IRG : Pragmatisme Masih Tinggi, Muratara Dambakan Pemimpin Jujur, Bersih dan Merakyat

SWARNANEWS.CO.ID, LUBUKLINGGAU | Hasil rilis perdana lembaga riset dan kajian Indonesia Riset Global (IRG), Minggu, 23/08/2020, memberikan berbagai catatan terkait pola masyarakat Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dalam menjatuhkan pilihannya terhadap bakal pasangan calon (bapaslon) Bupati dan Wakil Bupati untuk Pilkada serentak, 09 Desember 2020 nanti.

Direktur Eksekutif IRG Mukhlis Muhammad Isa, M.I. Kom didampingi Direktur Harian IRG Wawan Sopian, M.I. Kom, Peneliti Indah Nurjana, M.I. Kom dan Operator IT Bayu S.P, bertempat di Aula Kampus B Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIS) Lubuklinggau, menyampaikan rilis hasil riset dan kajian lembaga independent IRG.

Direktur Harian IRG, Wawan Sopian, M.I. Kom saat menyampaikan hasil kajian dan riset Pilkada Muratara di Aula Kampus B STAIS Lubuklinggau, Minggu, 23/08/2020.

Di hadapan puluhan awak media yang biasa meliput berita di kawasan Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Muratara (MLM), juga dihadiri perwakilan mahasiswa STAIS Lubuklinggau, Mukhlis menyampaikan bahwa Ia dan rekannya di lembaga riset dan kajian IRG mengutamakan proses kerja secara professional. Tidak berpihak kepada salah satu kontestan Pilkada Muratara tahun 2020.

“Sehingga apapun hasil riset dan kajian kami, baik yang kami lakukan di lapangan langsung maupun lewat sarana aplikasi media sosial yang ada. Maka hasilnya seperti rilis pada malam ini, kami sampaikan apa adanya sehingga dapat kami pertanggung jawabkan secara keilmuan dan kajian ilmiah”, papar Mukhlis.

Riset dan kajian IRG ini dilakukan selama rentang waktu satu bulan yaitu sejak 15 Juli 2020 hingga 15 Agustus 2020.

Dengan pokok kajian mensasar pada sembilan hal yang akan diketahuinya terkait sikap, pandangan dan kecenderungan dalam hal menjatuhkan pilihan pada ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Muratara pada 09 Desember 2020 nanti.

“Dengan adanya rilis hasil riset dan kajian IRG ini, bisa dimanfaatkan oleh para pihak yang sedang terlibat dalam proses politik praktis Pilbub dan Pilwabup di Kabupaten Muratara. Banyak hal yang bisa dipelajari dan dicermati, bisa saja bila dikerjakan secara detail dan tuntas sehingga bisa menentukan corak dinamika perpolitikan di Muratara. Sebab politik sangatlah dinamis dan masih ada jedah waktu selama tiga bulan untuk adu strategi guna memenangkan kontestasi politik di Bumi Beselang Serundingan”, papar calon mahasiswa S3 Universitas Sahid Jakarta yang kesehariannya sebagai dosen tetap di STAIS Lubuklinggau.

Pewarta media online Swarnanews.co.id, Rehanudin Akil (kiri) , saat menerima buku karya penulis muda Mukhlis Muhammad Isa, usai acara rilis hasil riset dan kajian IRG di Aula Kampus B STAIS Lubuklinggau, Minggu, 23/08/2020.

IRG sebuah lembaga riset dan kajian baru saja lahir dan berdiri dalam rangka memainkan peran di bidang kemajuan praktek berdemokrasi khususnya di Bumi Silampari (red : meliputi MLM). Lembaga ilmiah independent ini hadir merupakan inisiasi akademisi muda Mukhlis Muhammad Isa dan rekan. Institusi dengan tagline “Memulai Dengan Data” pada debut awalnya meriset dan mengkaji Pilkada Muratara dan Musi Rawas (Mura).

“Lantaran Muratara hanya ada tujuh kecamatan dibandingkan Mura memiliki 14 kecamatan. Selain itu dinamika politik pilkada di Muratara saat ini lebih tinggi suhunya dibandingkan saudara tuanya Kabupaten Mura. Makanya proses riset, kajian dan rilis untuk Pilkada Muratara bisa lebih cepat”, tambah Mukhlis.

Riset bertujuan untuk mengungkapkan beberapa hal antara lain :
1. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Bupati dan Wakil Bupati.
2. Popularitas pasangan bakal calon.
3. Akseptabilitas pasangan bakal calon
4. Elektabilitas pasangan bakal calon
5. Kecenderungan penggunaan media oleh masyarakat sebagai sumber informasi untuk mengetahui tentang bakal pasangan calon.
6. Pragmatisme pemilih pada Pilkada.
7. Waktu pemilih menetapkan pilihan final.
8. Tokoh yang dapat mempengaruhi pilihan
9. Masalah krusial yang harus segera diselesaikan Bupati-Wakil Bupati terpilih.

Wawan Sopyan saat paparan mengungkapkan bahwa jumlah responden dalam penelitian ini adalah 296 atau 0,002% dari jumlah daftar Pemilih Tetap Kabupaten Musi Rawas Utara pada Pileg 2019. Margin Of Error : 2,5 %

“Metode pengambilan sample menggunakan metode Multi Stage Random Sampling”, kata Wawan.

Dilihat dari latar belakang usia responden, IRG membaginya menjadi tiga yaitu Gen Z untuk usia 17-25 tahun sebanyak 20 persen. Kelompok Millennial dengan usia 26-36 tahun, kelompok ini mendominasi secara kuantitas yakni sebanyak 50 persen. Artinya jika para kontestan jeli dan pandai memainkan isu hingga merekrut pemilih muda maka berpotensi mendulang suara dari kelompok usia millennial ini. Lazimnya kaum milenial pastinya identik dengan fasilitas gawai mereka yang suka bersosmed. Sehingga asupan informasi termasuk berita mengenai Pilkada Muratara dapat mereka akses dengan baik melalui smart phonenya.

Lalu kelompok usia Gen X, yaitu umur antara 40-60 tahun, golongan usia ini mencapai 30 persen dari total responden yang diriset.

IRG juga meriset tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Bupati atau Wakil Bupati dalam sekup setiap kecamatan yang ada di Muratara. Jika diambil rata-rata antara puas dan tidak puas hampir berimbang. Hal itu dibuktikan dengan diagram angka ketidakpuasan secara keseluruhan dalam level Kabupaten Muratara sebesar 40 persen, masyarakat yang puas 43 persen dan yang menjawab biasa-biasa saja sejumlah 17 persen responden.

“Menariknya jumlah responden yang tidak puas terhadap kinerja Bupati atau Wakil Bupati di Kecamatan Rawas Ilir 48 persen dan Kecamatan Karang Dapo 47 persen. Setelah didalami angka ini mengkonfirmasikan bahwa di kawasan Kecamatan Rawas Ilir informasi yang berkembmag bahwa Devi Suhartoni dianggap sosok yang teraniaya dan terzolimi oleh rival politiknya Syarif. Sedangkan dalam kawasan Kecamatan Karang Dapo, banyak persoalan masyarakat terkait sengketa dengan pihak perusahaan tidak diselesaikan oleh pemerintah saat ini”, papar Wawan Sopyan.

Lalu untuk tingkat popularitas masih ada 20 persen responden yang mengaku tidak tahu dengan sosok Bapaslon Syarif-Surian, selebihnya 80 persen masyarakat mengenalnya.

Sementara Bapaslon Akis-Baikuni pada posisi 55 persen masyarakat Muratara kenal, selebihnya sebanyak 45 persen tidak tahu.

Sedangkan Bapaslon Devi-Inayah persis sebanding dengan Syarif-Surian yaitu 80 persen masyarakat kenal dan 20 persen tidak tahu.

Kemudian untuk akseptabilitas (sosok yang diterima) dan elektabilitas (tingkat keterpilihan) lagi-lagi sepanjang rentang waktu medio Juli hingga pertengahan Agustus 2020 Bapaslon Syarif-Surian (38 %) dan Devi-Inayah (36 %), sedangkan Akis-Baikuni (14%) selebihnya sebanyak 12 % responden memilih tidak satu pun diantara ketiganya.

Riset berikutnya adalah mengenai media sebagai sumber informasi mengenai pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati oleh masyarakat. Melalui Koran (5%), Baliho (40%), Radio (5%), Facebook (35%), Instagram (10%) dan sarana group whatsapp (5%).

Kemudian kapan waktunya warga Bumi Beselang Serundingan menetapkan pilihannya. Study IRG menemukan ternyata 50 persen masyarakat menetapkan pilihannya pada satu hari sebelum pelaksanaan Pilkada (H-1). Selebihnya H-3 (30%), H-7 (10%) dan jauh sebelum H-7 (10%).

Lalu apa saja yang menjadi pertimbangan warga Muratara dalam melakukan pilihan terhadap sosok calon Bupati dan Wakil Bupati. Ternyata masyarakat masih mendambahkan figur pemimpin yang jujur (30%), bersih dari tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme (20%) dan pemimpin yang merakyat (20%). Selebihnya karena visi-misi, berpengalaman dan berwibawa masing-masing (10%).

Menariknya meskipun mendambakan sosok pemimpin jujur, bersih dan merakyat ada yang kontradiktif. Ternyata tingkat pragmatisme masyarakat dalam kaitannya memilih sosok bupati dan wakil bupati masih sangat tinggi. Hal ini terkonfirmasi dari riset IRG yang melemparkan pertanyaan; jika ada tim sukses memberikan uang/barang untuk memilih salah satu pasangan calon, apakah akan diterima? Ternyata 70 persen menjawab ya. Selebihnya ada 20 persen secara tegas menolaknya dan 10 persen menjawab tidak tahu.

Dari riset IRG ini juga menunjukkan peran tokoh agama (Kyai/Ustadz), orang tua dan pemangku adat masih cukup tinggi dalam mempengaruhi pilihan.

Secara rinci peran tokoh atau pihak yang mempengaruhi pilihan. Kyai/Ustadz (20%), Orang Tua (20%), Pemangku Adat (15%), Kepala Desa (10%), Tokoh Perempuan (5%), Tokoh Pemuda (5%) dan tidak satu pun yang dapat mempengaruhi atau pemilih mandiri (25%).

Indonesia Riset Global melalui study dan kajiannya juga merinci permasalahan krusial yang harus segera diselesaikan oleh Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Antara lain; lapangan kerja (25%), keamanan (20%), kesehatan (15%), pendidikan (15%), infrastruktur (15%) dan pelayanan birokrasi (10%).

“Ternyata isu mengenai ketersediaan lapangan pekerjaan menjadi hal yang paling diharapkan warga. Sedangkan bidang kesehatan lebih kepada kualitas pelayanan dan biaya berobat”, tambah Mukhlis Muhammad Isa.

Dikatakan Mukhlis bahwa IRG masih akan melanjutkan riset dan akan merilisnya kembali pada waktu selanjutnya sampai menjelang perhelatan Pilkada baik untuk Muratara maupun Musi Rawas.

Acara rilis hasil riset dan kajian IRG juga ditutup dengan kegiatan pembagian buku berjudul Komunikasi Politik Di Arena Pilkada karya Mukhlis Muhammad Isa oleh penulisnya kepada sejumlah wartawan dan mahasiswa STAIS Lubuklinggau.

Teks : Rehanudin Akil
Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait