Publik Tanah Air

“Tujuannya untuk meningkatkan minat baca. Karena literasi paling dasar sebenarnya baca dan tulis.”

Dan pada akhirnya, gerakan literasi tersebut juga diupayakan untuk menurunkan angka buta aksara yang ada di Indonesia.

Namun demikian, meski telah banyak daerah yang disasar dalam gerakan menumbuhkan budaya literasi dan menurunkan angka buta aksara, tampaknya masih ada sejumlah golongan warga dalam jumlah tertentu yang masih belum terjamah, yaitu golongan orang tua, perempuan dan mereka yang berada di daerah terpencil.

Buta aksara turun

Meski demikian, Kemdikbud mengapresiasi kerja yang dilakukan banyak pihak sehingga angka buta aksara di Indonesia turun menjadi 1,93 persen.

“Alhamdulillah, menurut data dari BPS angka buta aksara kita turun sampai 1,93 persen dari 2,07 persen pada tahun lalu,” kata Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan Kemdikbud Abdul Kahar.

Ia mengatakan walaupun angka tersebut terlihat kecil, tetapi Kemdikbud menganggap angka tersebut menunjukkan peningkatan yang luar biasa.

Upaya penurunan angka buta aksara, kata dia, cukup sulit dilakukan mengingat profil masyarakat yang buta aksara berada di daerah terpencil, yang secara geografis sulit dijangkau karena terpencar dan terpencil.

Selain itu, rata-rata dari mereka sudah berusia di atas 45 tahun.

Banyak kendala yang dihadapi saat mencoba mengajak mereka untuk membaca, di antara mereka terkendala daya ingat dan penglihatan.

Sementara itu, dua pertiga dari mereka yang masih buta huruf adalah perempuan yang tertinggal secara ekonomi.

“Jadi kami tetap bangga dengan penurunan angka itu, 1,93 itu luar biasa. Karena secara kumulatif angka itu sama dengan 3,2 juta penduduk Indonesia,” ujarnya.

Tentunya, upaya pemerintah untuk menurunkan angka buta aksara tidak berhenti di situ saja.

Selain dengan memanfaatkan dukungan APBN yang difokuskan pada penanganan buta aksara, Kemendikbud juga mengajak pemerintah daerah untuk mengoptimalkan APBD dan peran serta masyarakat.

Kemendikbud juga bekerja sama dengan pemda setempat dalam pengembangan model keaksaraan.

Tetapi pada akhirnya, upaya untuk menumbuhkembangkan budaya literasi dan melek aksara perlu dilakukan oleh banyak pihak, baik orang tua, kesadaran masyarakat itu sendiri dan juga pemerintah.

Dan dorongan sekecil apapun jika dilakukan terus menerus kelak akan membuahkan hasil.

Teks/Editor:  Antara/Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait