Tingkatkan Prestasi dan Tekan Kenakalan Murid, MTsN Lubuklinggau Dirikan Rumah Tahfiz

SWARNANEWS.CO.ID, LUBUKLINGGAU | Jumat, (17/7/2020), untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus membina akhlak peserta didiknya Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kota Lubuklinggau, Hedi Herdiana, S.Pd, M.Pd, mendirikan Rumah Tahfiz At-Tazkir.

Ditemui di ruang kerjanya, Hedi demikian alumni jurusan ilmu Matematika Sekolah Tinggi Keguguran dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Lubuklinggau, biasa disapa menuturkan ramah seputar gagasan dan semangatnya mendirikan rumah tahfiz di lembaga pendidikan yang Ia pimpin saat ini.

Penyampaian Program Tahfizd Kepada Wali Siswa.

Diceritakan Hedi, awal mula pendirian rumah tahfiz sebagai tindak lanjut dari program Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sumatera Selatan.

“Awalnya ada program Kanwil Kemenag Sumsel pada tahun 2017 setiap madrasah harus mendirikan ruma tahfiz. Begitu perintah tersebut keluar MTsN Lubuklinggau langsung melaksanakannya. Lalu pada 2018 hingga pertengahan 2019 setiap madrasah di bawah kewenangan Kemenag harus mengirim utusan peserta didik sebanyak dua orang atau lebih pada setiap bulan untuk dikarantina selama satu bulan dalam program tahfiz di Palembang. Termasuk pula MTsN Lubuklinggau. Siswa atau siswi yang dikirim itu memiliki minat dan dasar hapalan Al-Qur’an”, tuturnya.

Tetapi pada angkatan ke enam program tahfiz di Palembang berjalan, Hedi menggagas pendirian rumah tahfiz di MTsN Lubuklinggau. Hal itu didasari adanya berbagai kendala seperti jarak tempuh antara Lubuklinggau dan Palembang cukup jauh, juga mempertimbangkan kendala biaya yang harus ditanggung pihak sekolah dan orang tua wali murid, maka Hedi bertekad mendirikan rumah tahfiz.

“Saya juga terinspirasi dan termotivasi sepanjang saya dan rekan guru sering mendampingi peserta didik mengikuti berbagai ajang perlombaan akademik, olahraga, seni, pramuka dan sebagainya. Ada perbedaan sikap dan adab anak didik yang ikut dalam program tahfiz. Mereka lebih santun dan prestasi akademiknya rata-rata baik bahkan lebih menonjol”, beber alumni pascasarjana IAIN Curup, Bengkulu meyakinkan.

Diketahui sebagai bukti keyakinannya terhadap program rumah tahfiz sangat efektif untuk peningkatan prestasi akademik sekaligus sebagai instrumen menekan kenakalan peserta didik, Hedi pun menempuh pendidikan formal pascasarjana dengan kajian tesisnya terkait persoalan program rumah tahfiz.

“Ya karya tesis pascasarjana saya judulnya Pengembangan Manajemen Pendidikan Madrasah Berbasis Tahfiz”, tambahnya.

Diakui Hedi penulisan dan pemilihan judul tesis tersebut erat kaitannya dengan program rumah tahfiz At_Tazkir yang didirikan dia dan rekan kerjanya di MTsN Lubuklinggau.

Hingga kini pasca berdirinya rumah tahfiz Atazkir MTsN Lubuklinggau sudah memasuki enam angkatan. Peserta didik yang mengikuti program tahfiz harus bermukim di rumah tahfiz selama satu bulan tanpa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) sebagaimana biasanya. Dan dikenakan biaya bimbingan Rp.1,4 juta.

Untuk meningkatkan target pencapaian peserta didik mengikuti program tahfiz, mulai tahun pelajaran 2019/2020, Hedi dan jajarannya menghapus pelajaran muatan lokal (mulok) bahasa Arab dan bahasa Inggris diganti dengan tahfiz.

“Itu juga saya buatkan syarat untuk anak didik, bagi peserta didik yang belum menuntaskan hapalan yang sudah diprogramkan dalam mulok tahfiz maka ditunda pembagian buku rapornya. Sampai anak murid benar-benar tuntaskan hapalannya”, tegas Hedi.

Kegiatan Penutupan Karantina Rumah Tahfiz At-Tazkir.

Informasi lain MTsN Lubuklinggau saat ini memiliki 32 rombongan belajar (rombel) kelas, dengan rerata jumlah peserta didik per kelas sebanyak 32 – 36 murid.

MTsN Lubuklinggau mengembangkan sekitar 11 kegiatan ekstra kurikuler seperti bidang seni, olahraga, pramuka dan sebagainya. Banyak torehan prestasi yang telah dicapai dari berbagai kegiatan ekstra kurikuler tersebut.

“Bahkan untuk program pendirian rumah tahfiz MTsN Lubuklinggau menjadi yang pertama di antara madrasah negeri yang ada di 17 kota dan kabupaten se-Sumatera Selatan”, tukasnya bangga.

Setiap tahun pelajaran sekolah ini selalu berbenah memperbaiki program, sarana dan prasarana untuk kelancaran proses KBM. Sehingga tidak heran jumlah peminat yang mendaftar ke MTsN Lubuklinggau selalu meningkat.

Informasi yang didapatkan media ini, pada TP 2020 ada 700 orang calon peserta didik yang terdaftar bersaing untuk masuk. Hanya 400-an murid saja yang berhasil lulus seleksi.

“Saya berharap selalu dukungan dari semua lingkungan sekolah, wali murid, komite, pemerintah daerah dan kemenag, untuk terus memajukan dan meningkatkan kualitas MTsN Lubuklinggau”, tutupnya.

Teks : Rehanudin Akil
Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait