Mengagumi Nabi Muhammad SAW yang Punya Cita Rasa Sastra yang Tinggi

Nabi SAW memuji kata-kata yang indah dan bernas serta mendorong siapapun berkata baik

SWARNANEWS.CO.ID Allah melindungi Nabi Muhammad SAW dalam perbuatan dan tutur katanya. Allah juga menegaskan bahwa perkataan Rasulullah adalah semata wahyu dari Allahbukan menurut kemauan hawa nafsunya, bukan pula kata-kata syair. Meski demikian, Nabi Muhammad SAW memiliki cita rasa sastra yang tinggi. Nabi SAW disebut memiliki kepekaan dalam menangkap keindahan puisi.

loading...

Seperti dinukilkan dalam buku berjudul Pribadi Muhammad karya Dr Nizar Abazhah, Nabi SAW mendengarkan puisi di masjid dan memberi ijazah (izin) kepada sejumlah penyair. Seperti saat beliau menyimak Hassan ibn Tsabit membacakan puisi-puisinya.

Nabi SAW bersabda, “Ruh Kudus (Jibril) akan selalu meneguhkanmu selama yang kau embuskan adalah Allah dan Rasul-Nya.” (HR Muslim dari Aisyah).

Nabi SAW juga menyimak Ka’b ibn Zuhair mengalunkan kasidah yang dibuka dengan bait: “Begitu utama Su’ad. Hari ini hatiku mabuk kepayung. Terbelenggu, jejak luka tak tertebus.”

BACA JUGA  Kejutan Istighfar

Nabi Muhammad SAW memberi izin kepada Ka’b dan memberinya maaf setelah sekian lama memusuhi kaum Muslim dan menyerang mereka lewat puisi-puisinya. Selain itu, Nabi SAW juga menyambut al-Khansa’ dan memintanya membacakan kasidah.

Namun, suatu waktu ia pernah mendebat al-Nabighah al-Ju’di dalam kasidah yang bait pembukanya berbunyi: “Pejamkan sejenak. Bayangkan berhijrah. Walau itu telah dirampas waktu.”

Ketika sampai pada bait: “Kami telah menginjak langit. Kemuliaan kami, bahkan domba betina kami. Dan sungguh kami berharap lebih tinggi lagi.”

Nabi bertanya, “Ke mana, wahai Abu Laila?”

Dijawabnya, “Ke surga. Insya Allah.”

Ketika sampai pada bait: “Tak ada kebaikan bermurah hati.  Jika kejernihannya tak gegas dilindungi.”

Nabi SAW bersabda lagi, “Semoga Allah mengutuhkan gigimu.”

Benarlah, al-Nabighah hidup 130 tahun atau sekitar itu dengan gigi utuh.

Kendati demikian, Nabi Muhammad SAW tidak pernah bersyair walau sebaris pun. Sebab, Allah berfirman dalam surah Yasin ayat 69, yang berbunyi: “Dan Kami tidak mengajarkan syair (puisi) kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya.”

BACA JUGA  Islam Agama Terbesar Ketiga di Guyana

Dengan begitu, ucapan Muhammad terjaga dari peniruan dan tidak bercampur aduk dengan puisi. Sebagaimana Hasan ibn Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengambil ucapan Suhaim, budak bani al-Hashas, sebagai contoh. Beliau kemudian bersabda, “Cukuplah dengan Islam dan uban sebagai pencegah bagi seseorang.”

Kemudian, Abu Bakar berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, seandainya kau seorang penyair,kau akan mengatakan, ‘Cukuplah uban dan Islam sebagai pencegah bagi seseorang,’”

Namun, Abu Bakar kemudian berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah. Dia tidak mengajarimu puisi, dan memang tidak pantas untukmu.”

Meski demikian, Nabi SAW memuji kata-kata yang indah dan bernas serta mendorong siapa pun untuk berkata-kata dengan baik. Seperti sabdanya, “Kalimat paling tepat yang pernah diucapkan Labid: Ingatlah, segala selain Allah pasti batil.”

Teks: Rep

Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait