KPAD Banyuasin Kunjungi Orang Tua Korban Kekerasan

SWARNANEWS.CO.ID, BANYUASIN | Memasuki 2020, kasus kekerasan pada anak di Indonesia jumlahnya tak menurun. Seiring ragam isu kekerasan pada anak yang mencuat di media, Presiden Joko Widodo angkat bicara. Mengingat kasus kekerasan pada anak didominasi kekerasan seksual.

“Dari beberapa jenis kekerasan yang dilaporkan, ternyata kekerasan seksual menempati posisi teratas diikuti kekerasan psikis mau pun fisik,” ujar Jokowi, dalam rapat terbatas ‘Penanganan Kasus Kekerasan Terhadap Anak’ di Istana Merdeka, seperti di kutip pada setneg.go.id, Kamis (9/01/2020 lalu.

Mengacu pada data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, angka kekerasan terhadap anak naik signifikan pada 2016. Itu pun baru mengacu pada sebagian kecil kasus yang berhasil dilaporkan dan ditangani pihak berwenang.

“Kasus kekerasan pada anak yang dilaporkan pada 2015 tercatat 1.975 dan meningkat menjadi 6.820 di 2016,” ucap Jokowi.

Dari angka tersebut, sebanyak 88,24 persen anak perempuan dan 70,68 persen anak laki-laki di Indonesia berusia 13 – 17 tahun mengalami kekerasan fisik.

Sedangkan untuk kategori kekerasan emosional, 96,22 persen anak perempuan dan 86,65 persen anak laki-laki di Indonesia pernah mengalami.
Laporan “Global Report 2017: Ending Violence in Childhood” mencatat 73,7 persen anak Indonesia berusia 1 – 14 tahun mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis di rumah sebagai upaya pendisiplinan (violent discipline).

Sementara itu, menurut data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pada 2019 ditemukan sebanyak 350 perkara kekerasan seksual pada anak.
Dengan kondisi tersebut, Presiden Jokowi di hadapan jajarannya menekankan tiga langkah prioritas untuk pangkas angka kekerasan pada anak di Indonesia. Pertama, upyaya preventif melibatkan keluarga, sekolah dan masyarakat. Mengingat, masyarakat pun wajib berpartisipasi mencegah kekerasan pada anak.

Menyikapi hal tersebut Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Banyuasin Mohamad Jamil, Martopo Yusuf, (Komisional evaluasi dan monitoring) dan Hengky (komisioner sosialisasi dan hukum), bergerak cepat menyambangi kediaman korban orang tua pelapor yang anaknya diduga menjadi korban kekerasan.

“Beberapa hari lalu kami mendapat laporan adanya dugaan anak yang menjadi korban kekerasan (pelecehan) anak di bawah umur. KPAD Banyuasin dalam hal ini menjumpai orang tua terduga korban guna menanyakan langsung kronologis kejadian sehingga mendapat info detil mempermudah nantinya proses pendampingan. Jelas Martopo Yusuf ketika di jumpai di ruang kerjanya, rabu (4/3/2020). Jl. Sekojo, Komplek perkantoran pemkab Banyuasin.

Hal ini sejalan dengan slogan Bupati Banyuasin daerah kabupaten rama anak dan zero kekerasan terhadap anak, serta selaras dengan program banyuasin Askolani dan wakil Bupati Slamet Somosentono, Banyuasin bangkit adil dan sejatera.

”Tentu mewujudkan hal tersebut butuh dukungan banyak pihak terutama masyarakat dan terkhus orang tua berperan aktif memperhatikan tumbuh kembang anak, serta jangan ragu menghubungi kami atau datang langsung ke kantor KPAD Banyuasin. Jika menemukan kejadian kekerasan terhadap anak, dan perlu di ketahui tergolong anak ialah usia 18 tahun kurang sehari itu masih dalam pengawasan KPAD,” timpal Pria biasa disapa topo.

Sejauh ini KPAD Banyuasin baru menerima empat laporan kekerasan terhadap anak. Dalam waktu dekat akan dilayangkan surat resmi ke Polres Banyuasin guna klarifikasi tindak lanjut dugaan kekerasan terhadap anak, Sinergi antar lembaga dan instasi menjadi indikator tewujudnya banyuasin zero kekerasan terhadap anak.

Semoga tugas mulia ini menjadi ladang amal dan mendapat ridho yang maha kuasa, inbuhnya seraya berucap, Aamiin. (*)

Teks: nasir
Editor: maya

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait