Saatnya Mengusung Sistem Pendidikan Baru di Era New Normal

SWARNANEWS.CO.ID | Webinar ‘Tata Kelola Pendidikan Nasional dalam Bingkai New Normal Perspektif Kelokalan’ diselenggarakan IKA S3 MP UNJ Sumsel Sabtu (13/6) bakal mengubah peta pola pendidikan nasional kedepanya. Dengan sistem Pembelajaran di rumah era pandemi berjalan 3 bulan lalu cukup menyedot banyak perhatian guna dilakukan perubahan sistem baru pendidikan agar lebih efektif dan cocok digunakan di era New Normal kedepan.

Koordinator IKA S3 MP UNJ Sumsel Dr.H.Syarwani Ahmad,MM ,didampingi
para tokoh nasional sekaligus pembicara Prof.Dr. Nadiroh, M.Pd Direktur Pascasarjana UNJ. Dr. H.Marzuki Alie , SE,MM, Ketua DPR-RI priode 2009-2014 sekaligus rektor UIGM Palembang.Juga
Drs. Riza Fahlevi, MM , Kepala Dinas Pendidikan Prov.Sumsel. Turut Hadi Arniza Nilawati, Anggota DPD RI, 2019-2024, yang juga sebagai Dosen Univ. Muhammadiyah Palembang. Dr. Dedy Apriadi, ST, MPd, Ketua Umum Alumni S3 MP UNJ dan Ibu Dr. Nilam Suri , Wk.Ketua Umum IKA S3 MP-UNJ. Dipandu Dr. Afri Antoni selalu moderator terungkap bahwa era pandemi menyisakan banyak PR bagi semua pihak ikut memikirkan kedepan, tidak sedikit sistem pembelajaran selama pandemi bisa disimpulkan sementara tidak maksimal hasilnya dan butuh terobosan baru efektif menjangkau hingga pelosok semua berkualitas.

Dr. Nilam Suri Wakil Ketua IKA S3 MP UNJ

Tidak saja IKA S3 MP UNJ Sumsel melalui webinar ini berharap menemukan terobosan baru, tapi para pemerhati, pakar dan pemilik kebijakan pun sudah waktunya bangun dari tidur memikirkan anak bangsa masih bingung menyikapi pola pembelajaran era pandemi.

Acara dihadiri juga Dr. Dedy Apriadi, ST, MPd, Ketua Umum Ikatan Alumni S3-MP. UNJ Pusat, ini berharap banyak memajukan Manajemen Pendidikan di Negeri ini.

Dengan adanya cara baru untuk tetap survive di tengah meningkatnya korban pandemi COVID-19, yang dikenal dengan istilah New Normal, butuh pengorbanan luar biasa memikirkanya.

Era New Normal adalah suatu kebijakan untuk beraktifitas kembali baik kegiatan ekonomi, sosial, kegiatan publik secara terbatas dengan menggunakan standar kesehatan.

Sebelum pandemi kegiatan seperti itu tidak ada. Nah setelah New Normal semuanya harus baru, termasuk sistem harus diupdate.

New Normal merupakan istilah baru dalam rangka menyelamatkan kehidupan warga, agar tetap menjaga keselamatan dari pandemi copid-19, dan berfungsi seperti sedia kala.

Dengan demikian roda perekonomian tetap berjalan, masyarakat tetap beraktifitas untuk mencari nafkah kehidupan sehari-hari.

New Normal merupakan langkah baru setelah kita lebih kurang 3 bulan lebih, (Maret s.d Mei 2020 ), berada di rumah bekerja dirumah (Work From home) dan melakukan pembatasan kehidupan sosial untuk mencegah penyebaran wabah virus corona.

Menghadapi tahun ajaran baru, Juli 2020. perlu diperhatikan adalah: Keamanan, Kesehatan, Keselamatan.

Arniza Nilawati

Hal senada juga disampaikan Iwan Syahri, Dirjen Dikgu dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud).

Ia menilai apabila suatu daerah aman, tapi sekolah tidak aman, maka sekolah dilarang melaksanakan pembelajaran yang mengumpulkan masa. .

Begitu juga kalau komunitas sekolah menyampaikan tidak aman, maka sekolah tidak perlu dibuka.

Ia menyebut saat ini daerah terbagi dalam beberapa kategori, zona merah, zona kuning, dan zona hijau.

Nah, apabila daerah itu masih terkelompok zona merah, maka kegiatan khususnya pembelajar masih dilakukan dirumah.

Para siswa dan guru tidak mungkin akan berjumpa tatap muka, karena penyebaran covid-19 tsb masih sangat rentan sekali. Tetapi jika daerah masih tergolong kuning maka peroses pembelajaran dilakukan guru perlu dipertimbang secara masak untuk pelaksanaan proses belajar dengan sistem daring, atau luring.

Dr. Marzuki Alie, MM

Jika daerah tersebut sudah tegolong daerah hijau maka proses belajar mengajar, dapat diselenggarakan sebagaimana biasanya dengan tatap muka, namun tetap menjaga dan melaksanakan protokol kesehatan.

Apabila hal itu masih terjadi terjadi, maka pembelajaran dilaksanakan dirumah baik secara sistem daring, luring (luar Jaringan) atau blended.

Oleh sebab itu tugas guru sebagai pendidik, pengajar, dan pelatih, perlu membuat inovasi yang relevan dengan kebutuhan belajar siswa.

Siswa harus difasilitasi untuk aktif belajar secara mandiri, bukan berpusat pada guru. Ini kesempatan bagi guru dan KS untuk membuat inovasi pendidikan yang relevan untuk kebutuhan belajar siswanya.

Di dalam pelaksanaan pendidikan dewasa ini, khususnya proses belajar mengajar di sekolah cukup terganggu, karena selama ini PBM dilakuan secara tatap muka, yaitu melakukan proses interaksi antara peserta didik dan pendidik pada suatu tempat lingkungan belajar dalam hal ini di sekolah yang kita kenal dengan istitah pembelajaran.

Pembelajaran, adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik pada suatu lingkungan belajar.

Jadi ada dua faktor yang sangat berperan aktif yakni pendidik/guru dan peserta didik/siswa, kemudian ditunjang oleh sarana & prasarana belajar yang digunakan dengan sistem daring ataupun luring.

Pada pembelajaran daring, pendidik dan peserta didik, pada waktu yang sama berada dalam aplikasi internet yang sama dan dapat berinteraksi satu sama lain.

Riza Pahlevi, Kadisdik Sumsel

Sedangkan pembelajaran dengan luring, guru melakukan pengunggahan materi melalui Web, mengirim lewat surat elektronik (email), atau mengunggah media sosial untuk kemudian diunduh oleh siswa.

Dalam cara luring, murid/siswa melakukan pembelajaran secara mandiri tanpa terikat dengan waktu dan tempat.

Disisi lain, e-learning secara singkron hanya dapat terjadi secara daring. E-learning di PT sudah banyak dilakukan, maka tidak dapat di pungkiri bahwa semua kampus PT sudah dapat melakukannya.

Namun apakah kualitas e-learning di PT dapat terpenuhi sesuai dengan dengan harapan ?
Banyak faktor yang memerlukan keterlibatan, dalam pembelajaran ini yang harus diperhatikan antara lain:

1. Keterampilan guru menggunakan dalam penggunaan internet. Apakah semua sekolah sudah memiliki jaringan Wifi yang kuat ?

2. Semua guru harus memiliki sarana belajar seperti laptob/komputer, dan apakah semua nya sudah terampil menggunakannya.

3. Di daerah pedesaan, pelosok-pelosok belum memiliki jaringan internet yang kuat, dan perangkat pembelajaran yang memadai .

4. Waktu belajar perlu disesuaikan kembali dengan sistem New Normal. Selama ini belajar siswa di sekolah mulai pukul 7.30 sampai pukul 14.00 bahkan ada yang sampai pukul 15.00.

Dengan perubahan sistem ini, harus dirubah dan diperhitungkan waktu pertemuan tersebut.

Jika perlu kelas dibagi dua sift, waktu belajar, atau dibagi berapa hari waktu tatap muka.

5. Kondisi kelas harus di desain sedemikian rupa sehingga jumlah siswa dalam satu kelas cukup 20 atau maksimum 25 org per rombongan belajar.

6. Sarana protokeler kesehatan harus disiapkan sedemikian rupa disetiap kelas seperti tempat cuci tangan, sabun, siswa harus pakai masker dan lain-lain, bahkan jika perlu keluar masuk siswa cukup satu pintu gerbang saja.

Pembelajaran terhadap siswa disekolah di era new normal ini siswa dan guru membutuhkan adaptasi menyesuaikan waktu belajar yang tersedia dan protokol kesehatan. Kalau sebelumnya guru dan siswa sudah terbiasa dalam pembelajaran tatap muka dan pada waktu pandemi covid-19 pembelajaran dilakukan dengan virtual, tapi di era New Normal ini harus menggabungkan methode pembelajaran tatap muka dan virtual.

Karena jam tatap muka tidak full seperti biasa, maka guru harus kreatif dan inovatif untuk memanfaatkan waktu tatap muka yang pendek tersebut. .

Guru perlu memilah-milah mana materi yang akan disampaikan dengan tatap muka, dan mana materi yang cukup disampaikan dengan sistem daring, luring atau Web.

Oleh sebab itu dalam pembelajaran di Era New Normal ini, membutuhkan komunikasi dan kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua siswa.

Perlu ada pengertian dan pemahaman bahkan pendampingan orang tua siswa, karena di era new normal ini tidak bisa di prediksi kapan menjadi normal seperti sedia kala. Hal ini harus dimaklumi dengan kegiatan pembelajaran dengan sistem daring, dan luring ini memerlukan biaya yang cukup berat bagi guru, sekolah, dan orang tua.

Dengan adanya pandemi Covid-19 ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua dibidang pendidikan, guru dan siswa dituntut untuk membiasakan diri menggunakan teknologi komunikasi, dalam hal ini mudah-mudahan menggunakan sistem daring cepat berkembang.

Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan SDM yang mampu adaptif dalam era new normal. Kemudian pembelajaran secara daring terkendala beberapa hal mulai dari arus listrik yang terbatas, sinyal internet yang terbatas, SDM Guru belum semuanya terbiasa menggunakan internet.

Kemudian wali murid yang beragam baik keadaan ekonomi maupun pendidikan. Termasuk siswa yang kemungkinan besar belum memiliki peralatan yang lengkap, paling paling dengan menggunakan HP yang sangat sederhana.

Dalam pelaksanaan pembelajaran New Normal ini perlu dimantapkan bagaimana sistem pembelajarannya, dimasing masing daerah yang memiliki zona merah, zona hijau ini. Karena zona hijau dapat berjalan seperti biasa, namun bagi zona merah perlu dirumuskan sistem pelaksanaan KBMnya.

Oleh sebab itulah pemerintah daerah, pemerintah Provinsi maupun pemerintah pusat harus segera turun memperhatikan kekurangan dan kelemahan, serta menentukan sistem pendidikan dalam pelaksanaan menyongsong new normal Covid-19. (*)

Teks/Editor : Asih

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait