Desa Tanjung Laut Banyuasin Laksanakan RDS dan Pencegahan Stunting

SWARNANEWS.CO.ID, BANYUASIN | Guna penanganan dan pencegahan stunting di Desa Tanjung Laut, Banyuasin, Pemerintah desa mengadakan kegiatan Rumah Desa Sehat (RDS), Rembuk Stunting dalam rangka percepatan, Pencegahan dan Penanganan stunting terintegritas. Rembuk tersebut dibuka oleh Kepala Desa (Kades) Tanjung Laut, Samsul Bahri, bertempat di Kantor Desa setempat, Kamis (17/9/2020).

Hadir dalam acara tersebut tenaga ahli Kabupaten Banyuasin Rismarini, Pendamping Desa Kecamatan Suak Tapeh Baharudin, Pendamping lokal desa Yusuf, Bhabinsa, Bhabinkamtibmas, Anggota, BPD, para perangkat desa dan kader KPM.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh kembang anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Secara fisik, kondisi stunting dapat dilihat dari pertumbuhan tinggi badan per umur yang tidak sesuai dengan standar pertumbuhan yang seharusnya.

Akibat terburuknya adalah, perkembangan dan pertumbuhan otak anak sehingga kecerdasan anak tidak maksimal yang tentu saja akan menimbulkan masalah sosial. Juga bisa mempengaruhi masa depan serta produktifitas anak tersebut.

Kepala Desa Tanjung Laut Samsul Bahri, dalam sambutannya mengatakan, stunting oleh Pemerintah Kabupaten Banyuasin sangat digalakkan untuk pencegahannya. Bupati sendiri mewajibkan kepada semua desa untuk menganggarkan melalui Dana Desa 20 persen dalam rangka pencegahan stunting itu sendiri.

“Kita di Desa Tanjung Laut pasti akan menganggarkan itu. Dari dulu desa kita sering mensosialisasikan bagaimana pencegahan dini stunting kepada masyarakat melalui para Kader Posyandu yang ada di masing-masing dusun. Masyarakat kita sangat antusias dalam pencegahan stunting, ini terbukti dengan terbentuknya Rumah Desa Sehat (RDS) yang salah satu tujuannya adalah mencegah Stunting,” terang Kades.

Selanjutnya Kades berharap, stunting harus betul-betul bisa ditanggulangi. Terutama di Desa Tanjung Laut sendiri, untuk bisa menjadi desa yang bebas dengan masalah stunting kita harus mulai dari nol, Desa Kita sekarang menjadi desa ODF, Desa Siaga. “Dan Insya Allah menjadi desa yang bebas dengan masalah Stunting,” ungkap dia.

Banyak yang harus dibenahi kaitannya dengan penanganan masalah stunting, mulai dari kesehatan masyarakatnya, lingkungannya, ekonominya juga sangat berpengaruh. Dan itu semua harus betul-betul kita perhatikan.

“Masalah kemiskinan menjadi salah satu faktor adanya stunting, ekonomi keluarga sangat berpengaruh. Karena kemampuan untuk pembelian makanan bergizi, daya beli akan menjadi salah satu penyebab terjadinya masalah stunting pada suatu desa,” jelas dia.

Sementara itu, Tenaga Ahli PSDP Kabupaten Banyuasin, Rismarini, dalam penyampaiannya menyebutkan bahwa hasil Pendataan KPM dari 1000 Hari pertama Kehidupan (HPK) melihat pemantauan 5 paket layanan yang sudah dmasukan oleh KPM.

Dari lima paket layanan tersebut terang dia, yakni ibu hamil 20 orang, Anak 0 – 2 tahun sebanyak 26 orang. Tingkat konvergensi sudah baik yakni mencapai 93 persen. “Tapi ada pelayanan yang ke 5 yaitu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang perlu masih ditindak lanjuti tingkat kehadiran PAUD tersebut,” urai dia.

Diharapkan lanjut dia, hasil dari RDS (Rumah Desa Sehat) Rembuk Stunting ini, dapat direkomendasikan untuk memperbaiki benang merah, melalui Dana Desa (DD) Pemerintah Desa Tanjung Laut harus dimasukan di APBDes 2021.

Dirinya mengajak, mari kita kawal kegiatan ini sampai berakhir dan berharap pada tahun anggaran 2021 nanti dianggarkan pada APBDes. Ini adalah tugas dari tim penyusun anggaran. Stunting ini tetap pendanaannya sebanyak 20 persen dari Dana Desa.

“Dan itu bukan untuk masalah Stunting saja akan tetapi untuk masalah kesehatan lainnya. Stunting ini merupakan program Bupati Banyuasin yang wajib kita laksanakan jangan sampai anak kita terutama di Desa Tanjung Laut masuk dalam katagori anak Stunting,” tegas dia.

Lebih jauh dia menjelaskan, penyebab terjadinya stunting adalah faktor Internal dan faktor eksternal, faktor internal sendiri merupakan faktor genetika yang pengaruhnya kecil sekali, yakni di bawah 20 persen. Penyebabnya adalah asupan gizi kurang baik pada ibu hamil maupun pada balita itu sendiri. Mulai dari umur nol hingga 5 tahun atau 1000 hari kehidupan.

“Nah itu yang kita akan intervensi nantinya untuk kita cegah agar tidak terjadi masalah Stunting. Yang kedua yang berpengaruh adalah pola asuh, ini sangat besar pengaruhnya di mana kadang-kadang anak-anak kita tidak terpelihara dengan baik sering di titipkan pada keluarga yang lain, Asupan gizi akan sangat berpengaruh nantinya,” jelas dia.

Kemudian faktor eksternal yang sangat berpengaruh adalah lingkungan. Dalam hal ini adalah sanitasi, air bersih dan kebersihan lingkungan sekitar kita. Jika lingkungan tidak terjaga dengan baik maka sumber penyakit akan datang dari situ. Masalah kebersihan lingkungan menjadi salah satu yang sangat penting untuk di interfensi dalam pencegahan masalah stunting.
“Dalam penanggulangan masalah Stunting ini di Desa Tanjung Laut digalakkan lima hal yaitu, kesehatan ibu dan anak, konseling gizi terpadu, sanitasi dan air bersih, jaminan perlindungan
sosial dan terakhir Pendidikan Anak Usia Dini,”
tutupnya. (*)

Teks: nasir
Editor : Maya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait