Balap Liar, Potret Remaja Masa Kini

Oleh : Ummu Afifah
(Terapis Thibun Nabawi)

SWARNANEWS.CO.ID, PALEMBANG –
Kenakalan remaja marak terjadi. Salah satunya balap liar yang dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan eksistensi diri.

Sepertinya aksi balap liar adalah aksi gagah-gagahan yang dilakukan sejumlah anak muda yang ingin memperlihatkan eksistensi dirinya.

Kalau biasa kita katakan adalah saat remaja sedang mencari jati dirinya. Inginnya dicap keren dan hebat, tetapi maut bisa saja mengintai. Seperti balap liar berujung maut di seputaran Tanjung Senai Ogan Ilir, Sumsel yang menelan dua korban jiwa pada Minggu (17/12/2023) petang.

Dilansir dari tribunsumsel.com (18/12/2023), korban kecelakaan berinisial IR usia 15 tahun warga Desa Ulak Bedil, Kecamatan Indralaya. Satu orang korban tewas lainnya diketahui merupakan warga Palembang yang sengaja datang menonton balap liar di Indralaya.

Kronologi kecelakaan bermula saat ada arus sejumlah sepeda motor di Overpass Tol Indralaya-Prabumulih seputaran Tanjung Senai.

Remaja yang sebenarnya mempunyai potensi besar sebagai pemimpin masa depan akhirnya harus berhadapan dengan kematian. Meski masih duduk di bangku sekolah, tetapi mereka memiliki jaringan lingkungan pertemanan yang luas.

Inilah yang dikhawatirkan. Lingkungan pertemanan yang salah akan mempengaruhi mereka.

Rusaknya mereka juga disebabkan tidak mendapatkan bekal agama yang cukup dalam keluarga dan sekolah. Kurikulum pendidikan saat ini tidak menjadikan mereka memiliki kepribadian Islamiyyah.

Sekolah hanya sebagai tempat mereka belajar tanpa menjadikannya amal. Sekolah hanya rutinitas setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bahkan setiap tahunnya.

Seremonial ini malah membentuk mereka tidak mampu menjadi pemuda yang tangguh sebagaimana kita lihat bagaimana para pemuda di masa Rasulullah SAW. dan gambaran pemuda di Gaza.

Remaja kita sangat jauh dari sosok pemuda di masa peradaban Islam yang gemilang. Contoh beberapa pemuda tangguh di zaman Rasullullah Saw. sangat banyak, ada Ali bin Abi Thalib, Az Zubair bin Al Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Al Arqam bin Abil Arqam, Abdullah bin Masud, dan lain sebagainya.

Mengapa mereka mampu menjadi pemuda tangguh dan pejuang Islam? Alasannya, karena bentuk keimanan, bertahan, serta bertuhannya sangat kuat.

Saat ini pengaruh sistem sekularisme membuat para pemuda ahanya menjalankan ibadah ritual saja, dan memisahkan aturan kehidupan dengan syariat Islam. Sedangkan untuk aturan pergaulan, aktivitas di masyarakat remaja mengandalkan kebebasan.

Padahal sangat jelas Allah SWT. telah berfirman : “Wahai orang-orang beriman masuklah kalian kedalaman Islam secara kaffah.” (QS. Al Baqarah : 208).

Berdasarkan dalil di atas sangat jelas, bahwa Islam adalah akidah ruhiyah (kepercayaan dan menjalankan ibadah ritual), dan akidah siyyasiyyah (kepercayaan dan menjalankan aturan kehidupan).

Jadi, jelas Islam adalah sebuah agama yang mengatur hubungan manusia dengan Rabbnya, hubungan dengan dirinya sendiri, dan hubungan dengan sesama manusia lainnya.

Maka jika semua dapat diamalkan, akan terbentuklah karakter remaja yang saleh, hebat, dan tangguh.

Termasuk persoalan yang tengah terjadi saat terjadi korban balap liar hingga meninggalkan korban jiwa.

Tentunya banyak yang dirugikan, pihak pelaku balap liar, korban yang menonton, bahkan orang tua yang tidak paham dengan pergaulan anak-anaknya di luar. Maka, kita membutuhkan sebuah sistem yang mampu memberikan perlindungan terhadap jiwa, perlindungan akal. Semuanya diramu dalam satu keterpaduan yang sistematik.

Mulai dari pengurusan sistem pendidikan, sistem pergaulan di kalangan remaja, dan juga penegakkan sanksi yang memberikan efek jera.

Begitulah gambaran syariat Islam yang sempurna ketika diterapkan akan mampu memberikan peradaban yang gemilang dan mampu mencetak generasi tangguh. Generasi masa depan dan generasi penjaga negara dan umat. Wallahu’alam bishowwab. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 komentar