Hybride Pendidikan Nasional

Oleh: Husnil Kirom, M.Pd.
(Guru SMPN 1 Indralaya Utara)

 

SWARNANEWS.CO.ID | Perkembangan pendidikan nasional di Indonesia tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi setiap kurun waktu pergantian pemerintahan. Tantangan atau kendala pendidikan itu dimulai dari masa prakemerdekaan, misalnya kurangnya nasionalisme pelajar. Pada masa orde lama permasalahannya kekurangan orang terdidik mengisi jabatan pemerintahan. Lalu di masa orde baru, kendala pada pemerataan kualitas dan relevansi kurikulum dengan pasar kerja. Berikutnya masa reformasi kendalanya adalah alokasi dana penyelenggaraan pendidikan dan peningkatan mutu pendidikan nasional. Sementara tantangan pendidikan nasional yang sedang dihadapi bangsa kita saat ini adalah persoalan adaptasi (kemampuan menyesuaikan dan bertahan) dengan pembelajaran jarak jauh daring dari rumah yang dialami guru, siswa, dan orang tua. Bagaimana proyeksi pelaksanaan pendidikan nasional ke depan? Apa strategi Kemendikbud mengatasi tantangan pandemi Covid-19 menuju reformasi pendidikan nasional?

*Proyeksi BDR Hingga Akhir Tahun*
Mencerdaskan kehidupan bangsa yang termuat dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 bukan sebatas retorika belaka tetapi tujuan nyata bangsa Indonesia. Sejalan dengan itu, wajarlah jika pendidikan menjadi milik semua pihak, baik sekolah, orang tua, masyarakat, dan negara. Konsep dan pelaksanaan trilogi pendidikan diperlukan di masa sekarang agar tujuan pendidikan nasional tercapai dengan baik, terutama kerja sama yang baik antara guru, orang tua, dan masyarakat. Awalnya pembelajaran selama masa pandemi pilihannya adalah tidak belajar sama sekali atau belajar melalui online. Akhirnya opsi pembelajaran jarak jauh daring dilaksanakan dengan segala konsekuensi. Hamid Muhammad Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud saat Webinar Kamis (30/4/2020) menyampaikan bahwa Kemendikbud telah menyiapkan tiga proyeksi atau skenario pembelajaran daring siswa dalam menghadapi wabah virus korona yang masa berakhirnya belum pasti. tentu rasa optimis dan pesimis tersebut harus diikuti dengan proyeksi atau skenario yang tepat.

Proyeksi pertama adalah apabila penyebaran Covid-19 berakhir di bulan Juni 2020, maka seluruh siswa kembali akan masuk sekolah seperti biasa pada semester depan atau tahun ajaran baru pertengahan Juli. Proyeksi kedua, apabila Covid-19 selesai di akhir September, tentu siswa akan tetap belajar di rumah (BDR) sampai pertengahan atau setengah semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021. Proyeksi ketiga, apabila pandemi Covid-19 berakhir masih lama, maka siswa akan BDR pada semester ganjil tersebut sampai akhir tahun pelajaran.

Harapannya pandemi ini dapat segera berakhir. Jika masih berkepanjangan, maka guru diminta tetap mempersiapkan pembelajaran dari rumah. Guru boleh dan bebas memilih materi yang dianggap paling penting untuk diajarkan ke siswa bukan harus menuntaskan semua kurikulum yang diberlakukan di sekolah masing-masing. Hal ini untuk menjawab tantangan belajar yang dihadapi siswa, seperti tidak nyaman belajar di rumah, terlalu banyak tugas yang dikerjakan, jenuh tanpa interaksi dan komunikasi dengan guru, serta orang tua tidak dapat membimbing belajar anaknya secara efektif.

Begitupun dari sisi guru harus melek IT, cepat menyesuaikan dengan kecanggihan teknologi, serta dapat memecahkan kesulitan belajar siswanya. Momen Hardiknas Tahun 2020 ini menjadi refleksi, pelecut, dan prioritas bagi kita untuk mengembalikan pembelajaran daring yang menegangkan menjadi menyenangkan bagi guru dan siswa. Proyeksi program BDR perlu diselaraskan dengan kesiapan guru, sekolah, dinas pendidikan sebagai pelaksana. Selain itu, program tersebut perlu memperhatikan kebutuhan dan kemampuan siswa dan orang tua sebagai pengguna pendidikan, juga stakeholders seperti dunia kerja atau dunia usaha. Sehingga pendidikan nasional di masa mendatang dapat terlaksana dengan baik demi terwujudnya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia sebagai reformasi pendidikan nasional yang dicanangkan Mendikbud melalui Merdeka Belajar.

BACA JUGA  Lidig Tangkal Hoax

*Menuju Reformasi Pendidikan Nasional*
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Di dalam UU Nomor 20 tahun 2003 Pasal 3 disebutkan tujuan pendidikan nasional untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jelas tersurat dan tersirat dalam tujuan tersebut pendidikan kita ingin mencetak SDM Indonesia yang mantap keyakinan agamanya, memiliki _attitude_ yang lebih baik juga sopan santun, kuat atau gagah jiwa raga (sehat itu utama), memiliki kecerdasan dan keterampilan/kecakapan lainnya. Tujuan ini mengacu pada pemikiran tokoh sentral pendidikan di Indonesia, yakni Ki Hadjar Dewantara dengan slogan _Ingarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani_ . Demi menghargai jasa besar beliau sebagai peletak dasar dari pendidikan nasional di Indonesia, akhirnya pemerintah menetapkan 2 Mei bertepatan tanggal kelahiran sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sebagaimana pidato daring Mendikbud dalam Peringatan Hardiknas banyak hikmah dan pembelajaran yang bisa diterapkan saat ini dan setelahnya. Untuk pertama kalinya, guru-guru melakukan pembelajaran daring atau online, menggunakan tools atau perangkat baru, dan menyadari bahwa sebenarnya pembelajaran bisa terjadi di manapun. Orang tua, untuk pertama kalinya menyadari betapa sulitnya tugas guru. Betapa sulitnya tantangan untuk bisa mengajar anak secara efektif. Kemudian menimbulkan empati kepada guru yang tadinya mungkin belum ada. Guru, siswa, dan orang tua sekarang menyadari bahwa pendidikan itu bukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan di sekolah saja. Tetapi, pendidikan yang efektif itu membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga hal ini, guru, siswa, dan orang tua. Tanpa kolaborasi itu, pendidikan yang efektif tidak mungkin terjadi. Kita sebagai masyarakat juga belajar betapa pentingnya kesehatan. Betapa pentingnya kebersihan. Betapa pentingnya norma-norma kemanusiaan di dalam masyarakat kita. Timbulnya empati, timbulnya solidaritas di tengah masyarakat kita pada saat pandemi Covid-19 ini merupakan suatu pembelajaran yang harus kita kembangkan. Bukan hanya di masa krisis ini, tetapi juga di saat krisis ini telah berlalu. Belajar memang tidak selalu mudah, tetapi inilah saatnya kita berinovasi. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen. lnilah saatnya kita mendengarkan hati nurani dan belajar dari Covid-19. Agar kita menjadi masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan dengan selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta tetap belajar, bekerja, dan beribadah di rumah saja sampai batas waktu yang belum ditentukan.

BACA JUGA  Atasi Ekonomi Pesisir, Pengembangan Industri  Rumput Laut Perlu Dilakukan

Belajar daring menjadi keniscayaan untuk tetap dilaksanakan di masa pandemi ini, namun secara formalitas regulasi pembelajaran jarak jauh daring tidak dikeluarkan Kemendikbud. Hanya saja deregulasi dan dukungan bagi sekolah yang tetap memberlakukan pembelajaran daring meskipun wabah ini telah berakhir nantinya. Berbagai kendala dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh telah dirancang, salah satunya dengan melengkapi fasilitas sekolah. Paling tidak masalah konektivitas, akses internet, pembiayaan data, dan peralatan teknologi informasi komunikasi harus dilengkapi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Saatnya kita semua bahu membahu, bergotong royong, beradaptasi, meninggalkan “zona nyaman” dengan memperkuat otot adaftif dan inovatif. Tak kalah penting memperkuat resistensi dan imunitas kekuatan mental.

Sebagai _hybride_ atau jalan tengan pola pendidikan ke depan harus saling kerja sama guru, siswa, dan orang tua. Setidaknya ada 7 Tips Jitu bagi Pengajar dan Orang Tua menuju Reformasi Pendidikan Nasional yang diusulkan oleh Mendikbud. Adapun hybride pendidikan nasional ala Mas Menteri tersebut harapannya dapat terlaksana dan mencapai tujuan, yaitu: (1) Jangan Stres. Hal ini dikarenakan masa adaptasi pasti tidak mudah penuh dengan kebingungan dan ketidakpastian. Namun harus diyakini bahwa cara terbaik untuk belajar suatu hal baru adalah dengan keluar dari zona nyaman untuk memperbaiki diri. (2) Mencoba membagi kelas dengan kelompok belajar kecil. Hal ini menjadi eksperimen dan cara baru bagi guru sebagai inovasi pembelajaran yang menarik karena kemampuan siswa berbeda. (3) Mencoba Project Based Learning. Hal ini bukan berarti belajar atau proyek dilakukan sendiri, tetapi guru memberikan group project assigment yang menciptakan tantangan untuk berkolaborasi sembari mengukur tanggung jawab dan melatih empati siswa. (4) Mengatur Alokasi Waktu Perbaikan oleh Guru dan Orang Tua. Hal ini memberikan kesempatan lebih banyak bagi siswa yang tertinggal dan menimbulkan kepercayaan diri saat berkumpul dan belajar kembali.

Selanjutnya, (5) Fokus kepada Pembelajaran Terpenting. Hal ini memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih materi yang terpenting dan mendasar juga menekankan literasi, numerasi, dan penguatan pendidikan karakter. (6) Sering Nyontek Antar Guru. Hal ini dijadikan sebagai kerjasama antar rekan sejawat misalnya mencontoh best practice guru lain yang sudah canggih/mahir teknologi melalui webinar atau webmeeting sebagai ajang nimbrung digital . Terakhir, (7) Have Fun Study. Hal ini mengembalikan khittah bahwa mengajar tidak mudah tetapi tidak membosankan, meskipun masih dalam masa krisis harusnya kita mendengarkan insting sebagai guru dan orang tua.

Bukan hanya mengikuti proses yang seadanya. Layaknya juga siswa, inilah saatnya guru dan orang tua berinovasi dengan melakukan banyak tanya, banyak coba, banyak karya, dan terus belajar hal-hal yang baru. Semoga menjadi jalan keluar yang tepat dan terbaik untuk semuanya, terutama guru, siswa, orang tua, dan pihak terkait.

Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait