Waktu Sholat Fardhu

Oleh : Albukhori
(Penyuluh Agama Islam Kec. Megang Sakti Kabupaten Musi Rawas)

 

SWARNANEWS.CO.ID |Adapun Shalat yang difardlukan itu ada lima. Pada sebagian redaksi kitab lain menggunakan kata-kata : Shalat-shalat yang difardlukan ada lima, masing-masing dari lima tersebut harus dikerjakan pada awal waktu (tepat masuk sa’at waktu dimulainya shalat, hal mana keharusan mengerjakannya leluasa hingga sampai pada batas sisa waktu yang masih ada, yang sekira kuat untuk mengerjakan shalat (secepat mungkin). Maka, sewaktu dalam keadaan demikian, menjadi sempitlah waktu keharusan mengerjakannya (jadi ketika itu, shalatnya harus segera di kerjakan.

Shalat Dzuhur : Imam Nawawi berkata disebut shalat dzuhur, sebab shalat itu tampak terang (dikerjakan) pada tengah-tengah siang hari (siang bolong).

Adapun waktu mulainya shalat dzuhur ialah, sa’at bergesernya, yakni condongnya matahari dari tengah-tengahnya langit, bukan menurut dasar penglihatan mata pada kenyataan perkara yang sebenarnya, tetapi (hanya berdasar) pada apa yang kelihatan tampak bagi (mata) kita saja.

Dan Condongnya matahari dari tengah-tengah langit itu bisa diketahui (dengan melihat) pindahnya bayang-bayang ke arah timur, setelah bayang-bayang pendek itu mengecil surut habis, hal mana itu sebagai pertanda atas puncak kenaikannya.

Adapun akhir waktunya shalat dzuhur ialah, ketika bayang-bayang setiap sesuatu telah menjadi sama sepadan dengan sesuatu tersebut, hal mana bukan bayang-bayang sewaktu condongnya matahari.

Shalat Ashar : disebut Shalat Ashar sebab ia menyongsong datang waktu terbenamnya matahari. Adapun permulaan waktu Shalat ashar ialah bertambahnya bayang-bayang melebihi diatas bayang-bayang yang sepadan dengan benda (bayang-bayang suatu benda sudah melebihi panjang atau besarnya benda tersebut). Shalat Ashar itu mempunyai 5 (lima) Waktu:
Pertama : waktu yang utama, yakni mengerjakan shalat tepat pada awal waktu.

Kedua : waktu ikhtiar (longgar). Mushannif memberi petunjuk tentang waktu ikhtiar ini dengan ucapannya. Akhir batas waktu ikhtiar dalam shalat Ashar ialah ketika sudah mencapai dua kali besar bayang-bayang suatu benda.

Ketiga : Yaitu waktu yang masih dianggap boleh (ditolerir) mengerjakan shalat (waktu jawwaz). Mushannif memberikan petunjuk tentang waktu Jawwaz ini dengan ucapannya: “Waktu Jawwaz ialah, ketika sudah sampai datang waktu terbenam matahari”.

Keempat : yaitu waktu yang masih dianggap boleh mengerjakan shalat, tanpa ada hukum makruh. yakni waktu semenjak dari menjadinya bayang-bayang, dua kali sepadan daripada bendanya, ingga sampai ke sa’at keluarnya mega kuning.

Kelima : waktu haram mengerjakan shalat. yakni mengakhirkan waktu mengerjakan shalat hingga sampai pada sedikit sisa waktu yang tidak muat untuk digunakan mengerjakan shalat.

3. Shalat Maghrib. Disebut shalat maghrib sebab dikerjakannya shalat maghrib itu adalah sewaktu matahari terbenam.

Adapun waktunya shalat maghrib itu cuma satu : yaitu waktu terbenamnya matahari, yakni secara keseluruhan (sampai pada) bundar-bundarnya matahari. Dan tidaklah (terdapat konsekwensi hukum) apa-apa, masih berlangsungnya sorot sinar matahari, sesudah terbenamnya matahari.
(andaikan terjadi matahari masih memancarkan sinar, sehabis terbenam, maka tidak mempunyai konsekwensi hukum apa-apa).

4. Shalat Isya, dikasrahkan kata ‘ain, pada kata isya adalah sebuah nama bagi permulaan (munculnya) gelap malam. sedang shalat tadi disebut Isya, karena dikerjakannya sewaktu malam sedang gelap.

Permulaan awal waktu shalat Isya adalah ketika telah terbenamnya mega merah.
Adapun bagi Negara yang tidak mungkin mengalami terjadinya tenggelamnya mega (merah), maka waktu sa’at (dimulainya) shalat Isya bagi hak yang dimiliki oleh penduduk negeri tersebut, adalah sehabis tenggelamnya matahari, sa’at lewat masa, hal mana sedang tenggelam mega merah yang terdapat di negeri terdekat penduduk negeri tersebut di atas tadi. (jadi, sesudah tenggelamnya matahari, penduduk tersebut memperkirakan kira-kira sa’at kapan terjadinya tenggelam mega merah yang ada di negeri tetangga terdekat).

Pada shalat Isya terdapat dua waktu :
Pertama : Waktu ikhtiar (longgar) Mushannif : Akhir waktu shalat isya dalam waktu ikhtiar adalah berlangsung hingga sampai sa’at sepertiganya malam.

Kedua : waktu Jawwaz yaitu berlangsung hingga sampai ke sa’at terbitnya fajar Shadiq. Yaitu fajar yang tersebar luas cahaya fajarnya dalam keadaan melintang (antara arah selatan dan utara di bagian belahan langit sebelah timur) menuju ke arah atas langit.

5. Shalat Shubuh menurut tinjauan bahasa mempunyai arti permulaan siang hari dan disebutlah shalat itu dengan nama “Shubuh” karena dikerjakannya sewaktu tiba permulaan siang hari.

Pada shalat shubuh terdapat juga lima waktu, sebagaimana yang terdapat pada shalat ashar, sebagai berikut :
Pertama, waktu yang utama, yaitu awal masuk waktunya shalat shubuh.

Kedua, waktu ikhtiar. tentang waktu ikhtiar ini, mushannif menerangkan di dalam ucapannya :”Permulaan waktunya shalat shubuh itu semenjak munculnya fajar yang kedua (shadiq), sedang akhir waktu shalat shubuh di dalam waktu ikhtiar ialah, sampai pada sa’at (hari mulai) terang.

Ketiga, waktu Jawwaz. Mushannif memberi petunjuk tentang waktu jawwaz ini didalam ucapannya :”Akhir waktu shalat shubuh didalam waktu Jawwaz dengan disertai hukum Makruh, ialah hingga sampai mendekati sa’at terbitnya matahari.

Keempat : Waktu Jawwaz tanpa disertai hukum makruh. Yaitu masuknya waktu shubuh hingga sampai pada sa’at munculnya warna merah (dilangit sebelum terbitnya matahari).

Kelima : Waktu Haram. Yaitu mengakhirkan shalat, hingga sampai pada sisa waktu, yang tidak muat untuk mengerjakan shalat shubuh. Wallahu a’lam bishawab.

Teks/sumber : Albukhori /Sumber kitab Fathul Qorib
Editor : Sarono PS.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait