Adab Sholat Jum’at

Oleh: Albukhori

SWARNANEWS.CO.ID | Ketahuilah bahwa Jum’at merupakan hari raya bagi orang-orang yang beriman. Ia merupakan hari mulia yang khusus diperuntukkan Allah bagi umat ini. Di dalamnya ada saat-saat penting yang apabila seorang mukmin meminta kebutuhannya kepada Allah SWT, pasti Allah akan mengabulkan.

Oleh karena itu, persiapkanlah diri untuk menghadapi hari raya tersebut semen­jak hari Kamis dengan cara membersihkan pakaian dan banyak bertasbih dan istighfar pada Kamis petang (sore)-nya, karena keutamaan saat itu sama dengan keutamaan hari Jumat.

Jika subuh telah tiba, mandilah dengan niat mandi Jumat karena mandi pada hari Jumat hukumnya sunah muakkad. Kemudian berhiaslah dengan memakai pakaian putih karena itulah pakaian yang paling dicintai Allah Swt, lalu pakailah parfum yang paling wangi yang kamu miliki, dan bersihkan badanmu dengan bercukur rambut, menggunting kuku, bersiwak, dan yang lainnya, kemudian segeralah bergegas menuju mesjid dan berjalanlah dengan perlahan dan tenang.

Nabi SAW bersabda, artinya : “Siapa yang pergi untuk salat Jumat di waktu yang pertama seakan-akan Ia telah berkurban unta, siapa yang pergi pada waktu kedua seakan-akan Ia berkurban sapi betina, siapa yang pergi diwaktu ketiga, seakan-akan Ia berkurban kambing kibas, siapa yang pergi di waktu ke empat seakan-akan Ia berkurban ayam, siapa yang pergi di waktu kelima seakan-akan Ia berkurban telur. Jika imam sudah keluar atau naik mimbar, maka lembaran-lembaran itu pun dilipat dan pena-pena diangkat, sementara para malaikat berkumpul di mimbar untuk mendengarkan zikir / peringatan”.

Disebutkan bahwa kedekatan manusia dalam pandangan Allah SWT, bergantung pada cepatnya mereka menuju salat Jumat.

Kemudian, apabila engkau berada di mesjid, usahakan untuk berada di shaf yang pertama. Jika manusia sudah banyak berkerumun, jangan melewati pundak mereka dan jangan pula lewat di hadapan mereka yang sedang salat. Duduklah dekat tembok agar mereka tidak lewat di depanmu.

Sebelum itu lakukanlah salat tahiyyatul masjid. Lebih baik lagi, kalau engkau salat sebanyak empat rakaat. Dalam setiap rakaat, setelah membaca surat al-Fatihah, engkau membaca surat al-Ikhlas sebanyak lima puluh kali.

Disebutkan dalam satu riwayat bahwa siapa yang melakukan amalan tersebut, Ia tidak akan meninggal dunia sampai melihat tempat duduknya di surga atau hal itu diperlihatkan padanya. Jangan sampai engkau meninggalkan salat tahiyyatul masjid walaupun imam sedang berkhotbah.

Disunahkan agar dalam empat rakaat itu engkau membaca surat al-An’am, surat al-Kahfi, surat Thaha, dan surat Yasin. Jika tidak mampu, engkau bisa membaca surat Yásin, surat ad-Dukhan’ , surat Alif Lam Mim, as-Sajadah dan surat al-Mulk.

Sebaiknya engkau membaca surat tersebut pada malam Jumat karena di dalamnya banyak sekali keutamaan. Siapa yang tak bisa, perbanyaklah membaca surat al-Ikhlas.
Perbanyaklah membaca salawat atas Rasulullah SAW. khususnya pada hari tersebut.

Manakala imam atau khatib sudah naik mimbar, berhentilah dari salat dan berbicara. Sibukkan dirimu dengan menjawab panggilan azan serta dengan mendengarkan khotbah dan ceramah. Sama sekali tak boleh berbicara ketika khatib sedang berkhotbah.

Dalam riwayat disebutkan, “Siapa yang berkata kepada temannya, `Diamlah” saat imam berkhotbah maka ia telah berbuat sia-sia. Dan siapa yang berbuat sia-sia, maka Ia tak mendapat keutamaan Jumat.”
Karena perintah diam itu sendiri berbentuk ucapan. Sebaiknya larangan diberikan dalam bentuk isyarat, bukan dengan kata-kata.
Lalu ikutilah perbuatan imam seperti telah disebutkan sebelumnya.

Apabila telah selesai, sebelum berbicara bacalah surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, surat al‑Falaq dan surat an-Naas, masing-masing tujuh kali. Itu akan melindungimu dari Jumat ke Jumat, juga akan menjagamu dari setan. Setelah itu, bacalah:
“Allahumma yaa ghaniyy yaa hamiid yaa Mubdii yaa mu’iid yaa rahiimi yaa waduud aghninii bihalalika ‘an haramika bi fadhlika ‘an ma’shiyatika wabifadhlika ‘amman siwaak.”

“Ya Allah wahai Zat Yang Mahakaya, Maha Terpuji, Maha Memulai, Maha Mengembalikan, Maha Penya­yang, dan Maha Pemberi. Berilah kecukupan padaku dengan yang halal bukan yang haram; dengan taat, bu­kan maksiat; dan dengan karunia-Mu, bukan selain-Mu.”
Setelah itu, lakukanlah salat dua rakaat atau enam rakaat yang dilakukan dengan dua-dua. Semua itu terdapat dalam riwayat yang berasal dari Rasulullah Saw. dalam kondisi yang berbeda-beda.

Perbanyaklah berdoa ketika matahari terbit, tergelincir, dan terbenam, ketika khatib naik mimbar, dan ketika orang-orang berdiri untuk menunaikan salat, karena kemungkinan besar itulah waktu-waktu yang mulia.

Berusahalah untuk bersedekah semampumu pada hari tersebut walaupun sedikit. Dengan demikian, engkau telah mengumpulkan antara salat, puasa, sedekah, membaca Alquran, zikir, dan iktikaf. Jadikan hari tersebut sebagai waktu yang khusus kau peruntukkan bagi akhiratmu ; barangkali Ia menjadi penebus dosa bagi hari-hari lainnya dalam seminggu.

Allahu a’lam bishshowab

Sumber : Kitab Bidayatul Hidayah
Editor : Sarono PS

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait