BKKBN Sumsel Fokus Tekan Angka Kelahiran

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG, 05/3 /2020 | Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Selatan fokus menekan angka kelahiran bayi dari ibu usia subur (TFR) guna mendukung target penurunan laju pertumbuhan penduduk secara nasional.

Kepala Perwakilan BKKBN Sumsel Nopian Andusti di Palembang, Kamis, mengatakan, di wilayahnya itu telah mengalami penurunan angka TFR dari 2,8 (rata-rata bayi yang lahir dari ibu usia subur yakni dua orang hingga tiga orang) menjadi 2,3, tapi angka tersebut harus diturunkan lagi menjadi 2,1 agar target secara nasional dapat tercapai.

“Kami mengajak semua pihak terkait untuk bekerja sama, karena penurunan angka kelahiran ini tidak bisa dilakukan BKKBN sendiri tapi harus bersama-sama,” kata dia.

Ia mengatakan strategi yang akan dilaksanakan yakni BKKBN dan lembaga terkait akan mengoptimalkan 470 kampung KB yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumsel.

BACA JUGA  Menkumham RI Puji Kepemimpinan Gubernur Sumsel

Sejak 2018 Sumsel sudah menuntaskan pembentukan Kampung KB sehingga fokus kegiatan pada tahun berikutnya adalah mengoptimalkan program pemerintah.

“Pada 2017, pemerintah membentuk 227 kampung KB dan 2018 sebanyak 156 kampung KB, sehingga tahun 2019 sudah tuntas. Tinggal lagi memaksimalkan keberadaannya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dan sekaligus meningkatkan kualitas penduduk,” kata dia.

Selain itu, BKKBN Sumsel juga menargetkan dapat angka pernikahan dini karena berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) diketahui ada 36 kejadian per 1.0000 kelahiran telah menikah pada usia dini.

“Wanita yang menikah usia dini dari sisi kesehatan bisa saja subur secara biologis, akan tetapi belum matang sehingga rentan terkena kehamilan dengan komplikasi tinggi,” kata dia.

BACA JUGA  25 Ribu Peserta Bakal Ramaikan JSN 2019

Tak hanya itu, anak yang dilahirkan dari ibu yang menikah usia dini kerentanannya 1,5 kali bila dibandingkan dengan ibu yang berusia 20-30 tahun.

Bahkan dari sisi ekonomi, sangat berpengaruh karena bagaimana mungkin berpartisipasi dalam dunia kerja tetapi harus mengurus anak.

“Padahal ada yang namanya bonus demografi, dan syaratnya selain sumber daya manusia berkualitas juga harus ditunjang dengan partisipasi perempuan dalam dunia kerja,” kata dia.

Ia mengatakan, batasan usia pernikahan bervariasi, misalkan secara global 18 tahun, sementara dari sisi undang-undang perkawinan 16 tahun, akan tetapi idealnya adalah perempuan 21 tahun dan laki-laki 25 tahun.

“Upaya yang dilakukan untuk mencegah pernikahan pada usia dini adalah dengan menunda usia perkawinan serta program generasi berencana,” kata dia.

Teks/Editor : Antara/Asih

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait