Bersama Kita Cegah Bunuh Diri

Ratna Yunita Setiyani S, M.Psi., Psikolog
Dosen Psikologi UNISA Yogyakarta, Sekretaris IPK Wilayah DIY

 

SWARNANEWS.CO.ID | Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dilaksanakan untuk pertama kalinya pada 10 Oktober 1992. Awalnya dilakukan tanpa tema khusus dalam setiap perayaannya setahun sekali. Lalu pada tahun 1994, mulailah perayaan hari kesehatan jiwa sedunia diperingati dengan tema-tema khusus. Tujuannya adalah untuk mempromosikan advokasi kesehatan jiwa, sekaligus sebagai sarana edukasi bagi masyarakat terhadap isu-isu kesehatan jiwa.

Perayaan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun ini dengan tema Mental Health Promotion and Suicide Prevention atau Promosi Kesehatan Jiwa dan Pencegahan Bunuh Diri. Mengapa bunuh diri menjadi perhatian dan diambil sebagai tema untuk tahun ini? Karena bunuh diri menjadi pembunuh nomer dua dunia. Hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya. Kasus bunuh diri banyak terjadi pada remaja hingga dewasa awal. Hamper setiap detik ditemukan trang meninggal karena bunuh diri.

WHO sebelumnya memperkirakan bahwa depresi menjadi pembunuh nomer dua dunia. Bunuh diri adalah efek dari depresi yang semakin tahun semakin meningkat. Miris sekali bila dalam 40 detik nyawa hilang hanya karena depresi yang berakhir dengan bunuh diri. Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia, masyarakat diajak untuk kembali menyadari sebuah persoalan di masyarakat yang juga menjadi persoalan kita bersama. Hari Kesehatan Jiwa Dunia juga mengingatkan bahwa mengakhiri hidup dengan cara pintas bisa terjadi pada siapapun, kapanpun, dan dimanapun.

Generasi muda adalah remaja yang disiapkan untuk menerima estafet kehidupan dari generasi sebelumnya. Merekalah tulang punggung bangsa. Masa remaja merupakan masa dalam rentang kehidupan yang dipenuhi dengan berbagai perubahan dan dinamika. Mulai dari perubahan secara fisik-biologis dan gejolak secara psikologis. Hal ini sering memunculkan konflik karena perubahan bentuk tubuh dan hormonal dapat mempengaruhi munculnya sebuah dinamika suasana hati dan perilaku. Tidak hanya itu, remaja juga mengalami perubahan-perubahan sosial : model interaksi, tanggung jawab dan tuntutan sosial yang berbeda dengan ketika masa kanak-kanak. Tentunya semua ini memberikan dampak secara psikologis yang berpengaruh pada perilakunya. Oleh karenanya membina generasi muda yang ceria bahagia, mempunyai motivasi tinggi dan tangguh menghadapi berbagai gejolak perubahan menjadi sangat penting. Kesehatan jiwa generasi muda akan mencerminkan kesehatan dan masa depan sebuah bangsa

WHO menyatakan bahwa lebih dari separuh gangguan kejiwaan yang terjadi dimulai dari usia 14 tahun. Depresi banyak dialami oleh remaja. Depresi dapat mengarah pada bunuh diri. Bulan September kemarin saja terhitung terjadi 3 kasus bunuh diri di Kabupaten Sleman dan lebih dari 30 (data dari berbagai sumber) kasus bunuh diri terjadi di Indonesia. Betapa kenyataan ini sangat miris dan mengkhawatirkan. Mereka yang diharapkan sebagai tulang punggung bangsa ini berakhir dalam kematian yang sia-sia.

BACA JUGA  Membangun Kekuatan Ekonomi Sejak Dini

Bila ditelaah, kondisi depresi ini dikarenakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri mereka yang membawa dinamika gejolak. Tuntutan sosial yang semakin tinggi, ekonomi, gaya hidup, lingkungan, tuntutan pendidikan dan pergaulan di media sosial. Kemajuan teknologi yang terakses dalam media sosial di satu sisi menjadi gangguan dan penghambat kematangan perkembangan sosial dan emosi remaja. Akses ke dunia maya dengan segala kemudahan dan tampilan yang kompleks dengan berbagai fitur membuat remaja sering mengaksesnya.

Keterampilan mengelola diri untuk membatasi pada rentang cukup dalam mengakses media sosial pada diri remaja cenderung diabaikan. Mengapa begitu? Karena dunia mereka adalah dunia eksplorasi dengan keingintahuan yang tinggi. Masa puber yang dialami remaja menyebabkan mereka ingin menjalin pertemanan hingga pertemanan yang khusus dengan orang lain. Kenyataan di dunia nyata yang terkadang berjalan tidak sesuai dengan harapan membuat mereka bermain di jejaring sosial dengan luar biasa. Akibatnya, mereka menampilkan diri yang tidak sewajarnya, cenderung faking good, yang ditampilkan adalah yang dapat menarik perhatian lawan jenisnya. Maka mudah sekali berbohong untuk mendapatkan pujian. Selanjutnya, terlalu sering menampilakn kebohongan akan diri dapat mengarah pada masalah kejiwaan yaitu munculnya topeng-topeng diri yang membuat mereka mempunyai kepribadian ganda. Semakin akrab diri mereka dengan kepribadian ganda akan rentan sekali mengarah pada gangguan kejiwaan, hingga terpecah kepribadian utuhnya. Tidak itu saja, kebiasaan lain berprotret secara selfie yang dilakukan lebih dari enam kali sehari juga masuk pada diagnosa gangguan kejiwaan. Ketidakmampuan lepas dari HP juga mengarah pada masalah kejiwaan yang kita kenal dengan nama nomophobia.

Kecanggihan teknologi juga dapat memunculkan perkara lain yang tak kalah serius. Adiksi game menjadi pembunuh waktu para remaja dalam sehari-harinya. Bahkan mungkin rela tidak tidur dan menahan diri melakukan kewajiban utama hanya karena keasyikan bermain game ini. Lama-lama menjadi kecanduan dan muncullah perilaku agresif dan emosional manakala paparannya semakin banyak. Ituah tantangan “remaja jaman now” akibat ketidaktepatan penggunaan media sosial. Sehingga perlu dilakukan upaya edukasi yang gencar tentang penggunaan media sosial yang baik dan bijak. Pemerintah harus ikut andil dalam hal ini.

BACA JUGA  Bung Karno dan Tekad National Building Asian Games

Beberapa waktu ini bangsa kita mengalami bencana alam dan bencana sosial. Gempa bumi, huru hara, kekacauan polotik, dll. Fenomena Film Joker yang justru menjadi gaya yang ditiru atau trend negative di kalangan remaja. Hal ini memunculkan stres tersendiri bagi siapapun kita yang terdampak. Banyak generasi muda yang ada di dalamnya yang ikut terdampak langsung di lokasi bencana maupun di luar lokasi bencana. Banyak dari mereka yang terancam kelangsungan pendidikannya karena bencana ini. Beberapa Perguruan Tinggi mungkin telah memberikan keringanan pada uang pendidikan, namun stres yang lebih besar terjadi pada psikis mereka. Hal ini rawan memunculkan masalah psikologis yang dapat mengarah pada gangguan kejiwaan bila tidak diberikan pendampingan dan penanganan segera dengan keberlanjutan.

Keluarga yang harmonis dan orang tua yang penuh perhatian dan suportif merupakan kondisi ideal yang menjadi modal untuk bertumbuh kembangnya generasi muda tangguh dan bahagia. Selain itu rasa peduli kepada orang lain dnegan mendengarkan keluh kesahnya menjadi alternative penolong untuk emngurangi ebeban yang mengarah pada depresi. Bila diperlukan, bisa dating kepada Psikolog untuk berkonsultasi agar beban yang dipikul setidaknya berkurang hingga mendapatkan solusi dan terapi jika diperlukan. Konseling sebaya dan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja di sekolah-sekolah juga perlu digalakkan sebagai antisipasi dan rehabilitasi tingkat awal yang membantu permasalahan remaja. Keberadaan Psikolog di Puskesmas juga berperan besar dalam peningkatan kesehatan jiwa remaja pada khususnya, dan semua orang di lingkungan kerja masing-masing pada umumnya.

Into The Light (ITL) juga memberikan andil dalam pencegahan bunuh diri remaja dan pendampingan bagi yang teridentifikasi hendak melakukan bunuh diri, baik itu yang hanya berniat maupun yang telah melakukan percobaan bunuh diri. Banyak dilakukan sharing dan edukasi untuk remaja. Hanya sayangnya, ITL masih berpusat di Jakarta dan belum memiliki cabang di daerah-daerah. Pencegahan terjadinya gangguan jiwa pada remaja perlu diawali dengan tepat dan segera. Peran pemerintah menjadi penting pada berbagai sektor, menyeluruh dan hingga ke lini bawah karena ini melibatkan semuanya.

Selamat Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Mari bergandengan tangan kita jaga kesehatan jiwa kita dan lingkungan kita dengan bersama-sama kita cegah bunuh diri.

Editor : Sarono PS

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait