Awas Waspada DBD, Pj Bupati Banyuasin Imbau Warga Terapkan PHBS

SWARNANEWS.CO.ID, BANYUASIN – Memasuki musim pancaroba, mengakibatkan bencana alam seperti banjir dan bencana lain. Banyaknya genangan air membuat berkembangnya jentik-jentik nyamuk.

Ini menjadi penyebab timbulnya penyakit Demam Berdarah Dengue atau DBD. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang hari

Menurut Heri Julianto, Ketua RT 11 RW 02 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, biasanya memasuki musim penghujan rentan sekali timbulnya penyakit DBD.

“Kami berharap kepada Bapak Pj Bupati Banyuasin untuk memerintahkan pihak terkait agar segera melakukan fogging untuk mencegah menyebar penyakit mematikan tersebut,” ungkap Heri.

Ia juga berharap, Dinas Kesehatan Banyuasin segera bergerak cepat, karena saat ini warga RT. 11 RW 02 telah resah akibat penyakit demam berdarah.

Berdasarkan keterangan salah satu warga, bahwa anak balita ada yang terjangkit Demam Berdarah hingga meninggal dunia.

“Anaknya Hen di Sukaraja Baru sudah terkena DBD. Jadi kami harap Dinas Kesehatan segera melakukan tindakan sebelum menyebar dan banyak lagi warga atau anak-anak yang terjangkit demam berdarah,” pinta warga.

Sementara itu, Pj Bupati Banyuasin H Hani Syopiar Rustam, SH melalui Kepala Dinas Kominfo SP DR H Salni Pajar, SAg, MHI mengimbau kepada masyarakat di Bumi Sedulang Setudung untuk mewaspadai ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue yang mengintai di saat musim penghujan.

Yakni, dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 

Tampungan air alami di barang bekas atau wadah yang bisa menampung air hujan di sekeliling tempat tinggal, menjadi tempat berkembang biak jentik nyamuk DBD.

“Jadi, PHBS menjadi salah satu antisipasi agar tubuh kita tetap sehat,” kata Kadiskominfo SP Banyuasin yang bergelar Doktor tersebut.

Ia juga mengharapkan agar Kadinkes Banyuasin untuk mengimbau Kepala Puskesmas wilayah masing-masing, untuk segera melakukan fooging.

“Kemudian mengajak masyarakat untuk melaksanakan gotong royong, membersihkan dari barang-batang yang bisa membuat tergenang air seperti ban bekas botol bekas, mengalirkan saluran yan tersumbat oleh sampah dan didampingi oleh ketua RT atau aparat desa atau kelurahan dan masyarakat, ujarnya.

Kemudian lanjut Salni Pajar, ia meminta masyarakat untuk mengoptimalkan kegiatan Pemberantas Sarang Nyamuk (PSN).

Dengan 3M plus, yakni Menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

Menutup rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya.

Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk yang menularkan demam berdarah.

“Selain itu, kita melakukan kegiatan pencegahan DBD, seperti menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah supaya tidak gelap dan lembab, menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain- lain,” ujarnya

“Dinas kesehatan, Dinas pendidikan dan dinas lain harus bekerja sama karena di jam-jam 9-11 pagi anak-anak sekolah masih di sekolah. Lalau sanitasi di sekolah buruk maka bukan tidak mungkin anak-anak sekolah terjangkit virus Dengue di sekolah marap menjadi perhatian semua pihak,” kata NR. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 komentar