Belajar Al-Qur’an di Usia Tua: Sebuah Keniscayaan

Sebuah Catatan Pengingat Diri
Oleh: Supriadi (Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari Lubuklinggau

 

Saat ini penulis memasuki usia diatas empat puluh tahun, yang artinya sudah memasuki usia yang bisa dikategorikan tidak muda lagi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi online/daring (dalam jaringan) dengan alamat website https://kbbi.web.id/tua yang diakses pada hari selasa tanggal 15 Februari 2021 pukul 07.00, tua berarti sudah lama hidup; lanjut usia (tidak muda lagi).

Beberapa hari yang lalu penulis melihat konten video dengan judul Cara Melihat “Ketuaan” melalui gerak motorik jari tangan di alamat website https://www.youtube.com/watch?v=tf6DaqhIueE, kemudian penulis pun mempraktekan gerakan tangan sesuai dengan yang ada di video tersebut. Alhasil, ada bagian jari penulis yang sulit digerakkan dan menurut video tersebut penulis digolongkan termasuk tua.

Sebenarnya pengertian tua dan konten video yang penulis ceritakan bukan menjadi pokok pendapat yang hendak dituangkan dalam tulisan ini. Tetapi sebagai pengantar penulis ingin mengajak pembaca terlebih dahulu mengukur atau memprediksi apakah menurut pembaca, termasuk dalam golongan tua atau masih muda.

Konteks yang hendak penulis sampaikan adalah bagaimana ketika kita memasuki usia yang tidak muda lagi (tua) atau dalam proses menuju tua, kita mempersiapkan diri dalam rangka menjalani kehidupan di dunia untuk berbekal kelak menuju akherat (kehidupan sesudah hidup di dunia). Bagaimana kita dalam mempersiapkan bekal tersebut dengan belajar al-qur’an baik dalam hal baca tulis, maupun bagaimana memahami tafsir alqur’an itu sendiri.

Adalah benar jika kita pernah mendengar istilah “belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, sedangkan belajat di waktu dewasa / tua bagai mengukir di atas air’, tetapi jauh akan lebih baik kita menggunakan istilah “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Bukankah dalam tafsir Ibnu Katsir dituliskan bahwa imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah yang menceritakan bahwa permulaan wahyu yang disampaikan kepada Rasulullah Salallahualaihiwassalam berupa mimpi yang benar dalam tidurnya.

Dan beliau tidak sekali-kali melihat suatu mimpi, melainkan datangnya mimpi itu bagaikan sinar pagi hari. Kemudian dijadikan baginya suka menyendiri, dan beliau sering datang ke Gua Hira, lalu melakukan ibadah di dalamnya selama beberapa malam yang berbilang dan untuk itu beliau membawa perbekalan secukupnya. Kemudian beliau pulang ke rumah Khadijah (istrinya) dan mengambil bekal lagi untuk melakukan hal yang sama. Pada suatu hari ia dikejutkan dengan datangnya wahyu saat berada di Gua Hira. Malaikat pembawa wahyu masuk ke dalam gua menemuinya, lalu berkata, “Bacalah!” Rasulullah Saw. melanjutkan kisahnya, bahwa ia menjawabnya, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Maka malaikat itu memegangku dan mendekapku sehingga aku benar-benar kepayahan olehnya, setelah itu ia melepaskan diriku dan berkata lagi, “Bacalah!” Nabi Saw. menjawab,

“Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk kedua kalinya hingga benar-benar aku kepayahan, lalu melepaskan aku dan berkata, “Bacalah!” Aku menjawab, “Aku bukanlah orang yang pandai membaca.” Malaikat itu kembali mendekapku untuk ketiga kalinya hingga aku benar-benar kepayahan, lalu dia melepaskan aku dan berkata: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. (Al-‘Alaq: 1) sampai dengan firman-Nya: apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq: 5)

Maka setelah itu Nabi Salallahualaihiwassalam pulang dengan hati yang gemetar hingga masuk menemui Khadijah, lalu bersabda: «زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي» Selimutilah aku, selimutilah aku!

Maka mereka menyelimutinya hingga rasa takutnya lenyap. Lalu setelah rasa takutnya lenyap, Khadijah bertanya, “Mengapa engkau?” Maka Nabi Salallahualaihiwassalam menceritakan kepadanya kejadian yang baru dialaminya dan bersabda, “Sesungguhnya aku merasa takut terhadap (keselamatan) diriku.” Khadijah berkata, “Tidak demikian, bergembiralah engkau, maka demi Allah, Dia tidak akan mengecewakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka bersilaturahmi, benar dalam berbicara, suka menolong orang yang kesusahan, gemar menghormati tamu, dan membantu orang-orang yang tertimpa musibah.”

Kemudian Khadijah membawanya kepada Waraqah ibnu Naufal ibnu Asad ibnu Abdul Uzza ibnu Qusay. Waraqah adalah saudara sepupu Khadijah dari pihak ayahnya, dan dia adalah seorang yang telah masuk agama Nasrani di masa Jahiliah dan pandai menulis Arab, lalu ia menerjemahkan kitab Injil ke dalam bahasa Arab seperti apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, dan dia adalah seorang yang telah lanjut usia dan tuna netra. Khadijah bertanya, “Hai anak pamanku, dengarlah apa yang dikatakan oleh anak saudaramu ini.” Waraqah bertanya, “Hai anak saudaraku, apakah yang telah engkau lihat?” Maka Nabi Salallahualaihiwassalam menceritakan kepadanya apa yang telah dialami dan dilihatnya. Setelah itu Waraqah berkata, “Dialah Namus (Malaikat Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Aduhai, sekiranya diriku masih muda. Dan aduhai, sekiranya diriku masih hidup di saat kaummu mengusirmu.

“Rasulullah Salallahualaihiwassalam memotong pembicaraan, “Apakah benar mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya, tidak sekali-kali ada seseorang lelaki yang mendatangkan hal seperti apa yang engkau sampaikan, melainkan ia pasti dimusuhi. Dan jika aku dapat menjumpai harimu itu, maka aku akan menolongmu dengan pertolongan yang sekuat-kuatnya.” Tidak lama kemudian Waraqah wafat, dan wahyu pun terhenti untuk sementara waktu hingga Rasulullah Salallahualaihiwassalam merasa sangat sedih. Menurut berita yang sampai kepada kami, karena kesedihannya yang sangat, maka berulang kali ia mencoba untuk menjatuhkan dirinya dari puncak bukit yang tinggi. Akan tetapi, setiap kali beliau sampai di puncak bukit untuk menjatuhkan dirinya dari atasnya, maka Jibril menampakkan dirinya dan berkata kepadanya, “Hai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah utusan Allah yang sebenarnya,” maka tenanglah hati beliau karena berita itu, lalu kembali pulang ke rumah keluarganya. Dan manakala wahyu datang terlambat lagi, maka beliau berangkat untuk melakukan hal yang sama. Tetapi bila telah sampai di puncak bukit, kembali Malaikat Jibril menampakkan diri kepadanya dan mengatakan kepadanya hal yang sama. Hadis ini diketengahkan di dalam kitab Sahihain melalui Az-Zuhri.

Mula-mula wahyu Al-Qur’an yang diturunkan adalah ayat-ayat ini merupakan permulaan rahmat yang diturunkan oleh Allah karena kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya, dan merupakan nikmat yang mula-mula diberikan oleh Allah. Di dalam surat ini terkandung peringatan yang menggugah manusia kepada asal mula penciptaan manusia, yaitu dari ‘alaqah. Dan bahwa di antara kemurahan Allah Swt. ialah Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Hal ini berarti Allah telah memuliakan dan menghormati manusia dengan ilmu. Dan ilmu merupakan bobot tersendiri yang membedakan antara Abul Basyar (Adam) dengan malaikat. Ilmu itu adakalanya berada di hati, adakalanya berada di lisan, adakalanya pula berada di dalam tulisan tangan. Berarti ilmu itu mencakup tiga aspek, yaitu di hati, di lisan, dan di tulisan. Sedangkan yang di tulisan membuktikan adanya penguasaan pada kedua aspek lainnya, tetapi tidak sebaliknya. Karena itulah disebutkan dalam firman-Nya:
{اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ}
Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq: 3-5)
Di dalam sebuah asar disebutkan, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Dan masih disebutkan pula dalam asar, bahwa barang siapa yang mengamalkan ilmu yang dikuasainya, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Penulis memiliki beberapa pengalaman dalam mengajar baca qur’an untuk orang tua. Beberapa yang ikut belajar menjadi peserta adalah orang yang berusia tua, ada yang diatas empat puluh tahun, ada yang diatas lima puluh tahun, ada juga yang berusia dibawah tiga puluh tahun. Tentu saja aka nada perbedaan perlakuan dan perbedaan hasil dari proses pembelajaran al-qur’an tersebut.

Sebut saja pak A berusia sekira lima puluh tahun, yang baru dapat menyelesaikan membaca al-qur’an (khatam) selama lebih kurang tiga tahun. Begitu juga pak B yang usianya tidak jauh berbeda dengan pak A, menyelesaikan membaca al-qur’an (khatam) selama lebih kurang empat tahun. Ini baru dua contoh dengan sama-sama belajar membaca al-qur’an.

Setidaknya dalam belajar ada beberapa prinsip yang dapat kita gunakan, anatara lain; pertama Niat yang kuat. Niat yang kuat akan menjadi factor pendorong utama dalam rangkaian belajar alqur’an baik dalam hal membaca, menulis maupun memahaminya dan mengimplementasikannya. Bab niat dalam kitab Riyadhus Sholihin disampaikan pada Bab pertama dengan diawali Firman Allah Subhanallahu ta’ala dalam Qur’an Surat Al- Bayyinah ayat 5 yang artinya “Dan tidaklah mereka itu diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan tulus ikhlas menjalankan agama untuk NYA semata-mata, berdiri lurus dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang benar. Allah Subhanallahu ta’ala juga berfirman dalam QS. Al Hajj ayat 37 yang artinya” Sama sekali tidak akan sampai kepada Allah daging-daging dan darah-darah binatang Qurban itu, tetapi akan sampailah padaNYA ketaqwaan dan engkau sekalian”. Artinya niat yang ikhlas dengan ketulusan semata-mata karena Allah Subhanallahu ta’ala adalah kunci utama dalam berbuat / beramal.

Kedua; Bersegera dalam kebaikan. Bersegera maksudnya adalah mulai atau aksi saat ini juga. Meski baru belajar huruf Alif saja tetapi sudah dimulai. Kapan waktunya, yakni saat ini juga. Dimana?, dimana saja kita berada asalkan memperhatikan adab belajar. Meski dikatakan waktu yang paling baik untuk belajar adalah ketika kita masih muda atau awal-awal menjadi pemuda, waktu ketika sahur saat berpuasa atau atau saat waktu shalat tahajud serta waktu diantara magrib dan isya.

Ketiga; Bersungguh-sungguh dan istiqomah dalam belajar. Allah Subhanallahu ta’ala berfirman dalam QS. Al-Ankabut ayat 69 yang artinya “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh / berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan Sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik”.

Keempat; memelihara amal. Memelihara amal yang dimaksud dapat dengan cara mengulangi apa yang dibaca dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima; bergaul dengan orang yang sama-sama mau belajar. Suatu waktu, kita akan mengalami apa yang disebut “kebosanan”, ketika saat itu tiba maka kita akan lebih mudah membuangnya dengan cara melihat lingkungan di sekitar kita. Kita akan bisa saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan saling mengingatkan jika ada kekeliruan atau hal yang akan menurunkan semangat kita semua.

Demikian lima hal yang bisa dilakukan saat belajar Al-Qur’an di usia tua. Ingatlah selalu Firman Allah Subhanallahu ta’ala berfirman dalam QS. Al-Mujaadilah ayat 11 yang artinya “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Barakallah.

!-- Composite Start -->

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait