Suriyati dan Keluarga Tolak Mendiang Suaminya Divonis Covid-19

SWARNANEWS.CO.ID, EMPAT LAWANG | Senin, 07/09/2020, Peristiwa duka atas meninggalnya M. Danil (58), warga Dusun I, Desa Padang Titiran, Kecamatan Talang Padang, Kabupaten Empat Lawang, Provinsi Sumatera Selatan, pada 31/08/2020 lalu bakal berbuntut panjang, bahkan bakal mengarah masuk ke ranah hukum. Pasalnya pihak keluarga tidak terima status almarhum sebagai pasien yang terpapar virus Corona atau COVID-19 dari salah satu RS swasta yang ada di Lubuklinggau.

Untuk kepentingan informasi yang detail dan faktual awak media Swarnanews.co.id dan rekan wartawan dari media lainnya melakukan investigasi tentang apa yang melatarbelakangi penolakan para keluarga inti terhadap status positif Covid-19 mendiang M Danil.

Menempuh waktu perjalanan lebih dari dua jam dari Kota Lubuklinggau awak media menuju kediaman Suriyati (57) istri almarhum M Danil di Kabupaten Empat Lawang.

Menyusuri jalan berkelok, terjal karena melalui kawasan tepi sungai dan mengitari perbukitan akhirnya awak media berhasil menjumpai Suriyati berikut putra dan putrinya di Dusun I Desa Padang Titiran Kecamatan Talang Padang Kabupaten Empat Lawang.

Setiba di kediaman perempuan paruh baya yang baru saja ditinggal wafat suaminya itu, suasana rumah tampak ramai berkumpulnya keluarga dan tetangga untuk melaksanakan kegiatan doa dan takziah hari ke tujuh meninggalnya M.Danil.

Saat dibincangi wartawan Suryati didampingi kedua anak kandungnya Rupian Effendi (33) dan Yuni Sundari (26). Buah perkawinannya dengan mendiang M Danil, dikarunia tiga orang anak. Anak pertamanya anggota personil Polri bertugas di Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Anak keduanya seorang ASN di Kantor Kecamatan Talang Padang Kabupaten Empat Lawang sedangkan anak ketiganya alumni FKIP Matematika UNSRI seorang guru honorer.

Suryati menceritakan kronologis penyakit mendiang suaminya bahwa pada dasarnya Ia sekeluarga punya riwayat penyakit asma termasuk almarhum M Danil.

“Bermula pada Minggu, 30 Agustus 2020 sekira pukul 07:00 WIB, Pak Danil dibawah berobat ke RSUD Empat Lawang. Sekitar pukul 08.00 WIB dimasukkan ke ruangan IGD pada RSUD tersebut. Dan dilakukan tindakan medis antara lain dipasangkan oksigen dan dokter mengambil sampel untuk rapid test. Pada pukul 09.00 WIB hasil rapid test Bapak keluar dan dinyatakan non reaktif. Kemudian dilakukan pemeriksaan jantung dan sebagainya, dan alhamdulillah kondisi Bapak membaik. Sehingga akhirnya pada pukul 13.00 WIB atas permintaan Bapak sendiri, Ia minta dibawa kembali ke rumah lantaran merasa sudah sehat”, tutur Suriyati.

Namun selang beberapa waktu kemudian lanjut Suriyati, tepatnya pukul 15.30 WIB, almarhum M Danil mengalami kesulitan bernapas, sehingga Ia dan keluarga berinisiatif membawanya ke salah satu klinik di Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Empat Lawang. Setibanya di Klinik itu, Danil diberikan tindakan medis berupa pemberian oksigen dan Nebulizer serta obat lainnya.

Kemudian lanjut Suriyati, pada sekira pukul 18.00 WIB, seingatnya usai kumandang adzan Magrib, pihak klinik tersebut merujuk mendiang M.Danil ke salah satu Rumah Sakit swasta yang cukup bonafit di Kota Lubuklinggau.

“Alasan dokter yang ada di Klinik itu merujuk Bapak ke RS di Lubuklinggau lantaran pihak klinik masih nengalami keterbatasan peralatan medis yang canggih dan memadai. Berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan oleh pihak klinik, suami saya mengalami penyakit gangguan jantung. Sehingga atas anjuran dan rujukan dokter di klinik itu kami membawa almarhum Pak Danil ke salah satu Rumah Sakit swasta di Lubuklinggau”, ungkap Suriyati.

Masih kata Suriyati, sekira pukul 19.00 WIB, masih di hari yang sama yaitu 30/08/2020, Ia dan keluarga meluncur ke Kota Lubuklinggau menuju sebuah rumah sakit swasta sebagaimana dirujuk oleh dokter di Klinik tadi. Setibanya di rumah sakit yang dituju sekira pukul 21.45 WIB, mendiang M Danil dimasukkan ke ruangan IGD juga diberikan oksigen hingga pukul 01.00 WIB. Juga diberikan infus dan nebulizer oleh dokter dan tim medis.

“Salah seorang dokter RS Swasta di Lubuklinggau menyatakan, Pak M Danil diduga terpapar virus Covid-19. Dan seharusnya dirawat di ICU. Lantaran ruangan ICU sudah penuh. Dokter dan tim medis memutuskan suami saya dimasukkan ke ruang isolasi dengan terlebih dahulu melalui persetujuan keluarga,” kata Suriyati seraya menirukan perkataan seorang dokter yang bertugas pada RS Swasta di Kota Lubuklinggau.

Rupian Effendi melanjutkan penuturan Ibunya, sebelumnya telah disepakati antara pihak rumah sakit tempat ayahnya dirawat dengan pihak keluarganya, bahwa meskipun mendiang ayahnya dimasukkan ke ruangan isolasi tetapi ibunya (red: Suriyati) harus boleh selalu menemani.

“Sehingga dapat kami pastikan selama ayah dirawat di ruangan isolasi tidak sedetikpun Ibu meninggalkan pasien. Ibu selalu berada dekat dan bahkan memeluk Ayah”, kata Rupian.

Bahkan lanjut ASN di Kantor Kecamatan Talang Padang Kabupaten Empat Lawang ini, ibunya terus berada di samping ayahnya saat kritis dan menghembuskan napas terakhirnya.

“Ibu juga terus memandang dan mengawasi petugas rumah sakit swasta di Lubuklinggau saat prosesi kremasi, menshalatkan hingga memasukkan jenazah ke peti”, bincang Rupian dengan mata berkaca-kaca.

Yuni Sundari (26) anak bungsu dan putri semata wayang almarhum M Danil dan Suriyati juga menceritakan, bahwa ayahnya dinyatakan meninggal pada 31/08/2020 sekira pukul 05.05 WIB.

Selanjutnya jasad M Danil dikremasi oleh dua orang perawat atau tenaga medis di RS Swasta Lubuklinggau. Kemudian datang lagi tiga orang petugas medis dengan mengkonfirmasi kepada pihak keluarga bahwa prosesi kremasi jasad akan diberlakukan sesuai dengan protokol Covid-19. Dan prosesi kremasi selesai pukul 07.00 WIB.

“Kami pihak keluarga saat itu meminta untuk jasad Ayah dibawah dengan cara biasa dan dikebumikan dengan secara keluarga. Sebaliknya pihak RS bersih keras supaya jasad Ayah dibawah dengan protokol Covid”, kata Yuni Sundari dengan mimik sedih.

Dilanjutkan guru honorer alumni FKIP UNSRI Jurusan Ilmu Matematika ini, pada sekira pukul 08.00 WIB, Ibunya keluar dari ruang isolasi. Saat itu jasad Ayah sudah dibungkus dan diletakkan di dalam peti mati.

Lalu lanjutnya, pada sekira pukul 09.00 WIB, 31/08/2020, dengan persetujuan pihak RS jasad ayahnya boleh dibawah pulang pihak keluarga. Dengan kereta jenazah atau ambulance, salah seorang saudara dan ibunya saja boleh mendampingi jenazah ayahnya selama perjalanan pulang ke Empat Lawang.

Lalu sekira pukul 13.00 WIB di hari yang sama (31/08/2020), jasad M.Danil tiba di rumah duka dan disambut pihak keluarga serta warga Desa Padang Titiran yang menyaksikan prosesi pemakaman. Konon tanpa dihadiri unsur Dinas Kesehatan Kabupaten Empat Lawang.

“Prosesi pemakaman ayah juga dilakukan secara biasa tidak dengan protokol Covid-19. Karena Kami yakin mendiang ayah Kami tidaklah terpapar Covid-19 sebagaimana yang divonis oleh pihak RS swasta di Lubuklinggau itu”, tegas Yuni Sundari.

Pihak keluarga lain yang juga Koordinator Wilayah Sumatera LSM Generasi Muda Peduli Tanah Air (GEMPITA) Dahli Saptini mengaku mengikuti sejak awal dan banyak terlibat dalam mengurus persoalan mendiang M Danil. Terlebih lagi setelah vonis Covid-19 sebagai faktor kematian pada sosok ayah angkatnya itu.

“Terus terang selaku aktivis LSM GEMPITA maupun dalam posisi sebagai pihak keluarga saya mempertanyakan vonis covid-19 terhadap Ayah kami”, kata Dahli.

Masih kata Dahli, bahwa sepanjang proses perawatan di RS Swasta di Lubuklinggau tidak pernah ada tindakan rapid test, swab test terhadap ayah angkatnya itu. Sehingga bagaimana status terpapar covid-19 itu bisa dikenakan terhadap mendiang M Danil.

“Kami mendesak kepada rumah sakit yang berada di Lubuklinggau tempat dimana mendiang ayah kami dirawat agar melakukan klarifikasi secara transparan tentang proses penetapan status Covid-19 atas ayah kami”, tegasnya.

Masih kata Dahli, pihaknya mendesak kepada pihak RS tersebut untuk terbuka dan bertanggung jawab terhadap keputusannya menetapkan status Covid-19 atas mendiang M Danil.

Dengan menyandang atau meninggal dalam status terpapar Covid mengakibatkan pihak keluarga yang ditinggalkan mengalami keterisolasian sosial, dihindari dan dijauhkan oleh warga.

Faktanya seluruh keluarga inti yang memiliki tingkat intensitas interaksi sangat dekat dengan almarhum sudah dilakukan rapid dan swab test di RSUD Empat Lawang hasilnya negatif.

Berdasarkan hasil pemeriksaan dari Laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan bahwa orang atau keluarga inti yang memiliki riwayat kontak langsung dengan mendiang M Danil dinyatakan negatif Covid.

Sebut saja Bu Suriyati yang memeluk bahkan mencium mendiang M Danil saat jelang wafatnya di RS swasta Lubuklinggau. Kemudian anaknya Rupian Effendi dan Yuni Sundari juga demikian. Mereka semua sudah dilakukan pemeriksaan dan hasilnya negatif.

“Jika pihak rumah sakit yang kami maksudkan ini tidak segera melakukan tindakan sesuai dengan protap serta mekanisme yang ada maka kami berinisiatif untuk melawannya melalui jalur hukum”, tegas Dahli.

Sementara Sekretaris Desa Padang Titiran, Iwan Sastra Budi mengatakan dengan adanya status Covid-19 terhadap mendiang M Danil maka tidak saja keluarga almarhum yang ditinggalkan mengalami dampak negatif. Bahkan warga Desa Padang Titiran secara keseluruhan terkena dampaknya.

Misalnya lanjut Sekdes Iwan dari pihak desa tetangga menolak berinteraksi dengan warga Desa Padang Titiran. Bahkan untuk kepentingan berobat bagi warga desanya untuk saat ini mengalami kesulitan sebab banyak pihak menghindar untuk interaksi dengan masyarakatnya.

“Hal itu kami maklumi soalnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap virus Corona atau COVID-19 tidak sama. Sehingga digeneralisir saja. Karena Desa Padang Titiran menjadi zona merah dampak dari meninggalnya paman kami M Danil yang divonis terpapar Covid-19. Akibatnya kami semua dianggap pihak luar sebagai orang yang harus dihindari”, ungkap Sekdes Padang Titiran Iwan Sastra Budi.

Ia berharap kepada pihak berwenang untuk segera melakukan tindakan nyata dan akurat sehingga tidak membuat situasi yang menyulitkan bagi warganya. Jangan sampai terjadi gejolak tidak baik di masyarakat.

Rupian Effendi juga menambahkan saat ini bahkan ada warga yang tidak mau membuka jendela yang menghadap ke arah rumah orangtuanya lantaran takut tertular virus Corona lantaran ayahnya meninggal divonis terpapar Covid-19.

“Padahal saya, adik dan Ibu interaksi dekat sekali dengan mendiang ayah kami tetapi alhamdulillah hasil pemeriksaan rapid dan swab kami negatif. Kami berharap juga kepada warga terutama tetangga untuk tidak berlebihan menyikapi ini. Silakan waspada tetapi jangan berlebihan”, tutupnya.

Teks dan editor : Tim

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait