Pilkada 2020, Momentum Menatap Masa Depan Kabupaten Muratara

Oleh Sa’adillah Muqsit
Ketua Bidang Badko HMI Sumbagsel
Pemuda Asli Desa Biaro Baru

 

SWARNANEWS.CO.ID | Pada kesempatan kali ini saya ingin memulai tulisan ini dengan sebuah Hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda dalam satu hadits, “Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan padanya. Dan tidak beragama orang yang tidak bisa menepati janjinya. (HR Ahmad).

09 Desember 2020 yang akan datang merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), yang mana pada hari itu kita akan menggelar Pilkada yang ke dua kalinya.

Pesta demokrasi kali ini tentunya kita berharap siapapun yang terpilih nanti bisa memikul harapan-harapan masyarakat yang telah di letakkan di atas pundaknya. Tentunya apa yang diucapkan ketika mencalonkan diri sejalan dengan apa yang di kerjakan ketika Ia terpilih.

Seorang pemimpin, bagaimanapun besar kecil wilayah kepemimpinannya selalu mengemban peranan yang strategis. Hal ini dikarenakan pemimpin menjadi penentu kemana arah dan gerak organisasi yang dipimpinnya.

Memimpin sebuah bangsa tentu berbeda dengan memimpin sebuah perusahaan. Untuk memimpin sebuah daerah tentu tidak cukup dengan keterampilan manajerial semata. Karena memimpin sebuah daerah bukan hanya membangun jalan, jembatan atau gedung, tetapi lebih dari pada itu, yakni membangun peradaban manusia.

Kesalahan manajemen perusahaan paling resikonya mengalami kerugian materi kemudian karyawannya diPHK. Dalam hal ini memimpin perusahan bisa pindah, bergabung dengan perusahaan lain atau mencari investasi untuk mendirikan perusahaan baru.

Tentunya sangat berbeda dengan memimpin sebuah bangsa atau daerah, kesalahan dalam mengelolanya akan berakibat fatal. Bukan hanya merugi dari sisi material, tetapi kerusakan aqidah dan moral anak bangsa yang akan terus diwariskan dari generasi ke genarasi selanjutnya. Memperbaikinya tidak cukup satu atau dua tahun bahkan mungkin tidak cukup satu generasi. Jika kerugian yang diakibatkan hanya urusan dunia barangkali bisa dimaklumi, tapi ini menyangkut kerugian dunia dan akhirat. Karenanya tidak dapat diganti materi berapapun banyaknya.

Di usia yang sudah masuk 7 (tujuh) tahun ini Kabupaten Muratara mestinya mampu keluar dari bayang-bayang sebagai Kabupaten tertinggal, ada banyak pekerjaan rumah mesti diselesaiakan, mulai dari angka kemiskinan yang masih tinggi, pendidikan yang belum merata, akses kesehatan yang belum seluruh terjamin , pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia yang belum tepat.

Untuk menyelesaikan pekerjaan itu tentunya kita mesti niatkan dengan semangat kebersamaan. Kebersamaan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan segalanya, tapi kebersamaan tidak dapat ditukar dengan segalanya yang telah di miliki, sesuai dengan selogan Kabupaten Muratara Beselang Serundingan yang mempunyai makna gotong royong, kebersamaan, bahu membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul dalam suatu kegiatan, kesepakatan dalam suatu musyawarah yang besar dikecilkan, yang kecil dihilangkan untuk mencapai suatu kesepakatan. Tentunya tidak etis jika pemerintahan tidak dijalankan dengan rasa kebersamaan dan gotong royong.

Dalam menciptakan kebersamaan dalam pemerintahan dan masyarakat tentunya kita membutuhkan pemimpin yang memimpin dengan hati, memimpin dengan kapasitas dan pemimpin yang menginspirasi (Leading by Heart, Leading by Capacity dan Inspiring Leader). Memimpin tanpa cinta (hati) tidak akan bisa menciptakan kebersamaan (Solidarity Maker) untuk menggerakkan pemerintahan dan masyarakat dengan kapasitas yang di miliki setiap SDM yang ada sehingga Ia bisa menginspirasi banyak orang.

Dengan cinta dan kapasitas pemimpin bisa menggerakkan segala sumber daya yang ada sehingga Ia menginspirasikan banyak orang untuk mewujudkan mimpi/visi besar yang telah di canangkan.

Seorang pemimpin tentunya mesti memiliki imajinasi masa depan yang terus mendorongnya untuk maju. Tapi, visi yang hanya dilihat oleh pemimpin tidak cukup untuk menciptakan gerakan yang terorganisir untuk menciptakan perubahan dalam sebuah organisasi.

Mengurusi negeri tidak seperti mengurus benda mati yang diam, tidak juga seperti mengurus tumbuhan dan hewan. Negeri, disamping harus menunjukkan kemajuan pertumbuhan, juga harus sanggup tetap melaju mengikuti perkembangan secara kompleks. Sehingga mengurusi negeri atau pemerintahan perlu dihadirkan cinta dalam keseluruhan proses birokrasi, pendidikan dan kesehatan, baik di kantor, di rumah, di tengah masyarakat atau di ruang kelas. Karena sejatinya pemimpin adalah pelayan bagi siapapun juga bawahannya. Dan setiap kita adalah pemimpin dan pemimpin akan di minta pertanggung jawabannya. (H.R Bukhori).

Meski kini belum berakhirnya Pandemi Covid-19, akhir tahun 2020 ini Insya Allah Kabupaten Muratara tetap akan melaksanakan Pilkada untuk kedua kalinya. Tentunya tidak salah jika menitipkan harapan perubahan untuk Kabupaten Muratara, kendati demikian kita tetap berharap dan berdo’a kepada Allah S.W.T agar terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoiNya.

Editor: Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait