Refleksi Sejarah Bulan Muharram

Oleh : Albukhori, S.Ag

 

SWARNANEWS.CO.ID | Tanpa terasa kita telah berada di bulan Muharram. Sebuah bulan yang merupakan awal dari penanggalan Islam. Ialah bulan yang jatuh sebelum bulan Safar dan muncul setelah bulan Dzulhijah. Tidak kalah penting, dialah bulan yang dimuliakan keberadaannya oleh Allah Swt.

Bulan Muharram berarti tahun baru dalam Islam. Berbeda dengan tahun baru Masehi, tahun baru Islam (tahun baru Hijriyah) tidak sesemarak tahun baru Masehi. Dalam menyongsong kehadiran tahun baru Masehi banyak manusia sibuk mengatur diri, mengikat janjidengan teman, kerabat ataupun sanak famili. Bahkan bila tahun baru itu tiba, mereka menyambutnya dengan suka cita. Bertumpah ruah dijantung-jantung kota seakan kedatangan tamu agung yang sebetulnya tidak layak diagungkan. Kedatangan tamu mulia yang sejatinya jauh dari kemuliaan.

Bagaimana dengan Tahun baru Hijriah?

Tentu amat kontras jika dibandingkan tahun baru Masehi. Kehadiran tahun baru yang jatuh pada bulan yang secara sah dimuliakan Allah ini hanya dimeriahkan segelintir orang. Bagi mereka yang dianugrahi kesadaran, akan memanfaatkan peralihan tahun tersebut dengan bermacam kegiatan positif. Ada diantara mereka yang menggelar istighasah (berdoa bersama mengharap pertolongan Allah Swt. terhadap segala sesuatu), bermuhasabah (introspeksi diri), atau melakukan hal paling sederhana seperti menggelar doa awal dan akhir tahun sebagaimana yang ditradisikan di beberapa mushalla dan pesantren.

Terlepas dari hal tersebut, ada satu hal yang biasa dilakukan oleh sosok panutan sejati, Rasululah Saw., saat Bulan Muharam tiba. Beliau Saw. melakukan puasa pada tanggal 10 Muharram atau biasa dikenal dengan istilah “puasa ‘Asyura”. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim bahwa Aisyah r.a. pernah ditanya tentang puasa ‘Asyura, ia menjawab, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. puasa pada suatu hari yang beliau betul-betul mengharapkan fadhilah (keutamaan) pada hari itu atas hari-hari lainnya, kecuali puasa pada hari ke-10  Muharam.”

Cikal bakal puasa ‘Asyura sendiri berawal dari aktivitas kaum Yahudi -mengikuti jejak Nabi Musa as.- yang berpuasa pasca selamatnya Nabi Musa as. dan kaumnya, serta ditenggelamkannya Fir’aun la’natullah ‘alaih oleh Allah swt.

Ketika Rasulullah Saw. tiba di Madinah, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra., Beliau Saw. melihat orang-orang Yahudi berpuasa. Rasulullah saw. bertanya, “Hari apa ini? Mengapa kalian berpuasa?” Mereka menjawab, “Ini hari yang agung, hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun. Maka Musa berpuasa sebagai tanda syukur, maka kami pun berpuasa.” Rasulullah saw. bersabda, “Kami orang Islam lebih berhak dan lebih utama untuk menghormati Nabi Musa daripada kalian.” (HR. Abu Daud).

Selain puasa ‘Asyura, Nabi Saw. juga menganjurkan agar umatnya melaksanakan puasa pada tanggal 9 Muharram, meskipun beliau sendiri belum sempat melakukannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah Saw. melakukan puasa ‘Asyura dan beliau memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. Para sahabat berkata, “Ini adalah hari yang dimuliakan orang Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tahun depan insya Allah kita juga akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram.” Namun, pada tahun berikutnya beliau telah wafat. (HR Muslim, Abu Daud).

Hikmah dari mensyariatkan puasa pada tanggal 9 Muharram, sebagaimana tertera dalam kitab I’anah At-Thalibin karya Syaikh Abu Bakar bin Sayyid Muhammad Syata ad-Dimyathi, ialah sebagai bentuk kehati-hatian, dikarenakan adanya salah perhitungan dalam menentukan awal bulan. Sebab boleh jadi, tanggal 9 tersebut ternyata tanggal 10 Muharam.

Selain itu, berpuasa tanggal 9 Muharram bisa menjadi pembeda dari apa yang diamalkan kaum Yahudi yang hanya melakukan puasa tanggal 10 Muharam. Hal ini merujuk dari apa yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Berpuasalah pada hari ‘Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi. Puasalah sehari sebelum ‘Asyura dan sehari sesudahnya.” (HR. Ahmad).

Waba’du, berkaca dari potret kehidupan Rasulullah saw. dan para sahabatnya dalam menghidupkan bulan Muharram, yang merupakan tahun baru Islam, marilah kita mencoba memulai tahun baru ini dengan bernostalgia bersama Sang Pencipta melalui jalur puasa. Dengan penuh harap semoga puasa tersebut bisa menjadi perantara penghapusan dosa-dosa setahun yang lalu sesuai dengan apa yang disabdakan Rasulullah Saw. melalui riwayat Imam Muslim Dari Abu Qatadah ra. tentang keutamaan puasa ‘Asyura. Selamat Tahun Baru Hijriah.

Wallahua’lam bi as-shawab.

Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait