Ekonomi Sirkular Diadopsi Dari Manajemen Sampah Baik

SWARNANEWS.CO.ID-JAKARTA, 11/11 /2019 | Kedutaan Norwegia menilai bahwa Indonesia dapat memulai untuk mengimplementasikan konsep ekonomi sirkular dari manajemen sampah dengan komitmen yang tinggi.

“Kami lihat manajemen sampah berjalan dengan semakin baik di negeri ini, saat ini,” ujar Perwakilan Kedutaan Norwegia untuk Indonesia Bjørnar Dahl Hotvedt dalam dalam konferensi pers “Indonesia Circular Economy Forum (ICEF) ke-tiga” di Jakarta, Senin.

Ia mengingatkan bahwa manajemen sampah membutuhkan komitmen dan kemitraan berbagai pihak, mulai dari tingkat individual di rumah tangga, hingga pemerintah dan pihak swasta.

Saat ini, lanjut dia, dunia sedang menghadapi persoalan sampah plastik yang terlalu besar jumlahnya. Norwegia juga secara internal telah memulai, dan semakin meningkatkan kualitas pengelolaan sampahnya.

BACA JUGA  Amerika akan Kaji Skema Gross Split Migas Indonesia

Dalam kesempatan sama, VTT Pusat Penelitian Teknik Finlandia Tommi Vourinen mengatakan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi konsep ekonomi sirkular adalah menyeimbangkan antara produksi dengan tuntutan pasar konsumen.

“Tidak semua plastik berbahaya dan manfaatnya dapat dioptimalkan, namun demikian kita semua perlu mengubah paradigma alur produksi-konsumsi yang linear, menjadi sirkular,” katanya.

Sementara itu, Akademisi dari Coventry University, Inggris, Benny Tjahjono mengatakan salah satu prinsip ekonomi sirkular yaitu pengurangan sampah mulai dari sumbernya.

“Saat ini kami bergiat meneliti penciptaan dan pemanfaatan plastik bio yang bisa terurai sendiri di alam. Kami bekerjasama dengan sebuah perusahaan rintisan di Inggris yang memformulasikan sebuah ‘zat ajaib’ yang apabila dibubuhkan ke sebuah kantong plastik, dapat mengubahnya menjadi bahan yang dapat terurai dengan sendirinya di alam,” katanya.

BACA JUGA  Alasan SBY dan Demokrat tak Gencar Mengkritik Kenaikan BBM

Ia mengemukakan timnya bergiat di pusat bisnis dan masyarakat, Departemen Produksi dan Konsumsi yang bertanggung jawab, di Universitas Coventry.

“Kami fokus pada solusi sampah makanan. Di Indonesia, kami bekerjasama dengan lintas kalangan, mulai dari petani, pengolah makanan, hingga pasar konsumen,” katanya.

Teks/Editor : Antara/Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait