Menghindari Maksiat

Oleh : Albukhori, S.Ag

Agama Islam terdiri atas dua bagian: meninggalkan apa yang dilarang dan melakukan amal ketaatan. Meninggalkan apa yang dilarang jauh lebih sulit karena melakukan amal ketaatan dapat dilakukan setiap orang, sedangkan meninggalkan syahwat hanya bisa diwujudkan oleh mereka yang tergolong shiddiqun.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW. bersabda, “Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan keburukan, sedangkan orang yang berjihad adalah yang berjuang melawan hawa nafsunya”.

Ketika bermaksiat sesungguhnya melakukan maksiat tersebut dengan anggota badan, padahal Ia merupakan nikmat dan amanat Allah. Mempergunakan nikmat Allah dalam rangka bermaksiat kepada-Nya adalah puncak kekufuran. Dan berkhianat terhadap amanat yang dititipkan Allah betul-betul merupakan perbuatan yang melampaui batas.

Anggota badan adalah rakyat atau gembalaan Kita, maka perhatikan dengan baik bagaimana Kita menggembalakan mereka. Masing-masing Kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya.

Sadarlah bahwa semua anggota badan akan menjadi saksi atas pada hari kiamat dengan lidah yang fasih. Ia akan menyingkap rahasia di hadapan semua makhluk.

Allah Swt. berfirman, “Pada hari dimana lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas perbuatan yang kalian lakukan” (Q.S. an-Nur: 24).

Allah Swt berfirman, “Pada hari ini, Kami tutup mulut mereka sedangkan tangan mereka berbicara pada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan” (Q.S. Yasin: 65).

Oleh karena itu, peliharalah semua anggota badan dari maksiat, khususnya tujuh anggota badan Kita, karena neraka Jahannam memiliki tujuh pintu.

Masing-masing mereka mempunyai bagian tersendiri. Yang masuk ke dalam pintu-pintu neraka Jahannam itu adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah Swt. dengan tujuh anggota badan tersebut, yaitu mata, telinga, lidah, perut, kemaluan, tangan, dan kaki.

Mata diciptakan agar bisa memberi petunjuk di waktu gelap, agar bisa pergunakan pada saat diperlukan, agar dengannya bisa melihat semua keajaiban langit dan bumi, dan agar bisa mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Maka dari itu, peliharalah mata itu dari empat hal: melihat yang bukan mahram-nya, melihat gambar bagus dengar syahwat, melihat seorang muslim dengan pandangan meremehkan, serta melihat aib seorang muslim.

Adapun telinga, maka peliharalah ia agar tidak mendengar ghibah, perkataan keji, takut pada kebatilan, atau kejelekan orang.

Telinga tersebut diciptakan agar bisa mendengar kalam Allah Swt, sunah Rasulullah Saw, dan kata hikmah para wali serta agar bisa mempergunakannya untuk bisa menggapai surga yang penuh kenikmatan, kekal abadi di sisi Tuhan Penguasa alam semesta.

Jika mempergunakan telinga tersebut pada sesuatu yang dibenci ia akan menjadi beban atau musuh bagimu. Begitu pula ia akan berbalik arah dari yang seharusnya bisa mengantarkan menuju kesuksesan, menjadi mengantarkan menuju kehancuran. Ini benar-benar merupakan kerugian. Jangan mengira bahwa dosanya hanya dibebankan kepada si pembicara, sedangkan si pendengar terbebas dari dosa. Karena, dalam riwayat disebutkan, pendengar adalah sekutu bagi yang berbicara. Ia adalah salah satu pihak dari dua orang yang sedang bergibah (bergunjing).

Adapun lidah, maka ia diciptakan agar dengannya bisa banyak berzikir kepada Allah Swt, membaca Kitab Suci-Nya, memberi petunjuk kepada makhluk Allah lainnya, serta mengungkapkan kebutuhan agama dan dunia yang tersimpan dalam hati. Apabila mempergunakannya bukan pada tujuan yang telah digariskan berarti telah kufur terhadap nikmat Allah Swt.

Lidah merupakan anggota badan yang paling dominan. Tidaklah manusia diceburkan ke dalam api neraka melainkan sebagai akibat dari apa yang dilakukan oleh lidah. Maka peliharalah ia dengan semua kekuatan yang dimiliki agar ia tidak menjerumuskan­kita kedalam dasar neraka.

Dalam riwayat disebutkan bahwa ada seorang syahid yang terbunuh di dalam peperangan pada masa Rasulullah Saw. Lalu seseorang berkata, “Selamat baginya yang telah memperoleh surga!” Tapi Rasul Saw. kemudian bersabda, “Dari mana engkau tahu? Barangkali ia pernah mengatakan sesuatu yang tak berguna dan bakhil terhadap sesuatu yang takkan pernah mencukupinya.”

Adapun perut, maka jangan Diisi ia dengan barang haram atau syubhat. Berusahalah untuk mencari yang halal. Jika telah mendapatkan yang halal, berusahalah mengkonsumsinya tidak sampai kenyang.

Sebab, perut yang kenyang bisa membekukan hati, merusak akal, menghilangkan hafalan, memberatkan anggota badan untuk beribadah dan menuntut ilmu, memperkuat syahwat, serta membantu tentara setan.

Jika kenyang dari makanan halal merupakan awal segala keburukan, bagaimana jika dari yang haram?

Adapun kemaluan, peliharalah ia dari semua yang diharamkan Allah. Jadilah sebagaimana yang disebut­kan Allah Swt, “Mereka yang menjaga kemaluan mereka, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau sahaya yang mereka miliki, maka mereka tak dapat dicela” (Q.S. al-Mukminun: 5-6).

Kedua tangan, harus dipelihara agar ia tidak dijadikan alat untuk memukul seorang rnuslim, untuk mendapat harta haram, untuk menyakiti sesama makhluk, untuk berkhianat terhadap amanat dan titipan, serta untuk menuliskan sesuatu yang tak boleh diucapkan karena pena merupakan lidah pula.

Kedua kaki, Janganlah dipergunakan untuk menuju pintu seorang penguasa lalim. Sebab, berjalan menuju para penguasa lalim tanpa ada keperluan merupakan maksiat yang besar karena berarti Ia bersikap tawadu dan memuliakan mereka yang telah berbuat lalim.

Allah SWT telah memerintahkan kita untuk berpaling dari mereka dalam firman-Nya yang berbunyi, “Janganlah kalian condong kepada mereka yang telah berbuat lalim, niscaya kalian tersentuh api neraka dan kalian tidak mempunyai penolong selain Allah. Lalu kalian tidak ditolong” (QS. Hud: 113).

Jika engkau pergi menemui mereka untuk mendapat harta, berarti engkau berusaha meraih sesuatu yang haram.

Ringkasnya, ketika bergerak dan diam dengan anggota badanmu, itu semua merupakan nikmat Allah SWT. Maka dari itu, janganlah menggerakkan anggota badan dalam rangka maksiat kepada Allah.

Semoga bermanfaat.
Allahu a’lam bishshowab.

Teks : Rls
Editor. : Sarono PS

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait