Pertanian Agroekologi: Solusi Revitalisasi Pengembangan Pertanian di Lahan Gambut

SWARNANEWS.CO.ID | Praktik pemanfaatan sumberdaya alam yang cenderung eksploitatif dan semata mengejar finansialisasi atas sumberdaya alam, faktanya telah merusak keseimbangan alam, menurunkan daya dukung lahan dan produktivitas lahan itu sendiri. Kondisi ini mengakibatkan sumber-sumber penghidupan berkelanjutan ter-degradasi dan berdampak pada menurunnya pendapatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat setempat.

Kondisi di atas, akan makin beresiko- jika pemanfaatan lahan rentan seperti gambut. Tanpa melihat aspek-aspek ekologis gambut itu sendiri. Dalam catatan lapangan, kebakaran hebat pada tahun 2015 menjadi pelajaran kita bersama, bahwa gambut harus dijaga dan bahkan dibeberapa kawasan harus dipulihkan (di restorasi). Kehadiran Badan Restorasi Gambut (BRG) melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. Memiliki andil yang cukup signifikan dalam mengatasi persoalan gambut dengan pendekatan 3 R nya (Rewetting Revegetasi dan Revitalisasi). Hal ini ditandai dengan penurunan tingkat kebakaran sejak tahun 2015 sampai sekarang, revitalisasi sosial ekonomi melalui skema Desa Peduli Gambut (DPG) berangsur baik dan seseuai target, serta tumbuhnya vegetasi dilahan terbakar.

Restorasi Gambut Berjalan Baik

Menurut catatan BRG yang kami kutip, selama 4 tahun terakhir, BRG telah merestorasi 782.000 ha yang tersebar di 7 Propinsi yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Papua. dari total 2,67 ha wilayah pemulihan. Dimana kita ketahui 1,7 juta berada di area konsesi dah sekitar 890.000 ha di luar konsesi. Hal ini patut diapresiasi. Paket kegiatan rewetting telah mampu menurunkan Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) dari 0,4 m, hal ini terpantau dari 162 unit water logger yang dipasang, belum lagi kegiatan revegetasi yang dijalankan.

Praktik Agroekologi dan Sekolah Lapang

Di sisi lain, kegiatan yang terkait revitalisasi sumber penghidupan masyarakat melalui Bantuan Ekonomi Produktif (BEP) yang kami catat ada sekitar 730 paket berbasis usaha ekonomi atas lahan, air dan ternak. Dan yang lebih penting lagi praktik pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB) dalan skema agroekologi ternyata cukup mampu membangun kesadaran masyarakat gambut selain tentunya mengurangi kebakaran akibat praktik pembukaan lahan dengan cara bakar yang selam ini dijalankan. Indikator kesadaran masyarakat menerapkan praktik agroekologi ini adalah terbangunnya mini demplot di Desa Peduli Gambut (DPG) berjumlah 265 buah yang diimplementasikan oleh para kader Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) berjumlah 799 buah.

Kader sekolah lapang yang berasal dari komunitas lokal ini menjadi penting, karena sekolah laoang menempatkan para petani sebagai subjek dalam kegiatan restorasi dan lahan gambut sebagai realitas lapangan yang harus dihadapi dengan pengetahuan dan kreativitas yang ramah lingkungan. Tanpa itu semua kegiatan restorasi gambut di atas, tidak akan berjalan dengan baik.

Pada akhirnya, INAgri (Institut Agroekologi Indonesia) memandang bahwa kegiatan pemulihan atau restorasi gambut perlu dilanjutkan, dengan apa yang selama ini Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia (BRG-RI) telah kerjakan. Sebab sumberdaya alam gambut faktanya merupakan lahan rentan yang harus dilestarikan dengan kompleksitas yang dimilikinya. Selamat melestarikan gambut untuk anak cucu kita.

Oleh : Syahroni Yunus
(Direktur INAgri dan Pengajar Sekolah Lapang Petani)*
Editor: Sarono PS

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait