Menyoal Peran Pemuda Sebagai Garda Perubahan Daerah

Oleh: Herliansyah

Mahasiswa, Tergabung Dalam Ikatan Mahasiswa Empat Lawang

 

PEMUDA yang identik dengan karakter semangat yang tinggi dan rasa penasaran yang luas memiliki peran yang besar dalam perubahan di suatu wilayah permukimanya. Perubahan tersebut dapat mencangkup berbagai aspek, baik sosial, politik, teknologi, budaya, kebijakan dan masih banyak lagi.

Fenomena industri 4.0 adalah keadaan kontemporer yang tidak dapat hindari sebagai upaya adaptasi atas perkembangan jaman. Pemuda yang melek dan lebih paham teknologi, harusnya tidak apatis untuk mengejar ketertinggalan perkembangan daerahnya.

Keberadaan pemuda yang begitu dekat dengan globalisasi menjadi tantangan tersendiri atas krisis moral yang dipegang oleh pemuda-pemudi sekarang ini. Hal demikian merupakan salah satu indikasi kuat yang menjadi minimnya partipasi pemuda dalam lingkungan daerahnya. Padahal sebagai pemuda harus menyadari bahwa mereka adalah garda terdepan dalam upaya perubahan dan generasi harapan sebagai penerus tahta birokrasi kepemimpinan.

Sudah selayaknya sedari sekarang pemuda mengambil peran dalam masyarakat, bukan hanya menempa diri di perguruan tinggi tanpa peka apa yang terjadi di lingkungan mereka. Pemuda perlu distumulus dengan perlahan terjun ke masyarakat agar mengetahui lebih detail kondisinya dan tidak shock saat benar-benar dituntut berada di tengah masyarakat.

Pemuda bukan hanya sebagai generasi penerus atas hierarki birokrasi yang hadir ketika pendahulunya tiada. Tapi pemuda harus nampak sedari sekarang yang mengimplementasikan fungsinya sebagai sosial kontrol dan agen perubahan. Menanamkan idealisme dengan memihak kebenaran dan menyatakan perang kepada kebatilan adalah nomenklatur yang harus dipegang teguh. Kita sebagai pemuda jangan sampai diam ketika ada celah yang rusak di jajaran pemerintah sekalipun kita orang terdekat mereka. Masyarakat perlu pembelaan atas kesewenang-wenangan kebijakan yang tidak berpihak kepada mereka.

Pemuda yang belum terpapar asas kepentingan, mempunyai peluang yang besar untuk berada di sisi manapun untuk berteriak. Maka peluang tersebut harus dimanfaat sedemikian rupa agar terciptanya kesetabilan antara kebutuhan masyarakat dengan perilaku pemerintah. Untuk kemajuan setiap daerah itu perlu sinergitas dari berbagai kalangan elemen masyarakat, tidak luput dari peran pemudanya sendiri. Jika pemuda selalu bungkam terhadap permasalahan dan apatis terhadap kondisi daerahnya maka kemajuan daerah tersebut akan lamban untuk berkembang, begitu juga dengan eleman masyarakat lainnya.

Dalam aspek social, pemuda juga bisa berkonstribusi dalam pemberdayaan masyarkat dengan mengedukasi mereka berkenaan dengan apa yang menjadi paham bidang pemudah tersebut. Juga dapat membuat paguyuban atau organisasi yang mengikat mereka untuk berperan lebih masif sebagai upaya kemajuan daerah. Dengan adanya kelompok masyarakat tersebut tentunya akan mempermudah sebuah gebrakan dan mengintegrasikan masyarakat yang selama ini masih terpecah-pecah sebagai individualis dalam masyarakat.

Masih banyak lagi sisi yang dapat disusupi oleh pemuda untuk andil dalam perubahan daerah yang mereka tinggali. Yang menjadi catatannya adalah kemauan dan niat dari pemuda itu sendiri terhadap seberapa besar atensi mereka mengenai lingkungan sekitar mereka. Jika selamanya pemuda menutup diri atas apa yang terjadi pada lingkunganya. Maka, kapan lagi pemuda tersebut dapat benar-benar berkonstribusi untuk daerah meraka, dan kapan lagi kemajuan daerah tersebut dapat berkembang?

Kasus Desa Tanjung Raya adalah teguran untuk pemuda bumi Saling Kruani Sangi Kerawati bahwa sudah lama mereka berdiam diri tanpa peka terhadap lingkungan. Tahun 2018 pemerintah desa tersebut tidak menyerap dana APBDes (REL 20/01). Padahal perihal tersebut dapat dirasakan langsung dan ditilik secara empiris oleh pemuda setempat. Melihat hal tersebut pemuda harusnya bersuara bagaimana satu tahun penuh daerah tersebut tidak ada pembangunan sama sakali.

Belum lagi kasus beberapa perusahaan yang belum merealisasikan dana pertanggung jawaban sosialnya, yang jelas diatur Pasal 1 Nomor 3 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT) atau Corporate Social Responsibility akronim dari CSRĀ  di Empat Lawang. Dan masih banyak lagi kasus yang harusnya tidak merugikan masyarakat jika pemudanya mengambil peran Kontrol Sosial. (*)

 

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait